1.240 Orang di Kendal Alami Gangguan Jiwa

105

RADARSEMARANG.ID, KENDAL—Tingkat gangguan kejiwaan di Kendal cukup tinggi. Dari data Dinas Kesehatan Kendal, tercatat ada 1.240 jiwa menderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Dari jumlah tersebut, 29 penderita ODGJ dipasung oleh keluarganya.

Gangguan jiwa yang dimaksud tidak psikosis atau gila sepenuhnya. Tapi berbagai tingkatan seperti gangguan kecemasan, gangguan kepribadian, gangguan ketidakmampuan mengontrol keinginan, sindrom respons stress, gangguan disosiatif dan gangguan seksual dan gender.

Demikian dikatakan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kendal, Muntoha saat membuka Seminar Kesehatan Jiwa di Pendopo Kabupaten Kendal, Kamis (15/11/2018). “Jadi gangguan kejiwaan ini dari tingkatan ringan sampai berat,” katanya.

Terkait 29 ODGJ yang dipasung, menurutnya lantaran karena dianggap membahayakan dan mengganggu masyarakat sekitarnya. Selain itu penyebab lain dipasung adalah lantaran keluarga merasa malu. “Jadi oleh keluarga tidak ingin orang lain tahu sehingga dipasung agar tidak mengganggu,” jelasnya.

Dari 29 orang gila yang dipasung tersebut, 13 diantaranya sudah berhasil dirujuk ke RSJ Amino Gondohutomo, Pedurungan, Kota Semarang. Sedangkan 16 lainnya belum karena keluarga belum merelakan untuk dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ).

Diakuinya, pemasungan orang gila secara terapi penyembuhan tidak diperbolehkan. Karena pemasungan justru tidak membuat sembuh, melainkan penyakit jiwa yang dialami semakin parah. “Sehingga begitu dilepas, mereka mengamuk atau mengganggu orang,” paparnya.

Dikatakannya, pihak Dinkes sudah berusaha untuk membujuk keluarga penderita ODGJ untuk memperlakukan penderita ODGJ secara manusiawi. Selain itu menyarankan agar keluarga untuk memasukkan penderita ke RSJ. “Tapi keluarga tidak mau, karena alasan malu. Sebab kebanyakan dari keluarga penderita adalah kalangan menengah kebawah dan pendidikan dan ekonominya,” tambahnya.

Muntoha, mengatakan, ODGJ bukan penyakit menular, akan tetapi hal itu merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu diantisipasi. Sebab trennya, dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. “Jika jumlahnya semakin meningkat, maka menjadi beban ganda dalam pelayanan kesehatan,” imbuhnya. (bud/ap)