Dinyatakan Tempat Bakar Gamping, Ternyata Bangunan Candi

Situs Bersejarah Terselamatkan karena Tulisan Karya Ilmiah Pelajar

206
SUKARELA: Mantan ketua RT 02 Dusun Kersan, Desa Karanganyar Sontorejo yang sering membersihkan Candi Sirih. (DYAH AYU FIRDARINI/RADAR SOLO)
SUKARELA: Mantan ketua RT 02 Dusun Kersan, Desa Karanganyar Sontorejo yang sering membersihkan Candi Sirih. (DYAH AYU FIRDARINI/RADAR SOLO)

RADARSEMARANG.ID – Belum banyak yang tahu bahwa di Dukuh Kersan, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo terdapat benda bersejarah bernilai tinggi. Berbentuk candi dengan bentuk sudah tidak sempurna.

DYAH AYU FIRDARINI, Sukoharjo

WAJAR jika candi tersebut tidak terlalu dikenal. Sebab sebelumnya kondisinya tidak terurus. Letaknya di pekarangan rumah warga dipenuhi semak belukar. Namun, pemkab melalui dinas pendidikan dan kebudayaan Sukoharjo mulai bergerak dengan mendaftarkan candi itu sebagai benda cagar budaya (BCB) pada 2017.

Beberapa kali penelitian dilakukan pada candi yang diberi nama Candi Sirih tersebut. Sayangnya, hasil penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa tumpukan batu tersebut hanya berupa bekas tobong alias tempat pembakaran gamping atau batu kapur. Ini membuat warga setempat kurang peduli dengan situs tersebut karena dianggap tidak bernilai.

Hasil penelitian berbeda diungkap tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Mereka menyatakan bahwa situs yang mengalami kerusakan itu merupakan candi. Dari situ, perhatian mulai mengalir ke Candi Sirih. Bentuknya sebagai candi semakin terlihat setelah dilakukan pembersihan. Tapi sayang, kondisi candi sudah rusak parah. Sebagian besar dinding dari susunan batu telah roboh. Hanya menyisakan dinding sisi selatan.

Situs tersebut menempati lahan seluas 10×10 meter persegi. Mencegah kerusakan lebih parah, pemkab memasang pagar kawat berduri. Lalu, kenapa dinamakan Candi Sirih? Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sukoharjo Agus mengatakan, nama Sirih diperoleh dari kata sesirih yang artinya bersemedi.

Dahulu banyak warga dari luar daerah yang bersemedi di Candi Sirih. Dilihat dari bentuk dan material batu, lanjut Agus, candi tersebut mirip dengan tempat sembahyang bagi umat Buddha.

Tidak kalah menariknya, keberadaan Candi Sirih bisa sampai ke telinga pejabat pemkab bermula dari lomba karya tulis ilmiah tingkat SD, SMP, dan SMA yang digelar dinas pendidikan dan kebudayaan. Salah seorang peserta menuliskan kondisi memprihatinkan situs tersebut.

Tim pemkab kemudian mengecek ke lokasi dan Candi Sirih diyakini dapat dikriteriakan sebagai BCB sesuai Undang–Undang Nomor 11/2010 tentang Cagar Budaya. Langkah selanjutnya, pemkab mengirim surat ke BPCB Jawa Tengah agar dilakukan penelitian lebih lanjut.

Hasil penelitian awal, BPCB Jawa Tengah memastikan bahwa bangunan tersebut merupakan candi. Kepastian itu bisa terlihat dari konstruksi candi dari patahan-patahan batu. BPCB juga mengimbau warga setempat ikut menjaga dan merawat candi agar kerusakannya tidak semakin parah.

Imbauan tersebut juga diimbangi sosialisasi dari dinas pendidikan dan kebudayaan Sukoharjo berlanjut dengan studi kelayakan oleh BPCB. Hasil studi kelayakan tersebut untuk memberikan masukan kepada pemkab guna memutuskan langkah selanjutnya. Di antaranya menerbitkan surat keputusan (SK) Bupati Sukoharjo untuk menetapkan Candi Sirih sebagai BCB.

Silakan beri komentar.