Bersyukur, Ada Alumni Panti yang Kuliah S2 di Amerika Serikat

Aloysius Untung Sudono, 40 Tahun Menjadi Pengasuh Panti Asuhan Wikrama Putra Semarang

41
PANGGILAN HATI: Aloysius Untung Sudono (kiri) menimang balita penghuni Panti Asuhan Wikrama Putra. (NANDA AZIZ RAHMAWAN /RADARSEMARANG.ID)
PANGGILAN HATI: Aloysius Untung Sudono (kiri) menimang balita penghuni Panti Asuhan Wikrama Putra. (NANDA AZIZ RAHMAWAN /RADARSEMARANG.ID)

Selama 40 tahun, Aloysius Untung Sudono menjadi pengasuh sekaligus pimpinan Panti Asuhan Wikrama Putra, Ngaliyan, Semarang. Dengan penuh kasih sayang, dia merawat anak-anak terbuang, anak yang tidak diketahui orangtuanya, anak hasil hubungan di luar nikah, dan sebagainya.

NANDA AZIZ RAHMAWAN

RADARSEMARANG.ID, SORE itu, suasana Panti Asuhan (PA) Wikrama Putra cukup tenang. Sesekali terdengar suara anak kecil bermain. Ada yang berlari mengejar temannya dari satu ruangan ke ruangan lain. Ada yang duduk-duduk di sekitar wahana bermain untuk kemudian sesekali mencoba ayunan atau wahana lain.

Sementara penghuni panti yang lebih tua tampak tengah membersihkan halaman ruangan yang cukup lebar dengan sejumlah wahana sederhana untuk anak-anak. Di sekitar itu, ada bayi yang tengah ditimang-timang oleh perempuan paruh baya sembari menyuapkan sesendok makan ke mulutnya yang mungil.

“Di sini tidak hanya anak-anak yang berasal dari Semarang saja. Dari luar kota bahkan luar pulau ada. Mengapa bisa sampai sini ya beda-beda ceritanya. Ada yang karena telantar menjadi gelandangan di jalanan. Ada yang dititipkan langsung orangtuanya lantaran dalam keluarga dianggap aib. Karena anak itu hasil hubungan di luar nikah, macem-macem lah,” ujar Aloysius Untung Sudono, pimpinan dan pengasuh Panti Asuhan Wikrama Putra yang berlokasi di Jalan Wismasari Selatan No 5 Ngaliyan, Semarang.

Pak Untung –sapaan akrabnya– telah menjadi pengasuh panti ini selama lebih dari 40 tahun. Alasan Untung menjadi pengasuh panti demi kemanusiaan, keinginan membantu yang lemah, pengabdian, serta panggilan hati.

“Beberapa alasan itu klise memang, tapi alasan itulah sebaik penghargaan dan penghormatan atas hidup yang diberikan Tuhan. Juga rasa syukur atas nikmat-Nya yang tiada tara selama ini,” katanya.

Bermula pasca tragedi G 30 S/PKI pada 1965, terdapat banyak masalah sosial terutama di kalangan anak-anak. Waktu itu, ceritanya, juga terdapat kemarau panjang. Anak-anak telantar di jalanan. Banyak yang menjadi pengemis dan pengais sisa-sisa puntung rokok. Ada yang lebih beruntung dengan menjadi tukang semir sepatu di tempat-tempat umum, seperti stasiun, terminal dan lain-lain. Pastor Mr HC Van Diense SJ pun tergerak hatinya untuk ikut andil memecahkan ketimpangan tersebut dengan mendirikan PA Wikrama Putra pada 1967.

“Ketika itu, anak-anak dibina dengan softskill khusus, seperti bertani, berternak dan menjadi tukang kayu. Apabila ada yang pintar dan ulet, akan diikutsertakan mendaftar program transmigrasi agar memiliki penghidupan yang lebih baik,” paparnya.
Hingga pada dekade 1070-an, Untung mengikuti jejak Pastor Van Diense menjadi pengasuh bagi anak-anak yang kurang beruntung di panti ini.

Pria asal Jogjakarta ini mengaku berpuluh-puluh tahun menjadi pengasuh di panti ini tidak lantas dirinya menjadi terbiasa dan mudah menghadapi kesedihan-kesedihan anak-anak yang terbuang. Tidak jarang anak-anak mempertanyakan asal-usulnya? Siapa orang tuanya? Dan mengapa ia hidup kurang beruntung seperti itu? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu membuat Untung kelimpungan menjawab. “Mesti hati-hati agar anak-anak tidak terus bersedih dan tetap optimistis dalam mengarungi kehidupan,” ungkapnya.

Silakan beri komentar.