Buang Rasa Minder, Bangga Bisa Buka Lapangan Pekerjaan

Didik Sugiyanto, Penyandang Disabilitas Sukses Buka Usaha Bengkel

267
INSPIRATIF: Didik Sugiyanto dan karyawannya saat menyervis motor milik pelanggannya di bengkel Jalan Simongan, Manyaran, Semarang Barat, Selasa (8/1). (AHSAN FAUZI/RADARSEMARANG.ID)
INSPIRATIF: Didik Sugiyanto dan karyawannya saat menyervis motor milik pelanggannya di bengkel Jalan Simongan, Manyaran, Semarang Barat, Selasa (8/1). (AHSAN FAUZI/RADARSEMARANG.ID)

Disabilitas bukan jadi hambatan untuk berkarya dan sukses. Setidaknya ini sudah dibuktikan oleh Didik Sugiyanto, 36. Penyandang disabilitas ini sukses membuka usaha jasa bengkel motor di Jalan Simongan, Manyaran, Semarang Barat.

AHSAN FAUZI

RADARSEMARANG.ID, SELASA (8/1) pagi, Didik Sugiyanto dibantu dua karyawannya, Abdul Muiz, 25, dan Yunan, 20, sibuk menservis motor di bengkel miliknya di Jalan Simongan No 102 Manyaran, Semarang Barat. Ia bekerja sambil duduk di kursi roda.

Di bengkel yang berdiri di atas lahan sekitar 5 x 5 meter persegi tersebut, Didik juga menerima servis mobil dan variasi (modifikasi).
Didik menceritakan, ia merintis usaha bengkel tersebut sejak akhir 2010 lalu. Di awal membuka bengkel, pria kelahiran 12 Juli 1983 ini menjalani sendiri dibantu sang istri. Seiring berjalannya waktu, dua tahun berjalan, bengkel mulai ramai. Ia lalu merekrut satu karyawan.

Semakin ke sini, bengkel tambah ramai kemudian menambah satu karyawan lagi. “Dua tahun berjalan, saya merekrut Abdul Muiz, tamatan kursus montir, kemudian merekrut Yunan alumnus SMK jurusan otomotif,” ungkapnya.

Ketua Sahabat Difabel Semarang ini menuturkan, menjadi penyandang disabilitas jangan hanya menunggu belas kasihan orang lain. Ia ingin membuktikan bahwa dengan kondisi fisik yang tak sempurna, namun tetap bisa berkarya.

“Saya ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa disabilitas bisa berkarya, berdaya, bisa mandiri dan bisa sukses. Alhamdulillah, hari ini saya tidak sekadar bekerja, namun bisa membuka lapangan pekerjaan,” ucapnya bangga.

Bapak satu anak ini juga meminta kepada teman-teman sesama difabel untuk tidak minder. Menurutnya, jika para difabel serius mau belajar, mau berusaha, dan mau kerja pasti bisa.

“Kalian (para difabel, Red) jangan pesimistis, kita harus optimistis, tunjukkan kita mampu dan bisa. Saya juga meminta masyarakat pada umumnya jangan memandang sebelah mata kaum difabel,” pinta pria yang juga Pengurus DPD KNPI Jawa Tengah periode 2018-2021 di bawah kepemimpinan Tino Idra Wardono ini.

Pria asal Desa Dermolo, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara ini menambahkan, sebelum membuka usaha bengkel, ia pernah jualan bensin eceran di Jepara, kemudian usaha ternak mentok, ternak itik petelur, dan membuka bengkel.

Awalnya, Didik membuka bengkel di rumah, dengan promosi lewat media sosial (medsos), pelanggan justru banyak dari luar kota (Semarang dan Solo).

“Sekadar mencontohkan, dari 10 pelanggan, 8 klien dari luar kota. Kemudian, saya ubah strategi dengan sistem jemput bola. Setelah saya jalani, ternyata waktu habis di jalan, lalu saya putuskan untuk hijrah ke Semarang (Buka bengkel di Semarang),” akunya.

Saat ini, omzet atau pendapatan Didik cukup lumayan. “Saat ramai, per bulan bisa dapat Rp 30 juta lebih. Namun, saat kondisi sepi, per bulan rata-rata Rp 15 juta,” bebernya.