Eduwisata ‘Emas Putih’ Geliatkan Perekonomian Sumogawe

102
BERI PAKAN – Pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas keseharian para peternak. Mulai dari memberi pakan, memerah susu hingga mengolahnya. (NURUL PRATIDINA /RADARSEMARANG.ID)
BERI PAKAN – Pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas keseharian para peternak. Mulai dari memberi pakan, memerah susu hingga mengolahnya. (NURUL PRATIDINA /RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID-PESONA Alam dan warisan budaya merupakan anugerah tersendiri bagi sebuah desa. Namun kepekaan dalam menangkap potensi yang dibalut dengan kreativitas juga perlu diperhitungan sebagai kunci dalam mengembangkan desa wisata. Tak sekedar latah, untuk kemudian tak lagi terdengar gaungnya.

Hal inilah yang tengah diupayakan oleh warga khususnya kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Ken Nyusu Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan dalam merintis Kampung Susu Sumogawe menjadi sebuah desa wisata.

Berbagai produk berbahan dasar susu dipamerkan dalam Sumogawe Expo yang digelar di halaman Balai Desa, baru-baru ini. Mulai dawet susu, es krim susu, stik susu, sabun susu dan sejumlah produk lokal lainnya yang dijuluki ‘Emas Putih Sumogawe’.

Ya, penduduk desa tersebut mayoritas bermatapencaharian sebagai peternak sapi perah. Aktivitas keseharian mulai dari memberi pakan ternak, memerah hingga mengolah hasil perahan menjadi beragam produk berbahan dasar susu ini dinilai cukup potensial untuk dikembangkan sebagai eduwisata.

Belum lagi keasrian suasana desa serta pemandangan hamparan pegunungan yang menjadi sebuah nilai plus. Dua hal tersebut yang lantas dijadikan sebagai modal awal dalam menggaet pengunjung, sekaligus membuka peluang usaha baru untuk meningkatkan pendapatan penduduk setempat.

Supriyono, menjadi salah satu warga yang sangat mendukung perintisan desa wisata. Selain merawat sapi dan menjaga kebersihan kandang, Supriyono mempercantik area yang digunakan untuk eduwisata dengan lukisan polkadot bernuansa hitam putih menyerupai warna kulit sapi.“Adanya pengembangan desa wisata ini memberikan nilai tambah dari aktivitas sehari-hari yang kami lakukan,” ujarnya.

PERCANTIK AREA – Kandang sapi milik warga dicat dengan nuansa khas kulit sapi. Polesan tersebut menjadikan area terlihat lebih menarik. (NURUL PRATIDINA /RADARSEMARANG.ID)
PERCANTIK AREA – Kandang sapi milik warga dicat dengan nuansa khas kulit sapi. Polesan tersebut menjadikan area terlihat lebih menarik. (NURUL PRATIDINA /RADARSEMARANG.ID)

Selain itu, pria yang mulai beternak sapi sejak tahun 1992 ini mengakui adanya pasang surut di sektor yang digelutinya tersebut. Sekitar 2011 lalu misalnya, saat itu komoditas susu murni melimpah melebihi kebutuhan dan banyak yang terbuang. Dari situ mulai ada pelatihan dari pemerintah untuk mengolah susu perah menjadi berbagai produk.

Diversifikasi produk tersebut, diakuinya sangat membantu peternak dalam mengelola produksi susu yang melimpah. Kini, baik susu murni itu sendiri maupun produk olahannya sebagian juga telah banyak diminati, namun sebagian lain masih perlu dipoles dan dikenalkan ke pasar.

“Memang, sempat ada kerjasama dengan sejumlah perusahaan, tapi ada yang bertahan dan ada yang tidak berlangsung lama. Nah, adanya desa wisata ini juga membantu proses pemasaran produk-produk lokal kami. Dengan banyaknya pengunjung yang datang diharapkan produk lokal kami kian dikenal dan semakin memperluas pasar,” ujar pria yang juga mengembangkan produk sabun susu dengan label Thalita ini.

Ketua Bagian Pemasaran Pokdarwis Ken Nyusu Sumogawe, Tiarso mengungkapkan, mengunjungi objek wisata di pedesaan menjadi gaya hidup masyarakat zaman sekarang dalam berekreasi. Pesona alam dan atraksi khas menjadi daya pikat. Desa Sumogawe yang terdiri dari 15 dusun ini dianugerahi dua hal tersebut.

“Fokus kami adalah eduwisata, mengingat mayoritas penduduk di sini bermatapencaharian sebagai peternak. Melalui beberapa paket eduwisata yang kami tawarkan, pengunjung bisa mendapatkan informasi mengenai ternak, memberi makan sapi, memerah susu hingga mengolah susu menjadi produk-produk lain yang juga bernilai jual,” beber Tiarso.

