Meski Tak Mudah, Warga Tanon Berusaha Keras Pertahankan Budaya Tanon dan Berdayakan Ekonomi Warga

166
WISATA NOSTALGIA : Koordinator Persadia Tour, Hastari Meitya Ayunigtyas, foto bersama para penari Dusun Tanon, saat melakukan kunjungan wisata.
ISTIMEWA WISATA NOSTALGIA : Koordinator Persadia Tour, Hastari Meitya Ayunigtyas, foto bersama para penari Dusun Tanon, saat melakukan kunjungan wisata.

Lewat Kampung Berseri Astra, Wujudkan Desa Mandiri dan Berdikari

RADARSEMARANG.ID, GETASAN-Keindahan alam yang tenang tanpa kebisingan di Desa Wisata Menari, Dusun Tanon Desa Ngrawan Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah terasa menyejukkan rasa. Desa yang secara geografis berada di bawah kaki Gunung Telomoyo ini, sungguh membuat banyak orang ketagihan ingin berkunjung kembali.
Dusun yang dihuni oleh 37 kepala keluarga dan 157 jiwa ini sebenarnya tidak jauh dari pusat kota dengan aksesibilitas yang mudah dijangkau oleh para wisatawan. Apalagi jalannya tergolong diperhatikan, sehingga lumayan bagus. Dari Kota Magelang berjarak 33,3 kilometer, dari Jogjakarta 76,28 kilometer, dari Solo 50 kilometer, dari Semarang 58 kilometer, sedangkan dari Salatiga hanya berjarak 11,7 kilometer.
Keindahan alam pedesaan tersebut sebenarnya bisa dirasakan di berbagai desa di kaki pegunungan Telomoyo lainnya. Namun Dusun Tanon menawarkan hal yang berbeda. Sebagaimana yang dirasakan oleh sekitar 50-an orang dari rombongan Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Tour dari Semarang. “Ini benar-benar jauh dari kebisingan. Hawanya sangat sejuk dengan budaya masyarakat desa masih asli,” kata koordinator rombongan Persadia Tour, Hastari Meitya Ayunigtyas, 35, kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Hastari Meitya Ayunigtyas yang akrab disapa Tyas merupakan Koordinator Pelayanan Laboatorioum Cito Semarang. Pihak Laboatorioum Cito sengaja mengajak keluarga besar Persadia untuk berwisata dengan tema Nostalgia Tempo Doeloe. Dirinya menemukan Dusun Tanon, setelah searching atau googling di internet. “Saya lalu melakukan survei lokasi. Dusun Tanon ini memang tempat wisata tempo doeloe seperti yang kami harapkan sebelumnya. Kami bersuka cita bisa datang ke Tanon,” tuturnya.
Pukul 07.00 rombongan Persadia Tour sudah sampai lokasi, langsung disambut warga Dusun Tanon dengan salam pembuka berupa pengalungan bunga kepada masing-masing wisatawan. Pengalungan itu diiringi tetabuhan gending Jawa oleh warga tersebut, mengingatkan kembali rasa desa yang telah lama hilang, kini datang kembali. Apalagi disuguhi wedang uwuh dan sarapan dengan makanan khas desa. Keindahan rasa terasa lengkap memenuhi relung hati para wisatawan dari Kota Semarang ini. “Kami sangat senang, bisa fresh kembali, jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk pekerjaan,” kata Tyas.
Sambil bergandengan tangan, seluruh rombongan diajak menyanyikan lagu Desaku Yang Kucinta ciptaan L Manik. Kemudian menikmati sajian tarian warga Tanon. Dilanjut dengan menyusuri desa sambil menikmati keindahan kaki bukit Gunung Telomoyo, dipertemukan pula dengan penduduk lokal yang rata-rata peternak dan petani. Lantas ke pasar tradisional yang menyediakan beragam hasil bumi dan produk UMKM warga setempat. Ada sabun susu, kripik bedagan, kripik ketela dan beragam sayur mayur lainnya.
