Kisah Nur Adina Choirina, Guru SMAN 1 Tuntang 2 Minggu Kunjungi Jepang

Belajar Upacara Minum Teh dan Bikin Kaligrafi Jepang

85

Setelah menentukan tema budaya yang dipilih, saat itu kelompok saya terdiri atas 4 orang mempunyai tema yang sama, yaitu budaya membuang sampah di Jepang. Selanjutnya kami bersama relawan (borantia) orang Jepang melakukan research kecil. Mengumpulkan data / barang – barang dan mewawancarai beberapa orang Jepang sebagai narasumber. Kemudian berbekal informasi yang sudah kami peroleh. Kami memikirkan alur pelajaran budaya Jepang seperti apa yang akan kita lakukan di kelas nanti. Kami merancang suatu pembelajaran budaya Jepang yang akan dilakukan oleh NP dan CP, kemudian melakukan simulasi pembelajaran.

Pada akhir pekan, hari Sabtu, tidak ada kegiatan belajar di kelas. Saya pun mengikuti kegiatan di luar kelas, yaitu mengunjungi kota metropolitan Tokyo. Di Tokyo, penulis mengunjungi 3 objek wisata, yaitu Edo Museum, Asakusa dan Sky Tree Tower. Mengunjungi Edo Museum menjadikan seolah-olah pengunjung dibawa kembali ke zaman Jepang kuno.

Asakusa adalah objek wisata yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Di dalam Asakusa terdapat Kuil Sensoji dan Gerbang Kaminarimon. Dari Gerbang Kaminarimon menuju Kuil Sensoji kita akan melewati jalan Nakamise (Nakamise Doori).

Sepanjang Jalan Nakamise berjajar banyak sekali toko suvenir dan kuliner khas Jepang. Kemudian penulis makan siang dengan menu tenpura di Halal Restoran, Restoran Sushi di Asakusa. Di Jepang saat ini sudah banyak berdiri restoran dan toko yang menyediakan makanan halal. Beruntung sekali pemilik restoran juga menyediakan tempat salat. Tempat terakhir yang saya kunjungi adalah Tokyo Sky Tree. Sky Tree Tower adalah tower tertinggi di Jepang, dan merupakan tower kedua tertinggi di dunia setelah Dubai Tower. Sky Tree Tower mempunyai ketinggian 645 meter. Pengunjung dapat naik ke atas tower pada ketinggian 350 meter menggunakan lift yang super cepat. Lift mampu berjalan dengan kecepatan 10 m/ detik.

Pada hari ke-10, saya menempuh perjalanan selama 1 jam 50 menit dengan pesawat menuju Oita. Di Oita, saya melakukan banyak hal seperti mengunjungi objek wisata pemandian air panas (onsen), melakukan kunjungan ke Asian Pasific University (APU) dan SMA Tsurumigaoka di Oita, serta homevisit ke rumah orang Jepang.
Sedangkan APU adalah salah satu universitas di Oita yang memakai dua bahasa dalam pembelajarannya, yaitu bahasa

Inggris dan Jepang. Mahasiswa APU berasal dari beberapa negara. Urutan negara asal mahasiswa APU mulai dari yang terbanyak Korea, berikutnya Vietnam, China dan Indonesia. Di universitas ini mempunyai agenda rutin, seperti multicurtural weeks, di mana secara bergantian diadakan Indonesian Week, Korean Week, Sri Lanka Week, Chineese Week, Indian Week, dan lain – lain.

Penulis berkesempatan kunjungan ke SMA Tsurumigaoka untuk melihat proses belajar-mengajar di sekolah tersebut. Sama halnya dengan sekolah di Indonesia, pembelajaran dilakukan di kelas, di laboratorium, di ruang seni, dan juga di lapangan olahraga. Kami juga diberikan kesempatan untuk berbincang – bincang dengan beberapa siswa SMA Tsurumigaoka. Penulis saling bertukar informasi tentang kondisi sekolah di Indonesia dan Jepang, hobi dan cita – cita mereka, budaya Indonesia dan Jepang, dan lain – lain.