Jenazah TKI Asal Wonosobo Tertahan 50 Hari di Arab Saudi

Tak Bisa Dipulangkan karena Terkendala Visa

120
BERDUKA: Jenazah Suratno saat akan dimakamkan setelah 50 hari tertahan di Arab Saudi akibat sulitnya mengurus dokumen. (kanan) Keluarga Suratno menandatangani berita acara penyerahan jenazah. ISTIMEWA
BERDUKA: Jenazah Suratno saat akan dimakamkan setelah 50 hari tertahan di Arab Saudi akibat sulitnya mengurus dokumen. (kanan) Keluarga Suratno menandatangani berita acara penyerahan jenazah. ISTIMEWA

Suratno, 53, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Wonosobo yang bekerja di Arab Saudi sungguh malang. Ia diketahui meninggal karena sakit. Ironisnya, jenazahnya baru bisa dipulangkan setelah 50 hari kemudian lantaran terkendala pengurusan dokumen Visa.

Sigit Rahmanto, Wonosobo

RADARSEMARANG.ID, SEKITAR 9 tahun lalu, Suratno, warga Desa Ngadisalam, Kecamatan Sapuran, Wonosobo meninggalkan tanah kelahirannya untuk mengadu nasib ke Arab Saudi. Ia berangkat menjadi TKI dengan harapan mampu mengangkat ekonomi keluarga. Namun bukannya kesuksesan yang didapat, kini Suratno justru kembali ke keluarganya dalam kondisi sudah tak bernyawa.

Menurut Ketua Migran Care Wonosobo, Maizidah Salas, sebelum tiba di Wonosobo, Senin (7/1) kemarin, jenazah Suratno sempat tertahan 50 hari di Arab Saudi, karena harus melengkapi berbagai dokumen.

“Padahal sebelum meninggal, sekitar 2 bulan sebelumnya, dia sudah minta izin pulang karena sakit. Namun karena kondisinya tidak memungkinkan dan tidak mendapat izin dari pihak imigrasi Arab Saudi, akhirnya dibawa ke rumah sakit oleh majikannya dan dirawat terlebih dahulu,” jelasnya saat dihubungi via telepon, Senin (7/1) sore.

Setelah beberapa hari dirawat, Suratno menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu ketiga November 2018 lalu. Penderitaannya belum selesai. Sebab, jenazah Suratno tidak bisa langsung dibawa pulang ke tanah air. Jenasah Suratno harus terkatung-katung selama 50 hari sebelum akhirnya bisa diterbangkan ke Indonesia.

“Ini kan menimbulkan banyak pertanyaan. Namun dari pihak imigrasi Arab Saudi menjelaskan bahwa proses penahanan jenazah ini karena harus menunggu dokumen secara lengkap terlebih dahulu. Baru bisa pulang,” terangnya.

Suratno sendiri meninggal karena penyakit. Tapi Migran Care belum tahu secara pasti penyakit yang sempat diidap Suratno. “Dengan kepulangan jenazahnya ini, sebenarnya kami ingin membuktikan soal kebenarannya, apakah jenazah benar-benar dalam kondisi utuh atau tidak,” lanjutnya.

Anak Suratno, Sintang Sibyanto, mengaku, beberapa waktu lalu sempat mendapat kabar kalau ayahnya sakit. “Kita mendapat kabar itu sudah cukup lama, namun kok baru bisa dipulangkan sekarang,” katanya masih penasaran.

Suratno pergi ke Arab Saudi sejak 9 tahun yang lalu. Kabarnya, ia bekerja menjadi sopir. Selama ini, ia tinggal serumah dengan majikannya.
“Namun sangat sibuk hingga tak pernah mengurus visanya. Makanya bapak mengaku ingin pulang tapi kesulitan,” jelas Sintang.

Ia mengaku, saat ini pihak keluarga sudah ikhlas dengan kepergian ayahnya. Meski begitu, ia masih memendam duka mendalam, sebab sehari sebelum kedatangan jenazah ayahnya, ibu kandung Suratno atau nenek Sintang juga meninggal dunia. Suratno meninggalkan seorang istri dan dua anak. Saat pemakaman kemarin, isak tangis keluarga tidak bisa tertahankan. Terutama istri Suratno. Mereka tak menduga Suratno pulang dari luar negeri sudah tidak bernyawa. (*/aro)