“Ini sebetulnya hal biasa, tapi warganya kompak dan ramah, hasilnya menjadi luar biasa. Kami berterima kasih kepada Pak Trisno yang menyambut dengan luar biasa juga. Meski hanya setegah hari dari pukul 07.00 hingga pukul 14.00, kami bisa napak tilas,” tuturnya.
Keberadaan Dusun Tanon yang kini berhasil menarik banyak wisawatan, bisa dibilang tak lepas dari tekad Trisno, 35. Adalah pemuda desa yang sejak kecil merasa resah dengan daerahnya yang sangat tertinggal. Begitu lulus SMA, dirinya bertekad melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan lulus tahun 2005. Dia orang pertama yang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Namun karrena tekadnya untuk pulang kampung, memajukan desa, sejak mahasiswa sudah menyibukkan diri aktif di berbagai kegiatan sosial. Bahkan, meluangkan waktunya untuk nyantrik di beberapa peternakan warga di sekitar desa. Ini karena masyarakat di lingkungannya kebanyakan petani dan peternak. Selain itu, dirinya juga menjadi pemandu outbond di tempatnya kuliah Surakarta.
“Begitu saya lulus kuliah, saya kembali ke desa dan meneruskan lagi kegiatan menjadi relawan bagi peternak dan petani. Saya dibesarkan di desa, ingin memajukan desa juga. Istilahnya, pusat angin adalah pengikat jiwa kita. Tempat kita lahir, adalaj pengikat jiwa kita,” tuturnya berfilosofi.
Namun upayanya membesarkan desa, harus melalui jalan berliku. Karena tahun 2006 menikah dengan Nuryanti, Trisno yang akrab disapa Kang Tris harus bekerja demi menghidupi keluarga. Padahal, sang istri Nuryanti yang apoteker, sudah memiliki apotek. Kang Tris pun aktif melakukan pendampingan para peternak dan petani di dua kecamatan, yakni Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang dan Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. Namun dilakukan sambil bekerja, yakni berdagang emping dan susu di Solo.
Namun pada 2007, dirinya direkrut pemilik modal untuk bekerja di BMT, di bidang peternakan dan pertanian. “Praktis, saya tiap hari di kandang. Kalau malam hari melakukan penyuluhan terhadap warga. Tekad kami, ingin menerapkan manajemen peternakan yang baik dan benar pada peternak dan petani di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang dan Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali,” tandasnya.
Sayangnya, lembaga tersebut mengalami pailit lantaran sebagian dananya macet, meski skema program peternakan sudah betul. “Saya seperti diuji daya tahan mental dan finansial. Tapi saya berusaha menghadapinya dengan lapang dada. Saya bersyukur, ternyata masyarakat masih menaruh kepercayaan dan kepedulian terhadap saya,” tandasnya haru.
Kang Tris pun bercerita, sempat melakukan bisnis susu dan berhasil membongkar mafia susu. Hasilnya, bisa menaikkan harga susu peternak dari Rp 1800 per liter, menjadi Rp 2800 per liter. Namun oknum mafia susu tersebut tetap saja tak tinggal diam, Kang Tris pernah dikriminalisasikan dengan tuduhan memalsukan susu. “Banyak serangan dari para pebisnis susu yang merasa keuntungannya terkurangi. Bahkan kami waktu itu, terpaksa membuang susu per hari 500 liter. Karena susu yang umurnya 4 jam, ditolak perusahaan. Jika lebih dari 4 jam, susu sudah tidak bisa digunakan,” tuturnya.
