Koleksi Ribuan Kartu Pos, Saling Berkirim ke dalam dan Luar Negeri

Lebih Dekat dengan Komunitas Postcrossing Regional Semarang

127
KOPI DARAT: Para kolektor dan penghobi kartu pos saat bertemu di kantor PT Pos Indonesia. (DOKUMEN PRIBADI)
KOPI DARAT: Para kolektor dan penghobi kartu pos saat bertemu di kantor PT Pos Indonesia. (DOKUMEN PRIBADI)

Berkirim pesan melalui kartu pos ternyata masih diminati, meskipun telah terdapat media komunikasi digital. Banyak keasyikan yang tidak tergantikan dari media tersebut. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

RIBUAN kartu pos tersimpan rapi dalam puluhan album koleksi milik NA Sri Rochmawati. Mulai dari hasil kiriman dari tahun 1990-an hingga bulan lalu yang terbaru. Mulai dari kartu pos kiriman lokal hingga ratusan kiriman luar negeri.

“Sudah sejak lama, sejak SD mungkin saya suka berkirim surat, kartu pos dan koleksi perangko,”ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kegiatan tersebut sempat terhenti karena kesibukan di kampus dan dunia kerja. Kemudian pada 2010, perempuan yang akrab disapa Tiwuk ini melihat beberapa unggahan kartu pos di media sosial, dengan gambar-gambar yang menarik.

“Pada dasarnya memang saya hobi melakukan korespondensi, melihat ada teman yang upload dapat banyak kiriman kartu pos, saya jadi gatal ingin kembali berkorespondensi. Tapi, karena vakum cukup lama, saya banyak kehilangan kontak sahabat-sahabat pena saya,”papar alumnus Undip ini.

Ia pun tergelitik untuk bertanya kepada rekannya tersebut. Ternyata, ia bergabung dalam Postcrossing. Sebuah proyek online mengirim dan menerima kartu pos dalam bentuk fisik dari seluruh dunia.

“Di era digital semacam ini ya, saya pikir kartu pos virtual, ternyata benar-benar kartu pos dalam bentuk fisik. Wah, saya jadi semangat lagi menjalani hobi tersebut. Bergabunglah saya di proyek tersebut, dan ternyata di Semarang juga banyak yang juga ikut bergabung,”ujarnya.

Bagi Tiwuk, banyak hal menarik selama bergabung dalam proyek tersebut. Mulai dari mengasah keahliannya berbahasa asing, menambah banyak teman dari dalam dan luar negeri hingga menyalurkan hobi menulisnya.

“Kebanyakan kartu pos bergambar pariwisata. Jadi, kalau ada negara-negara yang belum bisa saya datangi, ya bisa menikmati dari kartu pos tersebut. Sekaligus berkenalan dengan teman-teman dari luar sana,”katanya.

Selain itu, datangnya kartu pos yang entah dikirim oleh siapa dan darimana juga semacam mendapatkan kejutan. Ada yang sekadar memperkenalkan diri, menceritakan kegelisahan, keseharian, kebahagian, bahkan kadang ada yang menyisipkan cinderamata.

“Ada yang kirim satu amplop isi lebih dari 10 postcard, ada coklat, ada buku, ada magnet. Bahkan, ada yang dari Belanda dan Kanada sampai sekarang malah jadi teman, hampir setiap bulan kami berkirim kartu pos,”ujarnya.

Memang, lanjutnya, kartu pos ini tidak seperti surat elektronik yang dalam sekejap bisa segera diterima. Untuk kartu pos, butuh kesabaran, karena waktunya tidak tentu. Ada yang tiga hari sampai seminggu, bahkan ada yang berbulan-bulan.

Seperti yang diungkapkan oleh Dewi Utami yang juga bergabung dalam Postcrossing. “Sebuah kegiatan yang menarik. Saya juga suka bepergian, mendapatkan kartu pos dari daerah maupun negara lain sangat menyenangkan. Tapi, memang harus sabar, karena kartu pos tersebut harus melintasi banyak tempat sebelum sampai ke tangan kita,”katanya.