PRODUK OLAHAN – Sabun susu menjadi salah satu produk unggulan warga Desa Sumogawe. Dalam paket eduwisata, pengunjung juga bisa praktik langsung pembuatan sabun susu. (NURUL PRATIDINA /RADARSEMARANG.ID)
PRODUK OLAHAN – Sabun susu menjadi salah satu produk unggulan warga Desa Sumogawe. Dalam paket eduwisata, pengunjung juga bisa praktik langsung pembuatan sabun susu. (NURUL PRATIDINA /RADARSEMARANG.ID)

Diakuinya, jenis wisata serupa sebelumnya telah dirintis di wilayah lain. Namun hal tersebut tak menyurutkan para pegiat wisata di daerah ini untuk terus mengembangkan wisata baru di Sumogawe tersebut. Amati, tiru dan modifikasi menjadi kunci.

“Kami memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Pesona alam dengan latar jajaran pegunungan serta peternakan yang dikelola mandiri oleh tiap warga. Keaslian ini yang turut mendukung eduwisata kampung kami,”ujarnya.

Adapula, kesenian tradisional berupa Tari Prajurit yang kini dihidupkan kembali sebagai welcome dance bagi para pengunjung. Tak ketinggalan kuliner-kuliner tradisional yang memanjakan lidah sekaligus pengantar nostalgia.

Ya, upaya dari Pokdarwis dalam menggeliatkan desa mereka mulai membuahkan hasil. Sejak dirintis pada awal tahun lalu, beberapa rombongan telah berkunjung. Sebagian besar rombongan siswa Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, sesuai dengan sasaran eduwisata. Selain pelajar, ternyata hadir juga rombongan dewasa dan lansia.

“Bagi anak-anak eduwisata semacam ini merupakan rekreasi yang menyenangkan. Sedangkan bagi dewasa maupun lansia, keasrian suasana desa memberi efek relaksasi, begitu juga dengan kuliner tradisional yang membuka memori lalu untuk bernostalgia,”ujar Tiarso.

Meski begitu, ia tidak menampik jika masih terdapat sejumlah tantangan dalam mengembangkan Kampung Susu Sumogawe ini. Diantaranya, meningkatkan kesadaran dan peran serta warga dalam menggeliat kampung mereka, promosi serta pembangunan fasilitas pendukung.

“Untuk promosi kami banyak menyosialisasikan ke sekolah-sekolah. Selain itu, kami juga tingkatkan sinergi dengan agen-agen tour wisata. Desa kami ini tak jauh dari lokasi wisata seperti Candi Gedongsongo dan wisata lainnya. Harapannya, agen tour wisata bisa memasukkan desa kami dalam paket wisata mereka,” imbuh Ketua Pokdarwis Ken Nyusu, Siyamto.

Ia menambahkan, cukup banyak potensi yang bisa digali dari 15 dusun tersebut. Ke depan, direncanakan pula akan dibangun sebuah rest area yang terdiri dari galeri untuk memamerkan produk-produk unggulan dari masing-masing dusun serta fasilitas-fasilitas pendukung untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung, seperti mushola dan kamar mandi. (Nurul Pratidina/bas)

 

Jual Lebih dari Satu Potensi, Utamakan Sinergi

KEARIFAN LOKAL – Warga mengikuti lomba Kelompencapir. (NURUL PRATIDINA /RADARSEMARANG.ID)
KEARIFAN LOKAL – Warga mengikuti lomba Kelompencapir. (NURUL PRATIDINA /RADARSEMARANG.ID)

Beberapa Tahun terakhir desa wisata bermunculan, namun sebagian mulai meredup. Eksplorasi berbagai potensi desa yang saling topang serta sinergi dengan berbagai pihak diharapkan terus digerakkan guna menjaga eksistensi desa wisata.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Urip Sihabudin mengungkapkan persyaratan utama desa wisata yaitu terdapat daya tarik yang diminati wisatawan lokal maupun mancanegara, serta komunitas atau masyarakat yang mendukung pengembangan daya tarik tersebut.“Dua itu sudah dapat menjadikan sebuah desa menjadi desa wisata. Tapi bila ingin eksistensinya terjaga perlu diperhatikan beberapa hal lain,” ujar Urip.

Diantaranya, daya tarik yang unik dan berbeda. Khususnya berbeda dengan desa wisata sekitar, sehingga tidak saling mematikan. Bila desa A sudah mengangkat keunikan alam, maka desa B diharapkan mengangkat daya tarik yang berbeda, entah dari sisi atraksi budaya, pola kehidupan masyarakat atau lainnya.

“Kemudian tidak hanya menjual satu desa potensi saja. Misal memiliki potensi alam, potensi ini baiknya tetap alami tidak diubah-ubah. Agar tidak monoton, bisa digali lagi potensi lain yang dapat menunjang, misal kesenian lokal, kuliner atau lainnya. Selain itu paket-paket wisata juga bisa ditambah dengan melakukan sinergi bersama desa wisata sekitar atau pihak swasta,” lanjutnya.

Sedangkan dari sisi pemerintah, lanjutnya, secara rutin melakukan pembinaan dari segi sumber daya manusia maupun kelembagaan dan pengelolaan. “Tahun ini kami kucurkan dana tidak lebih dari Rp 5 miliar untuk pembinaan dan bantuan pembangunan sarana prasarana guna menunjang eksistensi desa-desa wisata di Jawa Tengah,” pungkasnya.(Nurul Pratidina/bas)

Silakan beri komentar.