Ayam Tulang Lunak Kraton Daftarkan Hak Paten

168
KHAS : Ketua umum dan pendiri LEPRID Paulus Pangka (paling kanan) dan pemilik toko Ayam Tulang Lunak Kraton Setiono serta Lindawati saat melihat proses produksi tulang lunak usai penyerahan sertifikat Leprid, Selasa (13/11/2018). (Nur Chamim/Radarsemarang.Id)

RADARSEMARANG.ID,SEMARANG – Selain bandeng dan lunpia, salah satu makanan khas Kota Semarang yang banyak dijadikan buah tangan adalah Ayam Tulang Lunak Kraton.

Pemilik toko Ayam Tulang Lunak Kraton Maria Lindawati Atmodjo, 60, yang merupakan generasi kedua dari orang tuanya Ami Ekowati, mengatakan usaha ini berawal sejak tahun 1986.

”Beliau (orang tuanya, Red) melihat di Semarang ini ada bandeng duri lunak, sehingga muncul ide membuat ayam tulang lunak karena banyak orang suka makan ayam goreng. Namun kadang mereka direpotkan tulangnya keras. Maka, mama saya kemudian membuat masakan ini dan usahanya kami teruskan sampai sekarang,” ungkap Lindawati didampingi suaminya, Setiono, 61, Selasa (13/11/2018).

Penggemar ayam tulang lunak ini sebagian besar adalah pembeli dari luar kota yang wisata ke Semarang. ”Kini bahkan banyak dicari untuk oleh-oleh khas Kota Semarang,” jelasnya.

Mengenai resep cara memasak sederhana, Linda menyatakan ayam dicuci sampai bersih, diberi bumbu-bumbu seperti bawang, garam dan bumbu dapur, tanpa bahan pengawet. Kemudian dimasak dalam panci presto selama 3 jam sambil dijaga tekanannya.

”Setelah itu didiamkan sampai tekanan dalam alat presto normal, ayam dikeiuarkan, ditiriskan, diletakkan di atas piring, lalu siap digoreng,” jelasnya.

Warung yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim 105-107 Kranggan Semarang ini memiliki tiga menu andalan. Yakni ada ayam goreng, ayam bakar, dan ayam panggang Klaten.

Ketiga menu tersebut rasanya berbeda-beda. Jika merasakan ayam goreng Kraton akan terasa kress bercampur sedikit asin karena ditambahkan adonan krispi yang terpisah dengan daging ayamnya. Adapun ayam bakarnya akan terasa manis karena ditambahkan bumbu kecap.

”Bagi yang tak selera asin dan manis bisa mencoba ayam panggang Klaten, rasanya gurih karena diolah dengan santan ala gudeg yang dioles saat pemanggangan,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi merek dagangnya ditiru pihak lain, Lindawati telah mendaftarkan hak paten ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sejak tahun 1998.

Atas prestasi tersebut, Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) mencatat dan menganugerahkan penghargaan kepada toko ini sebagai produsen ayam tulang lunak bermerek pertama di Indonesia.

Penghargaan diserahkan oleh Ketua Umum dan pendiri LEPRID Paulus Pangka kepada Setiono dan Lindawati, Selasa (13/11/2018).

”Harapan ke depan, resep Ayam Tulang Lunak Kraton ini tetap terjaga kelestariannya secara turun temurun, semakin berkembang, dan menjadi kebanggan Kota Semarang serta semakin dikenai sebagai trademark (merek) asli masyarakat lndonesia,” papar Paulus Pangka usai menyerahkan sertifikat. (mim/lis)