Melukis Tempat Wisata, Hasilnya sampai Luar Negeri

Mengenal Komunitas Lukis Cat Air Indonesia (Kolcai) Chapter Semarang

95

Berawal dari kesamaan hobi melukis, belasan orang bergabung dalam Komunitas Lukis Cat Air Indonesia (Kolcai) Chapter Semarang. Mereka melukis tempat-tempat wisata potensial di Kota Semarang dan Jateng. Seperti apa?
M. HARIYANTO

RADARSEMARANG.ID, KOLCAI dibentuk pada 13 Maret 2015. Anggota komunitas ini tidak hanya pekerja seni. Ada juga yang bekerja sebagai advokat, dosen, guru hingga pegawai negeri sipil (PNS) dari berbagai daerah. Di Kota Semarang, anggota komunitas ini telah mencapai puluhan orang.

“Kurang lebih 50 orang. Tapi pilarnya ada 4 orang. Kalau lukisannya dari berbagai aliran, tapi material yang dominan dari cat air,” ungkap Ketua Kolcai Chapter Semarang, Harry Suryo, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (29/11).

Harry Suryo menjelaskan, sebelum terbentuk Kolcai, telah berdiri Komunitas Water Coloris. Selain di Kota Semarang, Kolcai berdiri di Kabupaten Semarang dan Salatiga.

“Setelah Water Coloris di pusat ditarik, lalu kami bikin Kolcai di Kota Semarang. Kita adakan pertemuan di Mojokerto, dan kemudian Water Coloris dibentuk menjadi Kolcai Kota Semarang pada 13 Maret 2015,” bebernya.

Ciri khas komunitas ini adalah melukis dengan metode plein air. Plein air adalah tindakan melukis terhadap suatu objek di tempat terbuka dan diselesaikan langsung di lokasi itu juga. Komunitas ini juga sering berbaur dengan komunitas lain saat beraktivitas, seperti Semarang Sketchwalk (komunitas sketsa).
“Objeknya terserah. Ada bangunan kuno di Kota Lama, Sampokong, Watugong, kelenteng, dan masjid, itu sudah semuanya. Kami sekarang membidik Candi Borobudur. Ya, tujuannya untuk mengenalkan tempat-tempat wisata di Kota Semarang bahkan di Jawa Tengah,” katanya.
Aktivitas melukis bersama, setidaknya dilakukan satu bulan dua kali. Sedangkan Harry Suryo sendiri, karya lukisan yang dihasilkan sudah tak terhitung jumlahnya. Bahkan, banyak juga yang sudah dibawa ke luar negeri untuk dipamerkan. Di antaranya di Hungaria, Italia, India, dan Slovakia.
“Di luar agenda itu, kami juga mengadakan lokakarya rutin utamanya mengenai lukisan cat air. Tidak menutup kemungkinan, kami terkadang melukis di dalam ruangan dengan objek seorang model,” terangnya.
Lukisan hasil karyanya juga sering dibeli warga luar negeri. Meskipun hal tersebut bukan di saat kegiatan pameran, melainkan datang langsung ke rumah tinggalnya di Kecamatan Semarang Timur. Harganya pun fantastis, mencapai puluhan juta rupiah.

“Seni itu kan nilainya tinggi. Kalau misalnya dia suka ya bayar datang langsung. Ada yang tertarik dari Singapura, langsung ke rumah saya. Kemudian lukisna kapal merah, menceritakan kapal berwarna merah. Barusan dibeli, tahun 2018 ini. Lukisan Spiegel dibeli orang Belanda. Kemudian ada yang dari Jepang, lukisan gotong royong kuli panggul di kapal,” bebernya.

Ia mengaku, hobi melukis sejak kecil. Kebetulan Harry Suryo lahir di lingkungan keluarga seniman. Bakat melukisnya semakin tampak ketika duduk di bangku SMA Negeri 3 Semarang. Bahkan ia pernah mendapat penghargaan melukis di Jakarta.