Percayai Bambu Punya Nilai Seni dan Magis

Komunitas Rumah Bambu Indonesia Chapter Semarang

158
UNIK: Anggota Komunitas Rumah Bambu Indonesia Chapter Semarang saat memperlihatkan beberapa koleksi bambu unik mereka, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADARSEMARANG.ID)
UNIK: Anggota Komunitas Rumah Bambu Indonesia Chapter Semarang saat memperlihatkan beberapa koleksi bambu unik mereka, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADARSEMARANG.ID)

Mengoleksi bambu unik memiliki tingkat kesenangan sendiri. Seperti yang dilakukan oleh para anggota Komunitas Rumah Bambu Indonesia Chapter Semarang ini. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

RADARSEMARANG.ID, SEBAGIAN orang percaya jika selain memiliki nilai seni, bambu juga memiliki kekuatan magis. Hal itulah yang juga dipercaya oleh anggota Komunitas Rumah Bambu Indonesia. Bambu-bambu yang dikoleksi oleh masing-masing anggota juga berbagai bentuk. Selain itu juga memiliki keunikan tersendiri di bentuk tersebut.

Koordinator Rumah Bambu Indonesia Chapter Semarang, Satrio Aji, mengungkapkan, jika sisi bambu yang masuk ke dalam kriteria unik, yaitu karena memiliki bentuk lain daripada yang lain.

“Ada yang bentuknya menyerupai teken (tongkat), dan ada pula yang menyerupai seperti Kanguru,” ujar Satrio, Kamis (3/1).

Bentuk-bentuk tersebut terjadi bukan karena buatan manusia. Namun lebih karena proses alam. Sehingga hal itulah yang menjadi daya tarik banyak orang yang ingin mengoleksi. Selain bentuk yang memiliki nilai seni, juga dikarenakan beberapa orang percaya akan kekuatan magis dari bambu itu.

Terkait dengan anggota komunitas pecinta bambu itu sendiri saat ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia. “Kalau jumlah keseluruhan anggota dari Sabang sampai Merauke sebanyak 3.873 orang,” katanya.

Selama ini, untuk semua anggota sering melakukan komunikasi dan bertukar pendapat terkait bambu unik melalui media sosial Facebook. Untuk anggota komunitas yang berada di dalam satu wilayah, setiap satu minggu sekali mereka bertemu. Entah sekadar bertukar pengetahuan terkait dunia bambu atau bersama-sama berpetualang keluar masuk hutan untuk mencari bambu-bambu yang unik. “Sering keluar masuk hutan mencari bambu,” ucapnya.

Komunitas tersebut berdiri sejak September 2016. Sejak itu, anggota komunitas terus bertambah dan menyebar hingga ke Kota Semarang. “Kebetulan yang Semarang saya koordinatornya,” katanya.

Saat ini, anggota di Kota Semarang mencapai 166 orang yang masih aktif. Aktif di sini maksudnya sering melakukan komunikasi antarsesama anggota. Selain itu, juga sering berkumpul dan keluar masuk hutan bersama mencari bambu-bambu yang menurut mereka unik. Tidak ada yang membatasi atau syarat khusus untuk masuk dalam komunitas ini. “Yang penting mau berteman dan suka bambu, itu saja,” ujarnya.

Ia mengaku jika melihat bambu hanya dari nilai seni, serta memiliki bentuk-bentuk yang unik. “Bentuknya dibentuk alam bukan campur tangan manusia,” katanya.

Mereka juga menamai bambu-bambu tersebut. Antara lain, Naga Satru yang bentuknya persis kepala naga dan Jalu Puncak yang bentuknya penyerupai jalu ayam. Nama lainnya Carang Sewu, Sambung Rasa, Naga Tarung, Rogo Sukmo, Rajut Sukma, Patil Lele, Kanguru, Kendit, Bulu Perindu, Junjung Drajat, Panah Dewa, Sungsang, Rancang Kencono, Pamengkang Jagad, Dampit, Soca Kembang, Kuda Jantan, dan Carang Gantung.