Sepi di Tempat Wukuf, Ramai di Bukit Cinta

Catatan Umrah Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang (10-Habis)

204
PERCETAKAN ALQURAN: Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi menerima kitab suci Alquran saat mengunjungi percetakan Alquran di sela ibadah umrah. (BAEHAQI/RADARSEMARANG.ID)
PERCETAKAN ALQURAN: Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi menerima kitab suci Alquran saat mengunjungi percetakan Alquran di sela ibadah umrah. (BAEHAQI/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, Meski tidak berhaji, saya menyempatkan ke Arafah, Mina, dan Muzdalifah. Tempat sebagian prosesi haji dilaksanakan tetapi tidak untuk ibadah umrah.  Ketiga tempat tersebut seperti kota mati. Tidak ada penghuninya. Padahal ketika puncak ibadah haji, tempat itu penuh jamaah. Sekitar dua juta umat muslim tumplek-blek di sana. Tidur seperti pindang. Antrian ke WC bisa sampai beberapa meter.

Saya ke sana naik bus. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam dari Mekah. Jaraknya kira-kira 15 kilometer.

Sebenarnya saya ingin naik kereta api. Dulu tahun 2009 ketika saya ke sana jalan dan stasiunnya masih dibangun. Sekarang sudah beroperasi. Namun operasionalnya hanya musim haji. Itulah satu-satunya kereta di dunia yang beroperasi setahun sekali.

Kelak kereta itu akan digunakan untuk melayani rute Mekah – Madinah dan Mekah – Jedah. Rute Mekah – Madinah sudah dioperasikan awal September lalu. Sedangkan jalur Mekah – Jedah dalam pembangunan. Beberapa potongan jalan kereta yang dibangun itu kelihatan dari bus ketika saya melintas dari Mekah ke Jedah.

Ketika tidak musim haji, Arafah, Mina, dan Muzdalifah menjadi tujuan wisata sebagian jemaah umrah. Namun sasaran utamanya bukan tempat-tempat wukuf, melempar jumrah, maupun penginapan di Mina. Mereka hanya ke Jabal Rahmah. Gunung cinta di wilayah Padang Arafah. Hanya pesta selfi.

Jabal rahmah adalah tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa ketika keduanya diturunkan Allah dari surga ke dunia. Belum diketahui pasti tempat turunnya Nabi Adam dan di mana makamnya. Yang sudah jelas, Siti Hawa turun di Jedah. Dalam petualangannya mereka bertemu di Jabal Rahmah tersebut.

Makam Hawa juga di Jedah. Saya sempat ziarah ke sana. Bentuknya hanya tanah lapang. Tak berumput dan tak bertanaman pelindung. Hanya ada kapling-kapling besar yang tak bernisan. Makam ibu Hawa itu tidak jauh dari Masjid Qisos, tempat pelaksanaan hukum potong kepala dan tangan, serta hukuman badan lainnya di Jedah.

Dari Jabal Rahmah saya sempat mengelilingi sebagian area wukuf. Kondisinya sepi, gung liwang-liwung. Namun kelihatannya adem. Tanaman pelindungnya sudah tinggi-tinggi. Saya tidak tahu namanya. “Kenapa tidak ditanami mangga saja ya,” tanya Ny Taufik dari Semarang. Saya pun tak tahu.

Di sebagian tempat kelihatan rangka-rangka galvalum untuk tenda. Tampaknya kelak tenda di Arafah juga akan dibuat permanen seperti di Mina. Saya belum bisa memastikan. Selama ini tenda di Arafah bongkar-pasang.

Dari Arafah saya menyisir jalur jamaah haji menuju Muzdalifah. Tempat jemaah haji mengambil kerikil untuk melempar jumroh di Mina. Terlihat kerikil bertebaran di mana-mana. Itu kerikil yang habis dipakai melempar jumroh telah dikembalikan lagi ke tempatnya.

Dari Muzdalifah lanjut ke Mina. Jamaah haji menginap di sini tiga malam untuk selanjutnya tawaf ifadloh di Masjidil Haram. Dari atas bus kelihatan hamparan tenda putih tak berpenghuni. Di atasnya ada perangkat  AC yang ditutup plastik warna kuning. Tentu tenda dan AC itu hanya digunakan setahun sekali. Pasti cepat rusak. Sayang semua akses ke jamarot (tempat melempar jumroh) tertutup. Sehingga tidak bisa masuk.