Dito Teringat Pesan Terakhir Dari Sang Ayah

Prosesi Pemakaman AKBP Mito, Korban Jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610

61
KEHILANGAN: Prosesi pemakaman AKBP Mito di TPU Jatirogo, Dusun Rejomulyo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Cepiring, kemarin (7/11). (BUDI SETYAWAN/RADARSEMARANG.ID)
KEHILANGAN: Prosesi pemakaman AKBP Mito di TPU Jatirogo, Dusun Rejomulyo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Cepiring, kemarin (7/11). (BUDI SETYAWAN/RADARSEMARANG.ID)

Proses pemakamaman AKBP Mito yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air diwarnai haru dan isak tangis keluarga dan kerabat serta rekan sejawat. Pemakaman dilangsungkan dengan upacara pemakaman kedinasan kepolisian.

BUDI SETIYAWAN, Kendal

RADARSEMARANG.ID, JENAZAH AKBP Mito dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jatirogo, Dusun Rejomulyo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Cepiring. Dalam upacara prosesi pemakaman, betugas menjadi inspektur upacara yakni Irwasda Polda Bangka Belitung (Babel), Kombespol Dicky Kusumawardana.

Mito mendapatkan penghormatan terakhir serta doa dari para pelayat. Namun suasana kesedihan nampak saat peti jenazah akan dimasukkan ke liang lahat. Istri Mito, Dian Anindita tak mampu menahan kesedihannya, namun ia tetap berusaha untuk tegar.

Ia nampak memeluk erat tiga anaknya yang juga ikut dalam pemakaman itu. Wanita yang akrab disapa Dita itu mencoba menenangkan anak-anaknya untuk bisa mengikhlaskan kepergian ayahnya. Yakni dengan memanjatkan doa agar ayahnya bisa tenang di alam sana.

Hal serupa juga ditunjukan oleh ketiga anak mereka, terutama anak pertama yakni Dito Surya. Ia juga menahan kesedihannya dengan memeluk erat ibunya. Nampak air matanya berlinang karena tak kuasa melihat jenazah ayahnya akan dimakamkan.

Dito mengaku banyak kenangan indah bersama sang ayah. Ia juga mengatakan pernah mendapatkan pesan terakhir dari ayahnya sebelum pergi. “Ayah pesan kepada saya, Dito, kamu harus rajin belajar, Jaga adik-adikmu, jaga juga bunda,” kata Dito menirukan nasehat dari ayahnya.

Ia mengaku saat itu dirinya tidak mengetahui jika itu adalah pesan terakhir. Ia tersadar bahwa pesan itu merupakan pesan terakhir saat mendapatkan kabar jika pesawat yang ditumpangi ayahnya jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat.

Dito menambahkan ayahnya mengatakan pesan itu dua hari sebelum ayah pulang ke Babel. Kini Dito harus melaksanakan pesan dari ayahnya itu untuk menjaga keluarganya. “Ayah selalu baik ke semua orang, selalu mengedepankan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan pribadi,” ujarnya siswa SMA Plus Asta Hasna Subang, Jawa Barat itu.

Sementara itu, Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Ferry Sandy Sitepu, menjelaskan bahwa dirinya dan AKBP Mito merupakan satu angkatan saat menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) 1998. Ia mengatakan bahwa AKBP Mito juga dikenal sebagai polisi yang jujur dan baik. Yang dia kenang adalah Mito seorang yang humoris diantara teman-teman lainnya.

“Dia juga punya keahlihan dalam bidang karate. Terakhir berjumpa saat menempuh pendidikan Sespim (sekolah staf pimpinan) 2014. Jadi saat ketemu itu masih sama seperti saat menempuh pendidikan di Akpol. Orangnya baik dan suka guyonan,” tandasnya. (*/bas)

Silakan beri komentar.