Sulap Tulang Daun Kering Jadi Lukisan hingga Gantungan Kunci

153
BERNILAI JUAL: Prof Amin Retnoningsih bersama Husni Mubarok dari Kriya Tulang Daun Unnes yang tengah melukis menggunakan media tulang daun. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Daun kering yang rontok dari pohonnya ternyata mampu disulap menjadi kerajinan tangan dengan nilai jual yang tinggi. Ya, kriya tulang daun ini bisa diaplikasikan untuk berbagai jenis kerajinan mulai kanvas lukisan, gantungan kunci, hingga dikreasi menjadi bunga unik nan cantik. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

RADARSEMARANG.ID – ANEKA daun kering selama ini hanya digunakan sebagai pupuk ataupun dibuang begitu saja. Namun di tangan Prof Amin Retnoningsih, daun kering ini bisa disulap menjadi aneka kerajinan tangan yang bernilai jual, bahkan menjadi media lukisan yang pernah dikirim hingga ke luar negeri.

“Ide dasarnya adalah pemanfaatan sampah daun yang berlimpah, namun tidak punya nilai ekonomis. Akhirnya, saya coba kembangkan kriya tulang daun menjadi beragam kerajinan,” kata Prof Amin Retnoningsih, penggagas Rasendriya Kriya Tulang Daun Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Untuk membuat kriya tulang daun, lanjut wanita yang akrab disapa Retno ini, membutuhkan bahan cairan kimia kalium hidroksida (KOH) dan air serta daun yang memiliki struktur tulang. Proses pembuatannya pun relatif mudah. Modalnya hanya kesabaran dan ketelitian. “Cukup mudah, air dicampur dengan KOH dengan perbandingan 5 liter air ditambah KOH 3 sendok. Seluruhnya dimasukan ke dalam panci. Selanjutnya daun yang telah dikumpulkan dimasukkan dan direbus menggunakan api kecil,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dalam perebusan, lanjut Retno, memiliki tingkat waktu yang berbeda, tergantung dengan jenis daun yang digunakan. Hal yang paling penting adalah daun yang bisa dipakai pun mudah, yakni semua daun yang bertulang keras. “Semakin keras daun dibutuhkan waktu lebih lama, Daun mahoni adalah jenis daun yang paling cepat waktu perebusannya, sekitar 15 menit,” katanya.

Selain daun mahoni, daun pohon durian juga bisa digunakan sebagai bahan dasar. Setelah daun dimasak mulai melunak, kemudian daun disikat perlahan menggunakan kuas yang lembut, sehingga hanya tulang daunnya yang tersisa. Kemudian dilanjut proses pemutihan tulang daun menjadi putih.

“Untuk proses pemutihan caranya dengan merendam dalam campuran air dan kaporit, dengan perbandingan 1 banding 4 selama 15 menit. Selanjutnya kriya tulang daun bisa dikreasikan sesuai keinginan,” tambahnya.

Hasil dari kerajinan kriya daun ini, lanjut Retno, bisa dibuat aneka macam kerajinan, seperti gantungan kunci, bunga hias, hingga lukisan. Untuk lukisan ia menggandeng alumni Unnes Jurusan Seni Rupa bernana Husni Mubarok sejak dua tahun terakhir. “Yang paling diminati adalah lukisan di atas tulang daun. Bahkan sudah dipesan sebagai oleh-oleh dan dikirim ke Thailand dan Singapura. Sudah ada di seluruh benua sebagai suvenir. Media promosi kita hanya melalui pameran,” ujarnya.

Pihaknya juga menggandeng para mahasiswa yang tertarik untuk ikut bergabung. Juga sudah ada karyawan yang membantu. Saat ini, produksi kriya tulang daun ini sudah mencapai 8 ribu per bulan. “Harapan kami kerajinan tangan tulang daun ini akan terus berkembang dan semakin dikenal serta bisa menembus pasar internasional,”katanya.