Dari pengalaman bekerja tersebut, Kang Tris sejak tahun 2009 melakukan evaluasi diri. Dirinya menyadari, panggilan jiwanya adalah pemberdayaan masyarakat. Karena itu, dia mencari cara, untuk bisa terus berdampingan dengan masyarakat. Bahkan, atas beragam peristiwa tersebut, dia berada pada titik nadhir, merasa gagal dengan pemberdayaan masyakarat dalam skala yang lebih luas. Tak patah arang, Kang Tris pun mencari formula baru, mengawali lagi dengan skala yang lebih kecil. Istilahnya pilot project. Jika skala kecil berhasil, bisa dijadikan laboratorium untuk mengembangkan dalam skala lebih besar lagi.
“Saya kembali bertekad melakukan pendampingan pemberdayaan dan menggerakkan masyarakat. Kalau langsung melingkupi 2 kecamatan, itu terlalu besar. Saya memilih satu dusun dulu, yakni Dusun Tanon saja, tempat kelahiran saya,” katanya.
Dari pengalamannya bekerja di BMT yang berbasis program, dia menyadari, sebagian masyarakat perdesaan masih menggunakan paradigma sederhana. Intinya, masyarakat memang belum siap. Ketidaksiapan masyarakat ini didukung pola pikir yang masih menggunakan konsep klasik.
“Saya sebelumnya sering disambati para peternak dan petani yang merasa tidak bisa berkembang, karena hasil ternak dan hasil bumi dihargai kecil. Saya pun berusaha belajar pertanian dan peternakan dengan berbagai pihak, termasuk dengan dokter hewan. Tujuan saya, bagaimana peternak bisa berternak dengan manajemen yang baik dan mendapatkan income yang baik dari konsep yang sederhana. Namun belum berhasil,” katanya.
Karena itulah, sejak 2009 Kang Tris mulai melakukan pemberdayaan masyarakat melalui program Outbond Ndeso sesuai panggilan hati dan pengalamannya ketika masih kuliah sebagai pemandu outbond. “Habitat awal saya, memang pemandu outbond. Saya sewaktu masih mahasiswa, pemandu outbond indoor maupun outdoor tapi sudah lebih modern. Karena berbasis desa, saya berusaha mencari formula baru berupa outbond ndeso,” tandasnya.
Kang Tris pun menggelar pelatihan dengan peserta para pemuda Dusun Tanon. Tempat outbond di dusun, pemandunya orang dusun, alat-alatnya pun sederhana berbahan lokal dari dusun. Selain itu, menyediakan permainan di antaranya, ada gerobag sodor, belajar merawat binatang, belajar memerah susu sapi, belajar menanam dan lainnya.
“Waktu itu, banyak warga belum paham. Tapi saya tetap sabar dalam menerapkan formula baru ini. Karena untuk mengembangkan daerah yang pas adalah dengan pendekatan wisata. Makanya, saya mulai dengan outbond ndeso,” tutur Kang Tris merasa cita-citanya balik kampung semakin menggembirakan meski banyak tantangan.
Menurutnya, potensi di Getasan atau wilayah di lereng Pegunungan Telomoyo ini sangat luar biasa. Sayangnya selama ini, minim penggerak. Anak muda banyak yang suka organisasi, tapi banyak yang meninggalkan kampung halaman, memilih bekerja di sektor non formal, seperti jadi buruh bangunan, buruh pabrik atau bekerja di perusahaan lain.
“Yang saya prihatin luar biasa, banyak petani dan peternak yang kehilangan generasi penerus, sehingga terjadi lost generation. Saya berusaha mengawalinya dengan segala keterbatasan saya. Intinya, bagaimana caranya para pemuda ini mau pulang kampung dan memajukan kampung halamannya,” tutur Kang Tris.
Bersyukur bagi kang Tris, pada tahun 2012, warga Dusun Tanon mulai banyak yang tertarik dan mau bergabung. “Sejak saat itu, kami maju bersama-sama,” tandasnya.
