Terseret Lumpur 1 Km, Terjebak 3 Jam, Fahrozi Masih Hidup

13 Warga Batang Korban Gempa Sulteng Dipulangkan

48
BERKISAH - Korban selamat bencana gempa bumi dan tsunami di Sulteng asal Batang menceritakan kisahnya di rumah dinas Bupati Batang, Minggu (7/10/2018). (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)

Raut lelah masih tampak pada raut wajah warga Batang yang baru pulang dari Palu, Sulawesi Tengah. Mereka adalah korban bencana gempa dan tsunami yang selamat dan kembali pulang ke Batang. Bagaimana ceritanya?

Lutfi Hanafi, Batang

Dari 27 warga Batang Jawa Tengah yang dinyatakan hilang di kawasan terkena bencana di Sulawesi Tengah, sebanyak 13 orang berhasil selamat. Warga Kecamatan Reban Kabupaten Batang ini berhasil dievakuasi dan dipulangkan Pemkab Batang sampai ke tempat tinggalnya.

Wajah-wajah mereka masih terlihat letih, setelah melakukan perjalanan cukup panjang. Proses pemulangan mereka menggunakan pesawat Hercules dari Bandara Mutiara Sis Aljufri Sulawesi menuju Lanud Sultan Hasanudin Makassar. Dilanjutkan penerbangan ke Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta Timur. Kemudian dijemput oleh personel Pemkab Batang berlanjut perjalanan darat menuju Batang.

Adapun dari 13 orang yang berhasil dipulangkan adalah Riyanto Teguh Santoso, Mahyun, Giyono, Sujud warga Desa Sukomanglu Reban; Wasto warga Dukuh Gumelem, Pecalungan; Nasoha adal Sukomangli, Reban; Nurhadi asal Gerjo, Reban. Kemudian Miskam asal Sukomangli, Reban; Kasmudi asal Tombokboyo, Reban, Sopi’i asal Padomasan, Reban; Saiful Mungminin asal Sukomangli, Reban dan Fahrozi asal Sukomangli, Reban.
“Saat kejadian saya masih antre mandi sore hari,” ucap Fahrozi, 30, warga Desa Sukomangli Kecamatan Reban dengan nada trauma.
Dia berkisah, saat antre mandi tiba-tiba terdengar suara ledakan disertai suara pohon tumbang dan lumpur. Mendadak, ada pergerakan tanah lumpur dengan cepat. Dia sudah mencoba lari, namun kalah dengan lumpur.
“Saya terseret lumpur sejauh 1 km dan tenggelam dalam lumpur selama 3 jam,”ceritanya.

Dirinya sempat pasrah karena tenggelam dan terendam lumpur, hanya menyisakan kepala. Setelah berjam-jam, dia berhasil menyelamatkan diri, mengangkat badannya ke atas di tengah suasana gelap gulita. “Setelah capek merangkak, alhamdulillah saya ditemukan oleh relawan,” ceritanya.

Tak beda juga cerita Saiful Mukminin, 35, tetangganya yang juga selamat dari maut karena berdekatan.
“Hanya saja saya ditemukan dulu oleh tim SAR dan saya langsung berusaha ikut mencari teman yang lain,” kata Saiful Mukminin dengan nada rendah, lelah.

Silakan beri komentar.