WOM, Promosi Paling Ampuh Era Disruptif

221
Oleh : Dyah Titisari A
Oleh : Dyah Titisari A

RADARSEMARANG.COM – ERA disruptif yang belakangan ramai dibicarakan membuat perubahan dalam banyak aspek. Jika beberapa waktu terakhir perusahaan banyak mengandalkan iklan yang merupakan sebuah bentuk komunikasi pemasaran satu arah dan berbayar untuk kegiatan promosinya, saat ini perusahaan dituntut untuk lebih kreatif dalam berpromosi. Bukan berarti iklan sudah tidak efektif; karena dari segi daya jangkau yang luas, iklan dapat dikatakan masih efektif. Namun, saat ini sudah banyak konsumen yang tidak memperhatikan bahkan mulai menghindari iklan. Selain itu, biaya iklan yang juga relatif mahal membuat bentuk promosi lain perlu dipertimbangkan untuk dilakukan. Dalam teori pemasaran, ada beberapa cara perusahaan untuk melakukan kegiatan promosi. Ada iklan, promosi penjualan (contohnya diskon), penjualan personal, publisitas, menjadi sponsor acara tertentu, penjualan langsung, hingga WOM. WOM (Word Of Mouth) atau istilah Jawa-nya adalah “getok tular” adalah salah satu cara mengomunikasikan produk yang cukup populer. Istilah ini mengacu pada kegiatan promosi yang secara tidak langsung dilakukan oleh konsumen kepada konsumen lain. Dalam hal ini WOM bukanlah sesuatu bentuk promosi yang dibuat oleh produsen, namun produsen dapat memicu timbulnya WOM di kalangan konsumen.

Banyak data menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di Indonesia telah menggunakan internet, dan bahkan banyak yang aktif di media sosial terutama dengan smartphone mereka. Tidak heran, sekarang banyak hal yang mudah sekali menjadi viral. Hal yang mudah menjadi viral ini ada sisi buruk, namun ada sisi baiknya juga. Buruknya adalah banyak anak yang tidak tahu esensinya, tetapi hanya ikut-ikutan mem-viralkan sesuatu yang bahkan kurang sesuai dengan usianya. Namun bagi perusahaan, fenomena ini akan sangat menguntungkan mereka. Dulu ketika ada salah satu perusahaan yang bergerak di bidang food and beverages (industri makanan dan minuman) yang meluncurkan makanan ringan dengan rasa mi instan legendaris yang ada di Indonesia, makanan ringan ini cukup booming dan banyak dicari di kalangan remaja. Makanan ringan tersebut pertama kali muncul di salah satu platform media sosial yaitu instagram, dan kemudian banyak memicu penasaran. Setelah beredar di pasaran, tanpa perlu beriklan, produsen hanya tinggal menunggu konsumen yang sudah mengonsumsi makanan ringan tersebut dan memberikan testimoni/review di media sosial miliknya. Dengan semakin banyak yang melihat testimoni tersebut, akan semakin banyak pula calon konsumen yang penasaran dan pada akhirnya tertarik untuk mencoba.

Apakah konsumen tersebut dibayar untuk memberikan testimoni? Jika mereka tidak ada kontrak endorse/tindakan untuk mendukung produk berdasarkan perjanjian kerjasama, maka konsumen tersebut tidak dibayar. Lalu apa keuntungan bagi konsumen tersebut? Mengonsumsi suatu produk yang sedang tren adalah kebanggaan tersendiri bagi kaum muda saat ini. Dengan mengonsumsi produk tersebut, mereka seolah-olah mengalami experience yang sama dengan orang lainnya dan memiliki persamaan bahan pembicaraan dengan temannya. Karakteristik generasi saat ini juga sangat bangga bila rekomendasinya disetujui dan bahkan diikuti oleh orang lain.