Namun karena ada persamaan nama dengan Kecamatan Tanon di Kabupaten Sragen, Dusun Tanon Desa Ngrawan Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang sudah kalah populer. Sebab, kalau dilakukan searching engine di Google, yang keluar pasti Tanon Sragen. Karena itulah Kang Tris bersama warga yang sudah kompak ini, sepakat mencari branding baru yang mewakili kearifan lokal warga Dusun Tanon. “Akhirnya ketemulah, menjadi Desa Menari,” tandasnya.
Kenapa menjadi Desa Menari? Menurut cerita tokoh masyarakat, dulu ada salah satu prajurit Pangeran Diponegoro bernama Ki Tanuwijaya, pernah tinggal di Dusun Tanon. Ki Tanu – akrab disapa- mengajarkan bela diri yang dikemas dengan tari, salah satunya tari keprajuritan yang diwariskan secara turun-temurun. “Karena itulah, warga disini mayoritas suka menari dan memiliki keahlian menari,” tandasnya Kang Tris yang juga ketua kelompok tari di Desa Ngrawan.
Saat ini, ada 9 kelompok tari di Desa Ngrawan. Dan satu kelompok tari di Dusun Tanon, namun memiliki banyak grup tari yang siap menghibur wisatawan. Tiap tahun selalu ada festival menari yang bekerjasama dengan Fakultas Kesenian Universitas Negeri Semarang (Unnes). Ada beberapa jenis tarian, seperti tari rodat, topeng ayu, kuda lumping, kuda debog, dan warog kreasi. “Meski begitu, tagline Desa Menari juga memiliki arti khusus. Yakni, menabur harmoni, merajut inspirasi, dan menuai memori (Menari),” tandas Kang Tris.
Keahlian menari ini dijadikan salah satu paket untuk menghibur wisatawan. Para penari sepuh, berusia 55 tahun sampai 85 tahun, turun gunung. Ada Giono Giman (kuda lumping), Mbah Nasim (tari rodat), Sutrisno dan Maryoto (penerus grup ketoprak), Turut Sukardi, dan Lungguh Wahono (pakar tari keprajuritan). Tak hanya mengajari anak-anak menari, namun kerap ikut tampil di hadapan wisatawan. “Paket tarian untuk para wisatawan ini bervariasi. Pemainnya bisa 4-8 orang. Ini memberikan tambahan rezeki bagi warga karena masing-masing kebagian honor,” kata Kang Tris.
Bahkan, Ketua Kelompok Seni Krido Budi Utomo, Pardi, 75, menyediakan pekarangannya untuk menyimpan seperangkat gamelan, alat musik pengiring tari, dan perlengkapan tari lainnya. Sebagian warga juga menyediakan pekarangan untuk sanggar tari dan ruang pentas tari, termasuk di samping rumah Kang Tris. “Keunggulan di Dusun Tanon, mengusung konsep tarian Jawa yang menyentuh rasa setiap orang. Kami akan mengusung paket olah rasa dengan tari sufistik,” kata Kang Tris.
Diakui Kang Tris, era globalisasi dan laju modernitas dengan perkembangan teknologi, banyak orang semakin rindu dengan masa lalu, rindu dengan sesuatu yang kuno, rindu dengan suasana keaslian desa. Rindu ayam berkokok, lambaian angin yang menerpa dedaunan yang penuh ketenangan dan kedamaian. Semua itu, tak bisa didapat di perkotaan yang bising dan penuh polusi.
“Karena itulah, kami tak hanya menyediakan paket menari, tapi mengembangkan paket wisata spiritual untuk terapi orang modern. Jika di Bali ada paket meditasi, maka di Dusun Tanon ada paket keagamaan. Yakni mengajak masyarakat pada kesadaran murni dan memahami arti pentingnya hidup dalam keberkahan. Karena popularitas akan hancur, jika keberkahan itu tidak ada,” tandasnya.
