Disangrai dengan Wajan Tanah Liat dan Kayu Bakar

Anisah, Warga Tembalang Sukses Berbisnis Kopi Sadiroso

215
NGOPI YUK: Anisah menunjukkan kopi produknya saat pameran di Balai Kelurahan Sendangguwo, Tembalang, belum lama ini. (AHSAN FAUZI/RADARSEMARANG.ID)
NGOPI YUK: Anisah menunjukkan kopi produknya saat pameran di Balai Kelurahan Sendangguwo, Tembalang, belum lama ini. (AHSAN FAUZI/RADARSEMARANG.ID)

Bisnis kopi cukup menjanjikan bila digeluti dengan serius. Seperti yang dijalankan Anisah, owner Kopi Sadiroso, Tembalang, Semarang. Ia berani menyajikan kopi sedikit berbeda hingga produknya dicari banyak orang.

AHSAN FAUZI

RADARSEMARANG.ID, SEJAK 2012, tepatnya usai menikah, Anisah memulai berbisnis kopi. Ia mengusung brand Kopi Sadiroso. Produk kopi miliknya dalam proses sangrai berbeda dengan pengrajin kopi pada umumnya. Dia menggoreng biji kopi dengan kayu bakar dan wajan tanah liat atau gerabah. Hal itulah yang bisa menghasilkan rasa khas dan berbeda dari kopi produknya.
“Proses pengolahan kita lakukan secara tradisional, mulai dari pencucian biji, pengeringan dengan dijemur kemudian disangrai menggunakan kayu bakar, sehingga menciptkan rasa yang khas,” ujar Anisah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang ini menjelaskan, semakin sedikit kadar air biji kopi saat pengeringan, semakin bagus hasil produksinya. Yang menarik, selain diminum, Kopi Sadiroso juga dapat digunakan sebagai masker karena terbuat dari biji kopi asli. “Kopi Sadiroso terbuat dari biji kopi robusta yang kita ambil dari Temanggung, Boja dan sekitarnya,” ucapnya.

Hasil produknya dijual dalam bentuk seduh siap minum bisa dinikmati di kedai miliknya di bilangan Jalan Kedungmundu Raya Semarang. Ia juga menjual kopi secara online di seluruh Indonesia.

“Yang ingin langsung mencicipi bisa datang ke kedai kami. Selain kita jual konvensional atau manual, juga dijual online, dengan memaksimalkan media sosial mulai Facebook, IG, Twitter, Line dan lainya,” promosinya.

Ia mengaku, dalam sebulan bisa menjual 5 -7 kuintal kopi senilai hampir Rp 55 juta. Pembelinya hampir dari seluruh Indonesia. Saat ini permintaan paling banyak datang dari Jakarta dan Bontang. “Langgganan kita banyak dari dua kota tersebut,” akunya.

Aktivis Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Tengah ini menambahkan, penikmat kopi produknya lintas usia, mulai remaja, pemuda, hingga orangtua. “Penikmat kopi kami menyeluruh, baik golongan tua hingga kaum milenial, baik cowok maupun cewek,” klaimnya.

Wahyono Gunung Mahessa, salah satu penikmat kopi asal Kota Semarang menuturkan, dirinya telah hunting ke beberapa kedai kopi di berbagai daerah, Kopi Sadiroso punya khas dan aroma berbeda.

“Kopi Sadiroso merupakan kopi yang unik dengan racikan yang tidak biasa, bahkan Barista tidak akan bisa menyamai rasa dan aromnya. Untuk perokok, Kopi Sadiroso tepat sebagai kawan ngopi, ampasnya bisa dijadikan hiasan pada batang rokok, istilahnya dileletkan. Harganya juga sangat terjangkau,” katanya. (*/aro).