Live Streaming dari Mas Joko

56

Oleh: Dahlan Iskan

Saya bingung. Dua hari putus hubungan. Saya telpon tidak diangkat. Saya WA tidak dibalas.

Saya mulai khawatir: sakitkah ia? Di manakah ia?

Yang saya cari itu Joko Intarto. Yang mengatur tulisan-tulisan saya. Agar bisa muncul di disway.id. Tepat waktu.

Mas Jokolah yang membuat saya membangun disway. Yakni saat ia tahu. Kok tulisan saya tidak pernah muncul lagi di koran. Ia pun tahu. Saya tidak bekerja di koran itu lagi.

“Saya ini pengagum tulisan pak Boss. Ayolah nulis terus,” katanya suatu saat. Ia selalu memanggil saya ‘pak boss’. “Saya bikinkan korannya. Di dunia maya. Gak perlu kertas. Gak perlu mesin cetak,” katanya.

Saya tahu maksudnya: bikin blog. Saya ragu. Selama ini toh sudah banyak blog yang menggunakan nama Dahlan Iskan. Atau Iskan Dahlan. Atau dahlan_iskan. Atau iskan_dahlan. Atau bentuk lain yang mengkombinasikannya dua kata itu.

Saya bilang ke mas Joko: saya tidak mau bikin blog. Biarlah blog yang menggunakan nama saya itu tetap dikira blog saya.

Saya tidak keberatan. Bahkan berterima kasih. Toh isinya baik: meng-up-load tulisan-tulisan saya. Atau tulisan tentang saya.

Tapi mas Joko mendesak terus. Saya menyerah. Saya tahu orang Grobogan Jateng ini tulus. Selalu tulus. Sejak muda dulu.

Saya ingat ini: saat saya masih memimpin koran itu. Kantornya masih di desa: Karah Agung Surabaya. Untuk mengirim koran ke luar kota pun harus dipikul. Ke jalan yang belum jadi.

Waktu itu saya lagi ingin bikin koran di Palu. Di kota yang amat kecil. Kala itu. Saya tidak tahu siapa yang bisa memimpin koran di Palu.

Kebetulan hari itu ada rapat umum karyawan koran Surabaya itu. Biasa. Lesehan di lantai. Saya mulai tidak kenal beberapa karyawan. Yang sudah mulai banyak. Apalagi karyawan yang baru. Yang masih muda-muda belia.

Di akhir acara saya umumkan: rencana bikin koran di Palu. Saya ceritakan betapa kecilnya kota Palu. Betapa sepinya. Betapa jauhnya.

Saya tidak ingin menugaskan seseorang ke sana. Tidak tega. Khawatir menerima tugas itu dengan setengah hati. Mana ada yang mau ditugaskan ke daerah seperti itu? Tanpa janji kesejahteraan yang terjamin?

“Saya ingin tahu. Adakah di antara kalian yang mau ke Palu? Memimpin koran di sana?, “ kata saya. Dengan setengah hati. Dengan pesimisme yang tinggi.

Tantangan itu saya ucapkan sambil setengah bercanda. Tidak berharap sedikit pun akan ada yang unjuk tangan.

Ternyata ada sebuah tangan terangkat ke atas. Dari kerumunan di belakang sana. Anak muda sekali. Anak baru. Atau agak baru.
Saya kaget.