Sebabkan Kanker dan Organ Tubuh Rusak

Bahayanya Konsumsi Rebusan Pembalut

41
Grafis
Grafis

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Saat ini bahaya besar mengintai kaum remaja pinggiran yang suka mengonsumsi air rebusan pembalut wanita demi bisa ngefly dengan harga murah. Pasalnya, semua pembalut mengandung dioksin, polimer dan formalin (bahan pengawet) yang menyebabkan hilangnya sistem kekebalan tubuh dan kanker.

“Jika mengonsumsi rebusan pembalut pada usia remaja, sangat membahayakan tubuh. Terlebih lagi, jika pembalut yang direbus itu pembalut bekas atau telah digunakan. Itu jelas sangat berbahaya lagi, karena ada kemungkinan tercampur dengan spora atau bakteri,” kata Guru Besar Ilmu Kimia Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Dr. rer.nat Heru Susanto ST MT saat dikonfirmasi wartawan, kemarin.

Menurutnya, senyawa dioksin dan formaldehida yang berada pada air rebusan pembalut tersebut, biasa terdapat dalam lem kayu. “Mereka yang biasa fly, akan mencoba mencari material yang mengandung unsur seperti dioksin dan formaldehida itu,” katanya.

Sedangkan Dr Andi Sugiarto, SpRM, (Spesialis Rehabilitasi Medik yang juga dokter konsultasi kesehatan Jawa Pos Radar Semarang) mengatakan bahwa mengonsumsi air rebusan pembalut secara umum dapat memberikan dampak berupa gangguan pencernaan. Ia menduga ada zat toksik di dalamnya dan memang tidak semestinya untuk dikonsumsi. “Sebab itu bukan makanan/minuman. Artinya bukan untuk dikonsumsi,” jelasnya.

Lebih jauh, jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang, dapat menimbulkan gangguan pada saluran pembuluh darah. Selanjutnya, menyebabkan kerusakan organ. “Dalam jangka panjang pembuluh darah bisa mengeras. Hingga terjadi kerusakan organ. Mulai dari mata, otak, ginjal dan lainnya,” kata dia.

Fenomena perilaku menyimpang para remaja yang kecanduan ngefly dengan air rebusan pembalut tersebut membuat Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3 AKB) Provinsi Jawa Tengah prihatin. Apalagi, anak muda ini usianya antara 13-16 tahun, masa depannya masih panjang. “Harus ada upaya-upaya pencegahan agar kasus serupa tidak terjadi pada anak-anak yang masih labil emosinya,” kata Pelaksana Seksi Perlindungan Anak, DP3 AKB, Isti Ilma Patriani, Kamis (8/11) kemarin.

Kendati begitu, kata Isti, pihaknya memastikan belum ada laporan yang masuk terkait permohonan pendampingan anak yang kecanduan rebusan pembalut wanita. Tapi pihaknya akan pro aktif melakukan pemantauan kasus ini. Jika memang membutuhkan pendampingan, pihaknya siap membantu. “Kami akan menerjunkan tim pelayanan terpadu agar bisa memberikan konseling baik kepada anak maupun kepada keluarganya,” tambahnya.

Perilaku yang aneh tersebut menurutnya bisa terjadi karena pihak keluarga yang kurang pengawasan atau pola asuh yang keliru. Bahkan, bisa jadi memang dari anak itu sendiri. “Karena itu, perlu diasesmen dulu. Setelah mendapatkan asesmen, baru bisa melakukan konseling maupun pendampingan psikologis,” jelasnya.

Isti secara pribadi mengakui baru kali ini mengetahui perilaku menyimpang anak-anak yang kecanduan rebusan pembalut wanita. Kalau sebelumnya pernah ada, yang menggunakan lem dan obat Komix yang diminum melebihi dosis sehingga mengakibatkan anak menjadi fly. “Kejadian yang menghebohkan ini, baru kali pertama. Fenomena ini harus dihentikan,” pintanya.

Silakan beri komentar.