Larung Kepala Kerbau, Syukur Atas Berlimpahnya Rezeki

98
LARUNG - Bupati Batang Wihaji bersama Kapolres Batang AKBP Edi Suranta Sinulingga bersiap melarung sesaji kepala kerbau ke tengah laut bersama masyarakat nelayan Klidang Lor, Minggu (7/10/2018). (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID,BATANG – Tradisi budaya nyadran dengan melarung kepala kerbau sudah menjadi agenda tahunan dan destinasi wisata masyarakat nelayan Desa Klidang Lor Kecamatan Batang. Seperti yang digelar Minggu (7/10/2018).
“Saya nyakin kalau kita selalu bersahabat dengan alam, alam pasti bersahabat dengan kita,” kata Bupati Batang Wihaji setelah ikut melarung bersama Kapolres Batang AKBP Edi Suranta Sinulingga.

Tradisi nyadran sendiri kata Wihaji merupakan wujud syukur atas nikmat kepada Allah SWT juga menjaga kearifan lokal. Ia juga meminta masyarakat nelayan untuk tidak larut dalam kegembiraan, dan harus perbanyak doa dan bersyukur.

“Jaga alam semesta kita, perbanyak beribadah dan berdoa agar kita selau diberikan keselamatan dan limpahan rezeki dan dijauhkan dari bencana,” ajak Wihaji kepada masyarakat nelayan.

Bupati juga mengucapkan terima kasih kepada Kapolres Batang AKBP Edi Suranta Sinulingga dan Komandan Kodim 0736 Letkol Kav Henry Nqpitupulu yang telah bersinergi dengan masyarakat nelayan yang selama ini membantu memberikan izin melaut.

“Ke depan Pemkab akan merencanakan pembangunan tempat pelelangan ikan higienis, agar hasil tangkapan ikannya bisa lebih baik dan nelayan lebih sejahtera,” kata Wihaji.

Ketua HNSI Kabupaten Batang Teguh Tarmujo mengatakan, tradisi nyadran merupakan kegiatan ritual tahunan sebagai wujud syukur atas nikmat Tuhan selama satu tahun.

Dijelaskan pula larung kepala kerbau sebagai simbolik, karena dalam bahasa Jawa itu kebo yang artinya kebodohan sehingga membuang perilaku yang bodoh dari pemikiran masa lalu. “Buang kebodohan masa lalu, dan masyarakat nelayan harus berpikiran maju untuk menghadapi tantangan ke depan,” tandasnya. (han/lis)

Silakan beri komentar.