HUT ke-46, Momentum untuk Instropeksi

55
Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bambang Wuryanto
Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bambang Wuryanto

RADARSEMARANG.ID, HUT ke-46 PDI Perjuangan, menjadi momentum untuk kembali melakukan introspeksi diri tentang sejauh mana fungsi partai benar-benar dijalankan. “PDI Perjuangan harus berbenah terus-menerus agar memenuhi aspirasi rakyat pemilih PDI Perjuangan dan sesuai garis ideologi,” kata Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bambang Wuryanto yang akrab disapa Bambang Pacul, di kantornya, kemarin.

Menurut Bambang, partai yang sehat adalah partai yang bisa menjalankan 7 fungsi kepartaian. Melalui ketujuh fungsi tersebut, akan terwujud demokrasi yang sehat. Tujuh fungsi itu, meliputi fungsi aspirasi, fungsi artikulasi, agregasi eksternal, dan internal. Juga fungsi rekrutmen kader atau anggota partai, fungsi edukasi, fungsi elektoral (Pemilu yang selama ini telah dilakukan partai) dan fungsi pendanaan.

Kebanyakan partai di Indonesia, belum maksimal dalam menjalankan ketujuh fungsi tersebut. Rata-rata partai baru menjalankan fungsi elektoral. “Karena itulah, PDI Perjuangan terus berupaya menjalankan seluruh fungsi, untuk bisa membangun bangsa dan negara ini. Sejauh ini, PDI Perjuangan telah menjalankan fungsi rekrutmen, electoral, dan edukasi. Sedangkan fungsi budgeting masih iuran,” tuturnya.

Diakuinya, fungsi budgeting tidak cukup mudah bagi semua partai. Idealnya, partai harus punya Rancangan Anggaran Belanja (RAB). Namun, karena anggaran untuk membesarkan partai politik masih iuran, maka tidak cukup mudah untuk menjalankan RAB tersebut. Saat ini lumayan ada bantuan untuk partai politik (Banpol). “Seharusnya, partai politik memiliki sumber dana besar dari hasil usaha. Ini masih menjadi PR,” katanya.

Sedangkan fungsi edukasi yang dijalankan PDI Perjuangan selama ini, kata alumnus Teknik Kimia Universitas Gajah Mada ini, dikaitkan dengan fungsi aspirasi, artikulasi, dan agregasi. Hal ini ditekankan pada kader PDI Perjuangan yang menjadi kepala daerah dan anggota legislatif di semua jenjang. “Muaranya adalah penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Sebab, kunci pengelolaan APBD ada pada ketiga fungsi tadi. Fungsi aspirasi, artikulasi, dan agregasi. Pemahaman APBD harus clear,” jelas alumni Universitas Prasetya Mulya Jakarta ini.

Terkait HUT ke-46 PDI Perjuangan, anggota Komisi VI DPR RI ini menjelaskan bahwa ada perjalanan sejarah yang tak boleh dilupakan. Zaman orde lama yang menggunakan prinsip massa mengambang atau floating mass, membuat partai tak bisa memiliki pengurus sampai kecamatan dan desa. Partai hanya mesin elektoral, agar trilogi pembangunan sukses, sehingga ketika itu ada tagline Ekonomi Yes Politik No.

Nah, di era reformasi, orang mudah membuat partai politik (Parpol), meski pemahaman politik masyarakat masih rendah. PDI Perjuangan sendiri, pada 1998, mulai menata diri. Semula PDI berubah menjadi PDI Perjuangan.

Apakah Jawa Tengah masih layak disebut kandang banteng, Bambang Pacul merinci dari berbagai sisi. Jika dikaitkan dengan fungsi elektoral, PDI Perjuangan telah direpresentasikan oleh jumlah anggota DPRD Jawa Tengah sebanyak 27 orang dari 100 anggota DPRD Jateng. Atau sekitar 30 persen pada hasil Pemilu 2014.