Dijelaskan pula, setelah menahbiskan sebagai Desa Menari, kini Dusun Tanon memiliki beberapa paket Tour Plus Education dan Homestay Komunitas dengan suguhan, belajar kesenian rakyat dari Krido Budi Utomo; belajar proses pemeliharaan, pemerahan dan pemrosesan susu menjadi industri kreatif; belajar kerajinan anyaman; belajar pembuatan sawut Teloroso; belajar membuat dan memaknai Pamongan Andum Roso; belajar permainan tradisional; outbound ndeso; dan relaksasi mental. Selain itu, masih ada kuliner khas desa misal kripik daun bedagan, getuk sawut, sayur lodeh daun jipang, sambel korek versi tanon, dsb. Ada juga pasar rakyat yang menyediakan beragam hasil bumi dan hasil UMKM warga.
Kemudian tahun 2015, Kang Tris pribadi mendapatkan award dari Astra, di bidang lingkungan. Yakni sebagai Kreator Desa Wisata Tanon. Astra sendiri adalah perusahaan multinasional yang memproduksi otomotif berpusat di Jakarta. “Sejak adanya anugerah Astra itu, Dusun Tanon menginspirasi banyak pihak di berbagai daerah, mulai Pemalang, Jepara, Kebumen, Wonosobo hingga Jambi. Bahkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang pun mulai menyadari adanya potensi di Dusun Tanon,” tandas Kang Tris.
Pada 2015, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unissula bekerjasama dengan Kementrian Sosial (Kemensos) RI, menjadikan Desa Ngrawan sebagai salah satu pilot project selama 4 tahun dalam Program Desa Sejahtrera Mandiri untuk Membangun Desa Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif. “Desa Ngrawan yang terdiri atas 6 dusun, berkat keberhasilan di Dusun Tanon, terpilih menjadi mitranya LPPM Unissula. Bahkan, kami mencanangkan sampai 2 kali,” kata Kabid Pengabdian Masyarakat LPPM Unissula, DR Azhari MM kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Intervensi LPPM Unissula, jelasnya, di bidang kesehatan, komunikasi, pelatihan B Inggris, keagamaan, pembangunan rumah tak layak huni. “Yang sudah dilakukan adalah bantuan Rp 300 juta dari Kemensos untuk bedah 30 rumah tak layak huni. Gayung bersambut, Dusun Tanon mendapatkan dukungan dari Astra, Kemensos RI juga menggaet Astra dalam program CSR. Jadi ini pas,” katanya.
Kemudian 2016, khusus Dusun Tanon dinyatakan sebagai Kampung Berseri Astra (KBA) yang ke-28 di Indonesia dan yang pertama di Jateng. Programnya selama 5 tahun. “Sejak dijadikan KBA, kami mendapatkan support dari Astra baik secara anggaran maupun program, baik di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan dan wirausaha,” tutur Kang Tris.
Kemudian Kang Tris melakukan breakdown program KBA tersebut. Baginya, program tak akan jalan kalau tidak ada motor penggerak. Yakni pihak yang memiliki tekad bersama membangun daerah. Karena itu, dirinya merelakan seluruh waktu dan kemampuannya untuk menjadi motor penggerak bersama warga Dusun Tanon, membangun Tanon agar lebih berdaya saing tanpa meninggalkan budaya dan kebiasaan masyarakat yang sudah turun temurun. “Setelah menjadi desa wisata, ternyata ada hal baru yang harus menjadi perhatian serius. Banyaknya orang luar datang, lambat laun budaya desa luntur dan menjadi lebih metropolis. Jadi kami bertekad budaya desa tetap lestari, meski ada orang luar masuk,” tuturnya.
Demikian juga, jika program hanya berbasis anggaran, juga tidak akan jalan. Kata Kang Tris, program yang mendasarkan anggaran saja, akan menjadikan orang bergerak kalau ada anggarannya. Jika tidak ada anggaran, semua akan berhenti alias mandek. Itu sangat tidak baik ke depannya. Bahkan tahun 2018 ini, warga sudah memproduksi tahu. “Karena itulah, dengan KBA, kami mengusung konsep Membangun Desa Berbasis Kepala Keluarga (KK). Dan solusi ekonomi harus menjadi prioritas. Jika kesejahteraan masyarakat sudah membaik, maka akan naik tingkat menjadi Desa Mandiri dan Berdikari,” harapnya.
