Melongok Permainan Goalball para Penyandang Tunanetra di Semarang

Ada Tiga Gawang, Pemain Andalkan Pendengaran

64
BERBEDA: Permainan goalball yang dilakukan para penyandang tunanetra di Lapangan Jatisari Mijen.NURCHAMIM/RADARSEMARANG.ID
BERBEDA: Permainan goalball yang dilakukan para penyandang tunanetra di Lapangan Jatisari Mijen.NURCHAMIM/RADARSEMARANG.ID

Sudah tahu goalball? Ya, ini jenis olahraga yang biasa dimainkan para penyandang tunanetra. Ada bola yang dilengkapi lonceng dan tiga gawang. Dalam bermain, para pemainnya hanya mengandalkan pendengaran.

ADENNYAR WYCAKSONO

RADARSEMARANG.ID, TAHUN baru sudah berlalu. Bagi pengelola Sahabat Mata Semarang, Basuki, tahun baru kemarin sangat berkesan. Sebab, di saat warga merayakan malam tahun baru dengan pesta kembang api, ia dan teman-temannya sesama penyandang tunanetra juga merayakannya. Bedanya, mereka tak pesta kembang api, tapi dengan menggelar lomba goalball. Kegiatan tersebut digelar di Lapangan Jatisari, Mijen.

Dalam permainan goalball ada tiga gawang yang masing-masing dijaga oleh satu pemain. Ukuran gawang panjang 9 meter dan tinggi 130 sentimeter. Satu tim diperkuat tiga pemain, dan dua pemain cadangan. Permainan ini cukup sederhana, masing-masing tim mencetak goalball sebanyak-banyaknya ke gawang lawan dengan cara menggelindingkan bola. Permainan goalball dimulai ketika wasit teriak ‘play’, waktunya 2×12 menit. Ketika ada gangguan suara-suara, pertandingan bisa diberhentikan dulu. Sebab, pemain olahraga ini hanya mengandalkan pendengaran.

“Tahun baru kan identik dengan kembang api atau berlibur, kami tidak bisa menikmatinya karena tidak bisa melihat. Akhirnya, muncul lomba goalball ini,” kata pengelola Sahabat Mata Semarang, Basuki kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dalam turnamen itu, diikuti ratusan tunanetra dari berbagai daerah seperti Blitar, Kediri, Jogja, Jambi, Palembang, Bandung, Semarang, Kabupaten Semarang, Solo, Klaten, Temanggung, Pemalang dan lainnya. Goalball, lanjut Basuki, adalah olahraga yang paling familiar di kalangan para tunanetra dengan menggunakan bola khusus yang telah dipasangi lonceng agar bisa menghasilkan bunyi. “Cara bermainnya adalah digelindingkan ke lantai, tidak dilempar. Nanti bolanya harus ditangkap, biar tidak kebobolan,” tuturnya.

Total ada 45 tim yang terdiri atas 33 tim putra dan 12 tim putri. Mereka bertanding sejak 30 Desember 2018 sampai 1 Januari 2019 lalu. Tak jarang, para penyandng tunanetra ini harus jatuh bangun untuk mengejar bola agar tidak masuk ke gawang.

Basuki menjelaskan, jika untuk menyambut tahun baru lalu, juga diadakan pelatihan tanda tangan dan menulis. Tujuannya, memudahkan tunanetra ketika berurusan dengan pihak perbankan dan korespondensi surat menyurat via pos.

“Dari pengalaman yang ada, di perbankan sekarang nggak boleh cap jempol. Tentu sangat menyulitkan, tanda tangannya pun pasti akan beda-beda jadi kita lakukan pelatihan,” tambahnya.

Sedangkan untuk urusan tulis-menulis, lanjut Basuki, banyak tunanetra yang hanya bisa menulis dari apa yang mereka dengar, sehingga tidak sesuai dengan ejaan penulisan yang benar. Sehingga banyak terjadi kesalahan menulis dan akhirnya surat yang dikirimkan tidak bisa tersampaikan. “Contohnya salah satu stand pameran, terkadang salah tulis menjadi ‘setan pameran.’ Nulis alamat pun kadang salah sampai suratnya kembali lagi karena tidak terkirim,” paparnya.