Dobel Alhamdulillah

118

Oleh: Dahlan Iskan

Saya sengaja pilih tidur. Biar pun ternyata ok: habis maghrib sudah bisa tiba di Istanbul. Masih bisa ikut rame-rame malam tahun baru. Yang di Istanbul mestinya luar biasa.

“Tadi saya kira kita baru tiba setelah jam 00.00,” ujar Mustofa, sopir saya. “Saya tidak menyangka sudah ada otoban,” tambahnya.

Otoban adalah jalan tol. Nama resminya Otoyol. Nama resmi dalam bahasa Inggrisnya Motorway. Tapi semua orang Turki menyebutnya otoban. Mengadopsi jalan bebas hambatan di Jerman: Otobahn. Bedanya: Otobahn Jerman itu gratis.

Mustofa sendiri lahir di Jerman. Dari orang tua Turki. Lima juta orang Turki ada di Jerman. Termasuk Mesut Ozil (Arsenal) dan Emre Can (Liverpool yang entah di mana sekarang).

Hubungan Jerman – Turki memang mendalam. Di masa sulit dulu. Sejarah menyebut Jerman berhutang nyawa ke Turki. Yang selalu membantu Jerman. Dalam perang apa pun.

Bersama sopir Mustofa ini asyik. Masa kecilnya di Frankfurt. Ia pernah 20 tahun di Istanbul. Lalu pindah kerja ke Izmir.

Saat liburan ke Antalya ia jatuh cinta. Memilih rumah masa depan di Antalya.

“Istanbul terlalu ruwet,” katanya. Maksudnya: kotanya terlalu besar. Dengan segala problem metropolitannya. “Izmir juga indah. Tapi kelembaban udara Antalya lebih baik,” katanya

Mustofa punya rumah empat kamar. Di apartemen lima lantai. Di Pusat kota Antalya.

“Setelah tiga putri saya kawin istri saya susah,” kata Mustofa. “Harus bersih-bersih empat kamar,” katanya.

Antalya adalah kota pantai khas mediteranian. Mirip Beirut atau Monaco. Pantai bertebing. Seperti Pecatu, Bali.

Saya tidak usah ragu dengan kemampuannya di belakang kemudi. Meski badannya ‘ndut’. Ia sudah beberapa kali ke Makkah. Jalan darat. Mengemudi bus. Istanbul – Makkah ia tempuh dalam lima hari. Lewat Baghdad. Pernah juga lewat Syiria dan Lebanon.

Mustofa lah yang akhirnya menemani saya ke Ephasus. Ke rumah Bunda Maria di sisa hidupnya. Setelah Jesus disalib.

Mustofa juga yang menemani saya ke Izmir. Yang ternyata saya juga ditunggu mahasiswa kita di sana. Yang juga harus minta maaf. Tidak sempat menemui mereka.

Sebagai orang Antalya, Mustofa tidak tahu kalau sudah ada Otoyol. Antara Izmir – Bursa. Hampir 100 Km. Yang diingatnya dulu perlu waktu tiga jam. Gunung-gunung ditembus terowongan. Otoyolnya tiga jalur di setiap arahnya.

Menjelang Bursa memang harus masuk jalan lama lagi. Tapi sebenarnya tidak kalah dengan Otoyol. Kualitas jalan umum di Turki mirip jalan tol kita. Bahkan lebih mulus. Hanya sesekali harus terkena lampu merah. Saat melewati kota-kotanya.

Dari Bursa ke Istanbul pun kini sudah sepenuhnya Otoyol. Mustofa juga belum tahu itu. Baru dibuka 1 Desember lalu. Di jalur ini harus dibangun jembatan panjang. Melintasi tekukan laut Marmara. Lalu masuk terowongan Bosphorus. Yang panjangnya 5 Km. Yang dalamnya 106 meter di bawah daras laut. Yakni laut sempit yang memisahkan benua Asia dengan Eropa.