Kisah Nur Adina Choirina, Guru SMAN 1 Tuntang 2 Minggu Kunjungi Jepang

Belajar Upacara Minum Teh dan Bikin Kaligrafi Jepang

86
PENGALAMAN BERHARGA: Nur Adina Choirina (paling kanan) menunjukkan kaligrafi Jepang atau shodo. (kanan) Penulis bersama borantia atau relawan.DOKUMEN PRIBADI
PENGALAMAN BERHARGA: Nur Adina Choirina (paling kanan) menunjukkan kaligrafi Jepang atau shodo. (kanan) Penulis bersama borantia atau relawan.DOKUMEN PRIBADI

Selama 2 pekan, sebanyak 25 guru Bahasa Jepang dari 7 provinsi mengikuti program Nihonggo Partner (NP) di Jepang. Para guru terpilih itu mengikuti program pelatihan bahasa dan budaya Jepang secara intensif. Salah satunya, Nur Adina Choirina, guru Bahasa Jepang SMA Negeri 1 Tuntang, Kabupaten Semarang. Berikut oleh-olehnya.

RADARSEMARANG.ID, “SENSEI (guru) apakah sudah pernah ke Jepang?” Itulah pertanyaan dari siswa yang pasti muncul saat kami memperkenalkan diri di kelas. Bisa belajar Bahasa Jepang dengan sensei di Jepang adalah impian semua guru bahasa Jepang di Indonesia. Jika sensei sudah pernah ke Jepang pastilah cerita yang disampaikan akan lebih menarik dan menjadikan motivasi siswa untuk dapat berprestasi seperti gurunya.

Beruntung sekali saya dan teman – teman guru bahasa Jepang lainnya mendapatkan kesempatan untuk belajar bahasa Jepang dengan orang Jepang di Jepang melalui program Nihonggo Partner. Program ini merupakan bagian dari proyek besar pemerintah Jepang, yakni wa project yang bertujuan untuk memajukan pertukaran budaya antar negara Asia dengan memusatkan pada negara-negara ASEAN.

Misi program Nihonggo Partner adalah mengirim warga Jepang sebagai tenaga native speaker bahasa Jepang ke berbagai lembaga pendidikan di negara-negara ASEAN untuk menjadi mitra guru bahasa Jepang dan siswa selama kurang dari 1 tahun.

Seorang NP berusia antara 20– 60tahun, dan berasal dari berbagai macam profesi atau riwayat pendidikan. NP bukanlah guru. NP bertugas sebagai asisten guru bahasa Jepang dan juga memperkenalkan budaya Jepang baik di dalam maupun di luar kelas.

Sejak 2014, pihak The Japan Foundation mengadakan seleksi bagi guru bahasa Jepang untuk dapat mengikuti pelatihan bahasa Jepang langsung ke negara Matahari Terbit itu selama 2 minggu. Setiap tahunnya terdapat 2 gelombang keberangkatan. Setiap gelombang mengirimkan 25 orang guru bahasa Jepang. Peserta pelatihan gelombang adalah guru bahasa Jepang SMA atau SMK yang sekolahnya mendapatkan NP. Beruntung sekali saya lolos seleksi program tersebut. Pelatihan berlangsung kurang lebih selama 2 minggu, bertempat di The Japan Foundation Japanese Language Institute Urawa, Jepang.

Selama pelatihan, saya belajar team teaching pelajaran bahasa dan team teaching pelajaran budaya Jepang. Belajar bahasa Jepang tidak akan terlepas dari belajar budaya Jepang juga. Pada saat team teaching pelajaran bahasa Jepang, saya mempelajari peran masing – masing NP dan CP, merancang suatu pembelajaran bahasa Jepang bersama NP dan CP (Counter Part), memikirkan peran apa yang harus dilakukan oleh masing – masing NP dan CP dalam pembelajaran, kemudian secara berkelompok kami melakukan simulasi pembelajaran (mogijugyou).

Pada saat team teaching pelajaran budaya Jepang, saya melakukan penelitian kecil tentang budaya Jepang apa yang akan kita ajarkan ke siswa. Mengajarkan budaya Jepang bukan hanya menyampaikan sejarah, arti, gambar, foto, cerita saja, tetapi budaya yang akan kita sampaikan ke siswa harus mengandung makna positif (messeji). Pada saat team teaching pelajaran budaya, saya memikirkan hal apa yang ingin diketahui tentang budaya Jepang? Saya mempunyai banyak ide/ hal yang ingin dipelajari seperti bagaimana budaya orang Jepang membuang sampah, bagaimana kondisi sekolah di Jepang, lalu lintas di Jepang, transportasi di Jepang, dan lain – lain.