Wisatawan Manca Kagumi Batik Tradisional

96
HARGAI HANDMADE : Para wisatawan Eropa sangat mengagumi proses pembuatan batik di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Selasa (13/11) kemarin. M NUR WAHIDI/RADARSEMARANG.ID
HARGAI HANDMADE : Para wisatawan Eropa sangat mengagumi proses pembuatan batik di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Selasa (13/11) kemarin. M NUR WAHIDI/RADARSEMARANG.ID

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG—Sebanyak 60 wisatawan Eropa mengunjungi proses pembuatan batik di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Selasa (13/11) kemarin. Dalam kunjungan tersebut wisatawan kagum dengan pembuatan batik yang masih tradisional dan konvensional.

Dalam kunjungan tersebut, para wisatawan melihat proses pembuatan batik mulai dari proses pembuatan kain dengan menggunakan alat tenun tradisional sampai dengan proses pembuatan batik baik yang tulis maupun batik cap.

“Ini merupakan kali pertama mengunjungi negara Indonesia dan melihat lebih dekat pembuatan batik. Dan ini sungguh luar biasa,” kata wisatawan asal California, C Yudi Sefer, kemarin.

Yudi Sefer mengaku pernah mengunjungi beberapa negara, terakhir India. Tetapi pembuatan batiknya tidak seperti ini dan lebih bagus dari ini. “Sangat senang sekali. Saya takjub melihat masyarakat Jawa dalam pembuatan batik yang dikerjakan secara tradisional,” ungkapnya.

Yudi merasa kagum dengan proses pembuatan batik yang penuh kerja keras, namun menghasilkan karya yang sangat indah dan bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Bahkan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dari mancanegara. “Ini merupakan kerja keras masyarakat dalam menciptakan seni batik menggunakan alat tradisional,” tambahnya.

Kepala Sanggar Batik Semarang 16 Semarang, Suwardi Tatag Sepanto mengatakan bahwa para wisatawan dari mancanegara seperti Jerman dan Belanda, seharusnya mendapatkan kelas membatik. Namun karena kesibukannya yang luar biasa, pihaknya tidak memberikan kelas khusus, tapi memberikan kesempatan untuk melihat proses pembuatan batik. “Karena di tempat ini mereka tidak lama, sehingga tidak punya waktu untuk berlatih membatik,” katanya.

Ditambahkan Suwardi bahwa para wisatawan mancanegara ini sangat menghormati handmade. Menurutnya, proses membatik lebih sulit daripada membuat mobil, terutama tingkat kesabarannya. “Di Jerman ini terkenal dengan membuat mobil mewah, tetapi lebih mewah dan lebih sulit membuat batik yang disana tidak ada,” katanya. (hid/ida)