Biasa Menulis Selepas Subuh, Hanya Pakai Satu Jari

Endah Kusumaningtyas, Difabel Penurunan Fungsi Otot yang Produktif Menulis

225
PANTANG MENYERAH: Endah Kusumaningtyas (kiri) saat mengikuti pelatihan jurnalistik. (DOKUMEN PRIBADI)
PANTANG MENYERAH: Endah Kusumaningtyas (kiri) saat mengikuti pelatihan jurnalistik. (DOKUMEN PRIBADI)

Jika keterbatasan membatasi seseorang untuk berprestasi, mungkin tidak akan ada orang seperti Yeni Endah Kusumaningtyas. Menjalani hari dengan penurunan fungsi otot, Endah justru terbilang produktif menulis sejak beberapa tahun silam.

Sigit Andrianto

RADARSEMARANG.ID, YENI ENDAH senang menulis sedari kecil. Dimulai dari menulis diary. Hingga suatu ketika mendapat tawaran mengikuti suatu event menulis. Mulanya ia menolak, wong saat itu menulis hanya dijadikannya sebagai hobi.

Namun karena suatu hal, Yeni akhirnya ikut pada event tersebut. Dan tanpa disangka ia justru masuk 10 besar kontributor pada penerbit indie waktu itu.

”Saya tidak enak menolak terus. Akhirnya ikut. Dari situ lama-lama punya banyak temen penulis. Dan saya gabung komunitas menulis,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dari sejumlah grup menulis, ia kemudian banyak belajar dan terus mengasah kemampuan menulisnya. Ia pun mengalami, tulisannya harus mendapat masukan untuk direvisi. Tidak hanya satu dua, bahkan berulang kali. Tapi, hal itulah yang membuat kemampuan menulisnya semakin terasah.

“Tulisan pertama saya saat itu adalah cerita remaja berdasar kisah nyata berjudul Menembus Batas,” katanya.

Hingga kini beberapa tulisannya memang sudah dimuat di beberapa media massa. Ia mencatat, enam tulisan sudah termuat pada 2017 dan 9 tulisan, berupa cerita anak dan cerita remaja terbit pada 2018. Tulisannya juga terbit di 14 buku antologi penerbit indie. Ada pula 4 tulisan dalam antologi oleh penerbit mayor.

Tak hanya itu, perempuan yang akrab disapa Yeni ini juga berhasil mengukir prestasi pada 2018 lalu. Ia menjadi juara satu @Indonesiararedisorders Writing Contest dengan tema ”Aku dan Kelainan Langka”. Disusul menjadi juara dua Kompetisi Menulis Kabar Baik.

Capaian ini tentu diperolehnya dengan tidak gampang. Terlebih, Yeni merupakan difabel dengan kelainan langka. Ia mengalami penurunan fungsi otot yang membuatnya harus bersabar untuk menghasilkan tulisan demi tulisan.

”Kendalanya menulis ya itu, karena kaku jadi ya hanya bisa nulis pakai satu jari. Jadi, kadang suka lama dan pegel gitu,” ujar perempuan yang mengandalkan jari telunjuk kanannya untuk menulis ini.
Belum lagi ketika badan tidak mendukung dan mendadak drop. Mau tidak mau ia harus menyudahi untuk sementara menulis dan mengajak badannya untuk rehat sejenak. Meski demikian, ia tidak pernah mengeluh. Apalagi menyerah. Karena ia memiliki mantra penyemagat. Satu kalimat mutiara yang selalu membuatnya terus maju.

”Pokoknya keep positive, keep fighting, until the end,” Yeni menyampaikan kalimat penyemangatnya itu.

Untuk menulis, Yeni lebih senang dan biasa menulis selepas subuh. Hal ini dilakukan karena pada waktu tersebut, pikirannya masih fresh. Tidak ada beban untuk mengurus apapun. Sehingga bisa fokus pada tulisan yang dikerjakan.