Biar Bahaya asal Konsumen Lega

Ketika Over Dimensi dan Overloading Truk Disepelekan

176
DEMI KESELAMATAN: Kendaraan angkutan berat mangkal di ring road Mojosongo. Pemerintah memperketat aturan modifikasi dimensi truk. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
DEMI KESELAMATAN: Kendaraan angkutan berat mangkal di ring road Mojosongo. Pemerintah memperketat aturan modifikasi dimensi truk. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

RADARSEMARANG.ID – Kementerian Perhubungan sedang gencar-gencar menyosialisasikan aturan over dimensi dan over loading (Odol) kepada pemilik kendaraan angkutan berat. Sosialisasi tersebut harus dilakukan ekstrakeras. Sebab, fakta di lapangan regulasi sering kalah dengan urusan perut.

SUDAH menjadi rahasia umum banyak kendaraan angkutan berat yang memodifikasi dimensinya. Alasannya sederhana, agar dapat lebih banyak mengangkut muatan. Meskipun sebenarnya pemilik dan sopir angkutan sadar bahwa hal tersebut membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Salah seorang sopir truk Tutut Ridwan mengatakan, truk yang biasa dibawanya memilik sasis dengan panjang 6,5 meter. Tapi, panjang bak truknya mencapai 8 meter. Tidak hanya diperpanjang, tinggi bak truk dimodifikasi dari 90 sentimeter menjadi 1,5 meter.

“Saya cuma bagian bawa (sopir, Red). Yang mengubah (dimensi bak truk, Red) yang punya (truk, Red). Yang diubah cuma panjang sama tingginya bak. Lebarnya tetap 2,5 meter,” ujarnya ditemui di kawasan ring road Mojosongo.

Karena dimensi bak truk telah diubah, maka volume muatan menjadi lebih banyak alias overloading. Tutut paham, dengan beban muatan berlebih tersebut menjadi truk lebih sulit dikendalikan. Bahkan dirinya punya pengalaman sasis truknya patah.

“Pernah truk tidak kuat menanjak karena kelebihan beban. Untung tidak sampai gelondor. Ditanjakan, roda harus diganjal ban dan melaju pelan-pelan. Ya mau bagaimana lagi, risikonya seperti itu. Sering ditegur petugas,” tegas Tutut yang siang itu membawa angkutan semen.

Karena truk lebih sulit dikendalikan akibat overloading, potensi terjadinya kecelakaan semakin besar. Tutut pun pernah menyampaikan kekhawatirannya itu kepada pemilik truk. “Tapi malah saya kena marah. Saya pilih manut daripada dipecat,” katanya.

Di tempat yang sama, Jawa Pos Radar Solo bertemu salah seorang pemilik kendaraan angkutan berat. Sebut saja Ateng. Dia memiliki lima unit truk yang tiga di antaranya diubah dimensinya. Tujuannya untuk mendapat keuntungan berlebih.

Memodifikasi dimensi truk tidak sesuai standar tersebut, lanjut Ateng, juga karena permintaan pelanggan yang biasa menyewa truknya untuk mengangkut barang. “Biar semua barang muat diangkut sekali jalan. Yang punya barang tidak mau rugi. Kalau diantar dua kali, pengantaran kali kedua cuma dibayar setengah harga. Rugi saya, padahal jaraknya sama, otomatis beli solarnya juga sama,” bebernya.

Modifikasi bak truk dilakukan Ateng di garasi miliknya di Kabupaten Rembang. Dia mencontohkan, jika dimensi truk tidak diubah, tiga truk hanya dapat mengangkut beban masing-masing 4 ton. Setelah dimodifikasi, volume barang yang diangkut bisa mencapai 5-6 ton.

Pria yang menekuni bisnis penyewaan truk selama 15 tahun ini mengetahui risiko keselamatan memodifikasi dimensi truk bagi anak buahnya. Tapi, dengan enteng dirinya mengatakan itu menjadi tanggung jawabnya. “Mau truknya rusak atau kenapa-kenapa, itu urusan saya,” katanya.

Silakan beri komentar.