Dalam program ini, harus melibatkan seluruh warga dengan siklus yang normal. Karena itu, tidak boleh mengabaikan keyakinan atau spiritualitas dalam program tersebut. “Keyakinan dan spiritualitas akan tetap membimbing masyarakat dalam koridor on the track, kendati mengalami banyak perubahan dan kemajuan. Tanpa spiritualitas, perubahan dan kemajuan bisa menggoyahkan dan menghilangkan kearifan lokal. Kemajuan akan keropos dan mudah terdegradasi,” tandasnya.
Kang Tris pun bercerita, awal dirinya merintis pengembangan Dusun Tanon sebagai Desa Menari, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang semula belum menganggap apa-apa. Bahkan, saat Kang Tris mengajukan permohonan SK (Surat Keterangan) agar Dusun Tanon dijadikan Desa Wisata Menari oleh Pemkab Semarang, justru sempat dianggap hendak meminta bantuan. Bahkan, mendapatkan komentar negatif.
“Padahal kami tak hendak meminta bantuan. Prinsip kami, membangun warga, harus membangun mental dan keyakinannya juga. Harus yakin bisa maju dari dalam. Yakni, membangun dan memberdayakan warga, tanpa bantuan dari luar. Kami juga meyakinkan warga, tangan di atas jauh lebih baik dari pada meminta-minta,” tandas Kang Tris.
Namun setelah Dusun Tanon berhasil, Pemkab Semarang baru menyadari. Bahkan saat ini, keberhasilan Dusun Tanon dijadikan rujukan daerah-daerah lain di Kabupaten Semarang maupun di Jawa Tengah dalam mengembangkan desa wisata. Kang Tris sendiri, dipilih sebagai ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Kabupaten Semarang.
“Berbuat baik, tak selalu dianggap baik oleh orang lain. Bahkan, tak semua orang setuju dengan perbuatan baik tersebut. Karena itulah, biarkan waktu yang menjawab. Yang penting niat baik dilaksanakan dengan baik pula,” kata Kang Tris berfilosofi.
Setelah rintisannya ada hasilnya nyata, akhirnya mendapatkan banyak dukungan. Bahkan, beragam bantuan saling berdatangan turut memberikan support. Namun Kang Tris tidak ingin, hanya karena ada bantuan anggaran, merusak pola pemberdayaan masyarakat yang telah dirintis dengan susah payah. Karena itulah, diterapkan transparansi anggaran.
“Awal-awal program bantuan berdatangan, kami sempat dicurigai. Karena itu, kami menggunakan konsep manajemen terbuka. Yang memegang anggaran harus bendahara yang dipilih berdasarkan kesepakatan warga. Seluruh pengeluaran dan pemasukan harus dibuka dan ditempel di papan dusun. Sehingga semua orang bisa membaca dan melakukan audit. Dan kami selalu siap diaudit,” tandasnya.
Tak hanya dicurigai, kata Kang Tris, sejak tahun 2012 juga mendapatkan teror. Bahkan kerap menerima komplain dari berbagai pihak, karena dianggap sebagai penyebab infrastruktur jalan rusak. Berhadapan juga dengan kekuatan politik, yang merasa popularitasnya menurun karena program pemberdayaan warga tersebut berhasil tanpa partai politik. “Ada yang meneror dan mengancam. Saya sempat menerima surat tagihan, tiba-tiba dianggap menjadi orang yang menunggak pajak sebesar Rp 81 juta. Padahal saya tidak memiliki usaha besar yang penghasilannya hingga harus membayar pajak sebesar Rp 81 juta,” katanya tak heran dengan upaya penggembosan tersebut.
