Jumlah Janda Wonosobo Terus Bertambah

57

RADARSEMARANG.ID,WONOSOBO– Pengadilan Agama Kabupaten Wonosobo mencatat, perceraian di Wonosobo sepanjang 2018 mencapai 2.298 kasus. Persoalan ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah masih menjadi alasan utama bagi masyarakat Wonosobo untuk berpisah dengan pasangannya.

Bagian Humas Pengadilan Agama Wonosobo Arif Mustaqim menyebutkan, angka penceraian di Wonosobo memang masih cukup tinggi. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, memang tercatat masih terdapat peningkatan perkara perceraian di Pengadilan Agama Wonosobo. “Pada 2017 perceraian ada 2.278 perkara dan pada 2018 perkara perceraian meningkat menjadi 2.298 kasus perceraian,” ungkapnya.

Dijelaskan faktor terkuat sampai saat ini yang melatarbelakangi tingginya kasus perceraian di Wonosobo, yakni ekonomi dan pendidikan masyarakat yang rendah. Menurut dia, dari data perkara perceraian yang masuk, baik perkara gugat cerai ataupun talak, yang masuk 2.298 kasus, pihaknya baru bisa menyelesaikan perkara sekitar 82 persen. “Jumlah sebanyak 2.298 perkara perceraian yang masuk tersebut, tidak semua kasus bisa diselesaikan. Karena memang ada yang sampai mediasi dan ada yang sudah kita panggil, ternyata banyak yang tergugat ghoib,” bebernya.

Sejumlah tergugat tidak berada di tempat, sehingga saat mendapat panggilan dari pihak pengadilan mereka tidak merespon. Baik mereka masih di luar negeri maupun di luar kota, namun belum bisa terdeteksi. “Ini tidak bisa ditindaklanjuti karena banyak tergugat atau termohon ada di luar negeri dan tidak tahun tempatnya di mana, atau pindah ke luar kota tetapi tidak diketahui tempatnya,” terang dia.

Selain mengenai kasus perceraian, pihaknya juga telah memberikan dispensasi nikah kepada calon pengantin di bawah umur sebanyak 139 kasus. Permohonan dispensasi tahun ini relatif menurun dari 2017 lalu yang mencapai sebanyak 155 kasus. “Solusi untuk menekan laju perceraian, perlunya penguatan pendidikan kekeluargaan bagi pasangan yang akan atau baru secara intensif dan serius melakukan pernikahan,” imbaunya. (cr1/lis)