Ekonomi Batang dan Pekalongan Menguat

86
SEMINAR – Pemateri seminar nasional Pengembangan Sumber Daya Wilayah Pantura Dalam Rangka Pengetahuan Ekonomi Kreatif di Era Revolusi Industri 4.0 di Universitas Pekalongan berfoto bersama, Rabu (14/11/2018). (Lutfi Hanafi/ Radarsemarang.Id)

RADARSEMARANG.ID,PEKALONGAN – Wilayah di eks Karesidenan Pekalongan semakin menguat perekonomiannya, terutama di wilayah Kota Pekalongan dan Kabupaten Batang.

Ini dibuktikan dengan angka kemiskinan di Kota Pekalongan terendah dibanding daerah lain se-eks Karesidenan Pekalongan. Sedang kini, Batang menggeliat dalam bidang investasinya.

Fakta-fakta tersebut terungkap dalam seminar nasional Pengembangan Sumber Daya Wilayah Pantura Dalam Rangka Pengetahuan Ekonomi Kreatif di Era Revolusi Industri 4.0, di Universitas Pekalongan Rabu (14/11/2018).

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Pekalongan Doktor Mahirun mengatakan, dari data Badan Pusat Statistik masing-masing daerah mulai dari Brebes hingga Tegal, Kota Pekalongan memiliki jumlah penduduk miskin terendah yaitu 22.500 atau 7,47 persen dari jumlah penduduk.

“Sementara untuk daerah dengan penduduk miskin tertinggi ditempati Kabupaten Brebes dengan jumlah penduduk miskin 343.500 atau sebesar 19,14 persen jumlah penduduk,” jelasnya.

Sedangkan kata Mahirun, dari data yang tercatat di BPS angka penduduk miskin di Jawa Tengah tahun 2018 adalah sebesar 13.01 persen. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap IPMnya. Kota Pekalongan yang menempati urutan kedua se-eks Karesidenan Pekalongan di bawah Kota Tegal.

Kabupaten Batang, menurut Bupati Batang Wihaji dalam perkembangannya mencatat nilai investasi Rp 8,5 triliun dan menjadi nomor dua di Jawa Tengah. Hal ini disebabkan Kabupaten Batang memiliki daya tarik yang tinggi sebagai tempat investasi. Tidak hanya memiliki sumber daya energi listrik namun juga memiliki infrastruktur yang cukup seperti pelabuhan niaga, jalan tol dan jalan pantura.

“Nilai investasi kita tahun 2018 mencapai Rp 8,5 triliun yang masuk dalam peringkat ke dua Jawa Tengah. Tahun 2017 nilai investasi mencapai Rp 6,08 miliar dengan perkiraan penyerapan temaga kerja 9.084,” kata Wihaji.
Menurutnya investasi dan pariwisata dua kesatuan yang tidak bisa dipisahkan di Kabupaten Batang. Dengan adanya investasi bertumbuh pula usaha ekeonomi kreatif dari usaha mikro kecil menengah (UMKM). Sekarang pun banyak bermunculan wisata desa yang tak kalah menarik dengan wisata yang dimiliki Pemkab.

“Kita punya program menciptakan seribu pemuda desa berwirausaha. Untuk pelatihan penciptaaan pemuda berwirausaha kita latih penggunaan teknologi HP untuk memasarkan produknya. Kita juga punya program one village one product yang sudah kita kuatkan dengan regualasi Surat Keputusan (SK) Bupati, “tandasnya. (han/lis)