Terus Berinovasi, Pertahankan Kebudayaan Lokal

47
DESA WISATA: Sejumlah anak-anak sedang bermain mainan tradisional di desa wisata Kandri, Semarang (Nur Chamim/RADARSEMARANG.ID)
DESA WISATA: Sejumlah anak-anak sedang bermain mainan tradisional di desa wisata Kandri, Semarang (Nur Chamim/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID-Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus melakukan inovasi dan mengembangkan potensi desa wisata di Jateng. Keputusan tersebut, patut diapresiasi, mengingat langkah tersebutbisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Karena, angka kemiskinan di Jawa Tengah masih banyak didominasi masyarakat pedesaan serta masyarakat pinggiran. Dengan semakin banyaknya desa wisata otomatis, akan mendongkrak perekonomian masyarakat di Jawa Tengah.

Saat ini, setidaknya tercatat ada 400 desa yang memiliki potensi menjadi desa wisata dengan berbagai ciri khas masing-masing daerah. Inovasi memang dibutuhkan agar potensi wisata di desa bisa terus menarik minat public. Disisi lain, pemberdayaan desa menjadi penting supaya nilai-nilai kearifan lokal masih terjaga dan dilestarikan. Hal itulah yang menjadikan sejumlah desa di Jateng mampu berkiprah dan membuktikan diri sebagai sebuah wilayah yang di satu sisi mampu menjaga nilai lokal, di sisi lain menerima perkembangan sosial dalam hal ini teknologi informasi.

Satu sisi, pengelolaanya bekerja sama kemitraan yang dilakukan oleh pengelola desa wisata dengan pihak ketiga dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa wisata. Kerja sama kemitraan bisa dilakukan kedua belah pihak. Pihak pertama, pengelola wisata dalam hal ini Pokdarwis, LMDH, Karang Taruna, dan bisa juga dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Kerja sama pengelolaan desa wisata dapat berbentuk kerja sama bagi hasil usaha, produksi, manajemen dan bagi tempat usaha.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Disporapar Jateng, Prambudi mengatakan, potensi 400 desa tersebut harus dioptimalkan. Karena, jika dikelola dengan bagus jelas akan meningkatkan ekonomi masyarakat berbasis pedesaan. Saat ini setidaknya sudah ada 229 desa wisata yang terdaftar dari 400 potensi desa wisata di Jateng tersebut. “Dan itu akan lebih efektif, sekaligus sebagai upaya mengurangi pengangguran dan kemiskinan yang ada di desa-desa se Jateng,” katanya.

Ia menambahkan, pariwisata terus berkembang. Jadi, tak bisa hanya monoton, karena jika objeknya itu-itu saja dan tak ada daya tarik yang baru, akan ditinggalkan. Untuk pengembangan destinasi wisata, memang diperlukan inovasi. “Inovasi harus sesuai dengan selera masyarakat, atau menampilkan sesuatu yang baru dan unik. Itu akan efektif menarik minat orang berkunjung,” tambahnya.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Yudhi Sancoyo mengatakan, potensi desa wisata harus dioptimalkan. Sebab, jika wisata digarap maksimal jelas akan meningkatkan perekonomian dan pendapatan Jateng. Karena banyak wisata yang terabaikan di Jateng. Untuk itu, butuh inovasi lebih, agar apa yang dimiliki Jateng memberikan manfaat untuk masyarakat. “Ini pekerjaan besar yang harus diselesaikan, bagaimana mengoptimalkan potensi desa wisata,” katanya.

Sebenarnya, berbicara potensi desa wisata sangat besar dan setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Tinggal bagaimana pemerintah campur tangan memolesnya agar potensi tersebut bisa lebih maksimal. “Ya tetap harus ada peran pemerintah, bisa dengan memberikan support anggaran dan memasarkannya agar diketahui masyarakat banyak,” ucapnya.

Ia menambahkan, pengelompokan wisata dibutuhkan agar pemetaan maksimal. Mulai wisata budaya, alam, dan wisata buatan. Soal desa wisata, kelompok masyarakat harus dilibatkan dan secara mandiri turut mengelola desa menjadi destinasi wisata. “Masyarakat harus ikut berpartisipasi dalam pengelolaannya. Kami melihat masyarakat Jateng bisa gotong royong agar potensi desa wisata bisa memberikan manfaat yang besar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” tambahnya. (fth/ap)

Silakan beri komentar.