Kualitas Tanah di Tujuh Kecamatan Menurun

86
KOMPAK: Tim TPID se-Eks Karesidenan Pekalongan dari Brebes hingga Batang bertemu dalam High Level Metting di Hotel Horison Pekalongan, antisipasi libur Natal dan tahun baru.LUTFI HANAFI/RADARSEMARANG
KOMPAK: Tim TPID se-Eks Karesidenan Pekalongan dari Brebes hingga Batang bertemu dalam High Level Metting di Hotel Horison Pekalongan, antisipasi libur Natal dan tahun baru.LUTFI HANAFI/RADARSEMARANG

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Sejak 3 tahun terakhir isu bahwa lahan pertanian di Kabupaten Brebes yang ‘sakit’, karena terlalu berlebihan terkena pestisida, kembali mengemuka dalam Rapat Koordinasi Wilayah (High Level Meeting) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-eks karesidenan Pekalongan di Hotel Horison, pada Selasa (13/11).

“Lahan pertanian di sebagian besar sentra produksi bawang merah sudah rusak. Ada sekitar 50 persen sawah yang rusak akibat terpengaruh pestisida,” kata Asisten 2 Pemerintah Kabupaten Brebes M Iqbal.

Daerah yang paling parah di jalur pantura Brebes dan Brebes tengah, seperti Kecamatan Wanasari, Jatibarang, Tanjung, Larangan, Brebes, Bulakamba, dan Songgom. Hasilnya, rata-rata kualitas tanah di tujuh kecamatan itu rusak ringan hingga sedang, belum sampai rusak berat.

Beberapa indikatornya adalah derajat pelurusan air atau kemampuan menyerap air yang masih rendah, serta kadar keasaman (PH) tanah cukup rendah di bawah 7,0, yakni 4-5.“Banyak tanah yang sakit, terutama memang di area sentra bawang. Untuk itu, kami ingin sosialiasi kembali ke pertanian yang lebih alami,” ucapnya.

Atas fakta tersebut, peserta pertemuan sepakat untuk melakukan perubahan sistem dan budaya. Terutama merubah budaya bertani, beralih dari menggunakan kimia ke alami. Langkah awal BI Tegal akan melakukan pembinaan contoh nyata dengan mengajak sebagian petani beralih sistem demplot, karena menguntungkan dalam jangka panjang,s erta lebih sehat.

“Saya yakin memang tidak mudah, karena butuh waktu dan proses yang panjang. Namun ini langkah kami merubah tradisi agar tanah di Brebes lebih sehat, akan segera kami lakukan,” ucap Kepala KPw BI Tegal Joni Marsius.

Selanjutnya menjelang musim libur Natal dan tahun baru, TPID se-eks Karesidenan Pekalongan yang terdiri dari perwakilan pemerintah daerah tersebut sudah bersiap dengan berbagai langkah. Selain langkah standar, juga bersiap dengan langkah-langkah strategis agar masyarakat tidak dirugikan. “Perlu disikapi pula, bahwa bulan Desember 2018 juga sudah memasuki musim penghujan yang bisa mengganggu ketersediaan stok, panen, gangguan distribusi, dan banjir,” ucap Joni.

Namun dari paparan masing-masing daerah, sudah ditegaskan melakukan berbagai antisipasi. Seperti sidak ke swalayan dan pasar secara rutin, periksa pasokan dari luar daerah. Baik bertujuan mengecek ketersedian barang, juga kualitas barangnya. Bahkan di beberapa daerah juga menambah jumlah stok bahan bakar, seperti di Kota Pekalongan menambah 25 pasokan Gas epliji untuk rumah tangga. (han/bas)