Pasar Kopi Belum Tergarap Maksimal

76
PROSES PEMBUATAN KOPI: Salah satu petani kopi robusta di Kecamatan Jambu saat melakukan proses penjemuran biji kopi, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PROSES PEMBUATAN KOPI: Salah satu petani kopi robusta di Kecamatan Jambu saat melakukan proses penjemuran biji kopi, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, UNGARAN – Para petani kopi robusta di Kecamatan Jambu masih belum mampu merasakan hasil dari panennya. Hal itu dikatakan oleh Camat Jambu Moh Edy Sukarno, Kamis (30/8). Dikatakan Edy, untuk mewujudkannya dibutuhkan sejumlah trobosan dan juga komitmen bersama yang melibatkan Pemkab Semarang.

“Butuh peran pemerintah, daya ungkit sangat diperlukan guna menyelamatkan para petani kopi. Apalagi saat ini nilai tukar petani tidak sebanding dengan nilai tukar barang dan jasa,” katanya.

Saat ini di Kecamatan Jambu terdapat ada 3.663 kepala keluarga pemilik lahan kebun kopi dengan luasan lebih kurang 948 hektare. Luasan tersebut, dapat menghasilkan green bean kopi 750 ton hingga 1.100 ton atau 850 kilogram/hektare.“Adapun hasil panen tertinggi, bisa tercapai setiap empat tahun sekali. Siklus tersebut sudah terjadi 2017,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu komoditas kopi robusta dari kebun rakyat di Kecamatan Jambu mulai dipasarkan ke Timur Tengah setelah sebelumnya masuk pasar Jepang, Kanada, Prancis, Italia, dan Inggris.“Jika dahulu para pejuang berperang dengan senjata, kini petani harus ada solusi agar tidak dihimpit kapital. Jelas mati jika tidak bergerak dari sekarang,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu Pendamping Petani Kopi di Kecamatan Jambu, Rosyid menjelaskan trobosan dan pengembangan lahan rendah karbon yang diterapkan di lereng Gunung Kelir Jambu sudah mendapat pengakuan dari lembaga sertifikasi organik.

Ditandai dengan keluarnya sertifikasi dari Indonesia Organic Farming Certification (INOFICE) yang berkedudukan di Bogor, Jawa Barat. “Sertifikat tersebut diterima oleh Kelompok Tani Karya Bakti II, Dusun Gendongan, Brongkol, Kecamatan Jambu pada 13 Agustus 2018,” kata Rosyid.

Dalam kelompok tani tersebut, lanjutnya, ada 55 orang petani pemilik 56.044 pohon yang ditanam di lahan seluas 35,0597 hektar. “Pascaditerimanya sertifikasi itu, kopi dari Kelompok Tani Karya Bakti II diberikan hak untuk menggunakan Logo Organik Indonesia,” ujarnya.

Terpisah, pengurus Kelompok Tani Karya Bakti II, Harno, 50, warga RT 01 RW V Dusun Gembongan, Brongkol mengatakan, selama dua tahun terakhir dia bersama anggota kelompok memang konsen terhadap pengolahan kopi rakyat. “Selain green bean, masyarakat bisa memperoleh olahan kopi honey, kopi wine, serta olahan kopi fullwash dan kopi semiwash,” kata Harno.