Baginya semua teror tersebut adalah tantangan untuk lebih kuat dan lebih ikhlas melakukan pemberdayaan. Apalagi selain teror, kata Kang Tris, ada godaan masuk ke partai politik. Bahkan, tiap tahun politik seperti Pemilihan Umum (Pemilu), Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pilkada lainnya, dirinya selalu mendapat tawaran untuk masuk ke dunia politik praktis. “Tapi saya bersyukur, masih belum tertarik ke politik praktis. Saya saat ini, masih ingin fokus pada pemberdayaan masyarakat,” tandasnya.
Targetnya Kang Tris ke depan adalah membuat Laboratorium Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Berdikari yang diwujudkan melalui program Kampung Berseri Astra (KBA) yang berjangka waktu 5 tahun. “Kalau bisa, sebelum 5 tahun, Dusun Tanon sudah menjadi Laboratorium Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Berdikari. Dengan begitu, program habis, warga Tanon sudah mandiri dan maju dengan kearifan lokal,” harapnya.
Makanya, pada tahun pertama KBA ini, yakni tahun 2016-2017, programnya adalah melakukan eksplorasi masalah dan eksplorasi potensi. “Kami sudah memetakan seluruh masalah dan potensi. Pada 2017, kami juga berusaha memenuhi kebutuhan infrastruktur dengan membangun sumber pengairan atas bantuan Astra juga,” katanya.
Sedangkan pada tahun 2018 ini, program KBA difokuskan pada pemberdayaan ekonomi, termasuk pemberdayaan pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Pada 2019, dengan KBA warga sudah memiliki banyak unit usaha. “Maksudnya, kegiatan sosial warga ditopang dari unit usaha warga sendiri juga. Bahkan, kalau ada warga yang sakit, dapat dibantu dari saving dana sosial milik warga sendiri. Sehingga terwujud masyarakat yang mandiri dan berdikari. Sedangkan program wisata, hanyalah bagian dari metode pemasaran,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Lungguh Wahono sangat bersyukur, memiliki warga seperti Trisno yang memiliki dedikasi tinggi memajukan dusun dan desanya. Dulu tahun 2000, hanya Trisno yang kuliah, dan tahun 2005 hanya Trisno yang lulus perguruan tinggi.
“Saya bersyukur, melalui gerakannya Pak Trisno, sekarang banyak anak mau melanjutkan sekolah. Anak-anak desa sekarang bertekad melanjutkan pendidikan mulai SD, SMP hingga SMA. Sudah 40 persen pemuda melanjutkan ke jenjang SMA. Bahkan sudah ada 25 yang masuk perguruan tinggi di Desa Ngrawan. Khusus di Dusun Tanon sudah banyak yang lulus perguruan tinggi,” katanya.
Bahkan, keahlian menari masyarakat Dusun Tanon maupun Desa Ngrawan semakin berkembang dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Tanon. Saat ini ada 9 kekompok penari di Dusun Ngrawan. Dan satu kelompok di Dusun Tanon dengan 5 jenis grup tarian yang berasal dari kreasi warga sendiri. Yakni, kuda kepang, kuda debok, kuda lumping, warok kreasi, dan topang ayu. “Kami sangat mendukung perkembangan masyarakat. Bahkan, kami berencana membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bersama Pak Trisno,” tuturnya.
Diakuinya, warga Dusun Tanon paling kompak dibanding dusun yang lain. Namun keberhasilan Dusun Tanon akan ditularkan ke dusun lain. “Dusun Tanon memang kami jadikan pilot project. Ini adalah atas dukungan penuh keikhlasan dan luar biasa dari Pak Trisno dalam menggerakkan warga. Sehingga Dusun Tanon dijadikan Kampung Berseri Astra dan Desa Ngrawan menjadi mitra binaan Kemensos RI,” katanya. (ida.nor.layla)

IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG
IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG