Embung Jadi Solusi Saat Kemarau

260

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Keberadaan embung sebagai tempat penyimpanan air sangat dibutuhkan untuk musim kemarau di Jateng. Melalui program 1.000 embung, cadangan air sangat dibutuhkan baik untuk pengairan maupun ketersediaan air baku.

Anggota Komisi D DPRD Jateng, Moch Ichwan mengatakan bahwa program 1.000 embung untuk Jawa Tengah menjadi solusi mengatasi kekeringan. Namun sejauh ini baru 75 yang terealisasi dan sudah dibangun. Ia mengajak agar masyarakat melihat kendala-kendala apa yang dihadapi dalam proses pembangunannya. “Sejauh ini terkendala perizinan tanah. Menurut saya masalah itu yang menghambat,” ungkapnya dalam Diskusi Bareng Parlemen “Mengakhiri Kekeringan di Jateng”.

Ia menambahkan, pemakaian embung yang sudah dibangun tersebut perlu ada kerja sama bersama masyarakat setempat. Terutama dalam pemakaian air dengan sebaik-baiknya. Hal itu sebagai langkah agar pemanfaatnya benar-benar langsung dirasakan oleh masyarakat. “Efeknya harus dirasakan langsung masyarakat, makanya harus melibatkan secara langsung,” ucapnya.

Sebelum pembangunan embung, tentu Dinas Pusdataru sudah membuat desain-desain. Dimana agar pembangunan embung tersebut dapat tepat guna dan sasaran. Selain itu, dinas sudah mengkaji, mengevaluasi daerah yang memang tepat disediakan embung. Persoalan tanah ini juga harus segera bisa terselesaikan dengan cepat dan baik agar cepat terbangun embung-embungnya. “Kami berharap program embung bisa tuntas dan pembangunan bisa tepat waktu,” tambahnya.

Kepala Bidang Irigasi dan Air Baku Dinas Pusdataru Jawa Tengah, Ketut Arsa Indra Watara mengungkapkan bahwa pihaknya terus melakukan sosialisasi terkait keterlibatan masyarakat untuk pemanfaatan embung. Pihaknya mengklaim sudah banyak tangki yang dikirimkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tetapi masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

“Sudah sebanyak 5.221 tangki tiap hari sudah dibagi. Kendala ini cukup membuat pemerintah lebih seksama lagi dalam pembangunan embung agar embung dapat digunakan masyarakatnya secara awet,” katanya.

Untuk penanganan embung memang tidak mudah, dalam hal ini terkait iklim serta curah hujan yang tidak pasti karena proses global warming itu sendiri. Perlu antisipasi mengenai data iklim yang harus ikut diperbaharui dan ditekankan sebelum penetapan tempat pembangunan embung. “Secara siklus sebenarnya cukup, namun kaitannya dengan embung, faktor penting yang ikut adalah iklim. Kalau curah hujan rendah pasti akan menimbulkan kekerangan ekstrem,” tambahnya. (fth/ida)