Sepatu Siapa Takut

93

Oleh Dahlan Iskan

Dari Beirut saya terbang ke Istanbul. Hanya satu jam setengah. Hanya melangkahi pulau Siprus. Di tengah Laut Tengah itu.

Maafkan saya tidak mampir Istanbul. Saya langsung ke stasiun kereta. Ingin melintasi jembatan selat Bosporus lagi. Yang terkenal itu. Yang menghubungkan benua Eropa dan Asia itu.

Bandara tempat saya mendarat memang di daratan Eropa. Di Istanbul belahan Barat. Sedang stasiun keretanya di daratan Asia. Istanbul Timur.

Ternyata saya kecele. Tidak melintasi jembatan itu. “Sekarang sudah ada terowongan bawah laut. Jalan di atas macet,” ujar sopir taksi.

Ya sudah.
Tidak masalah.
Toh saya pasti akan ke Istanbul lagi. Pulangnya kelak.

Saya memang akan ke pedalaman Turki dulu. Ke Konya. Ke makam Maulana Jalaluddin Rumi itu. Lalu ke daerah yang lebih dalam lagi: Afyon. Untuk melihat perekonomian Turki. Sampai di pedalamannya. Saya tidak mau tertipu. Oleh kota-kota besarnya.

Dari Afyon kelak rencana saya ke Antalya. Lalu Izmir. Baru terakhir nanti ke Istanbul: tahun depan. 1 Januari 2019.

Untuk ke Konya itulah saya harus mampir Ankara. Ibukota Turki. Saya pilih naik kereta. Meski untuk cepatnya bisa naik pesawat.

Kali ini saya tidak akan kesusu-kesusu. Kesusu – – apalagi kemrungsung– tidak cocok dengan jiwa Maulana Rumi. Sekalian saya akan menikmati keretanya. Sambil menyelami sistem perkereta apian di Turki.

Baru kali ini saya bisa punya waktu sebaik itu. Terima kasih Rumi.

Tentu saya harus bermalam di Ankara. Sudah terlalu senja. Apalagi ada siaran langsung pertandingan Liverpool malam itu. Malamnya ada lagi: Manchester City. Yang kali ini saya terpaksa harus melihatnya. Dengan alasan: Ssssttt…! Rahasia.

Sudah terlalu lama saya dibuli profesor Said Didu. Saya ganti ingin merasakan bagaimana perasaan hatinya. Kalau Manchester City kalah lagi. Tapi saya berjanji: tidak akan membuli beliau.

Baru satu jam di kereta, sesuatu turun deras dari langit: hujan salju. Tidak saya sangka. Oh…indahnya. Seindah keringnya Sumba.

Tentu. Kereta ini pakai pemanas.
Hangat.
Lapar.
Saya mencari gerbong cafe. Sejak pagi belum makan.

Ada di gerbong 2. Ramai. Antre. Anak muda itu baik. Menyilakan saya duduk di satu kursi kosong di sebelahnya.Lalu mengajak ngobrol. Memperlancar bahasa Inggrisnya. Dikira bahasa Inggris saya lebih baik.

Padahal ssstttt…! Rahasia.

Saya membuka menu. Mata saya mendadak hijau. Semua makanan seperti ingin saya lahap. Ada kebab. Ada doner. Ada kebab dan doner. Ada doner dan kebab. Rasanya hanya dua jenis itu makanan Turki yang saya hafal namanya. Sayang perut hanya satu.