Seni Mengajar dengan Mengenali Konteks Siswa

340
Oleh : Shofyan SAg
Oleh : Shofyan SAg

RADARSEMARANG.COM – “SAYA suka ibu Puji, karena dia menerangkan sesuatu materi dengan jelas. Ketika saya mendapatkan kesulitan ia selalu membantu untuk menemukan jalan keluar. Selain itu, ia selalu berkata ‘jangan takut sebelum mencoba’ sehingga kalimat tersebut memotivasi saya.” Itulah kutipan tulisan siswa baru pada hari pertama di kelas. Mereka para siswa barusaja meninggalkan bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Mereka saya minta untuk mengingat para guru yang pernah mengajarnya, lantas menuliskan yang paling mengesankan. Hasilnya memang memunculkan kesan suka atau tidak suka. Yang pertama-tama diingat oleh siswa pastilah yang dilakukan gurunya, bukan yang diajarkan. Isi pelajaran bisa lewat dari ingatan, tetapi perlakuan para guru akan membekas sepanjang hidup.

Tidak ada maksud untuk mengingat luka batin atau ketidaksukaan pada masa lalu. Mempersilakan siswa membuka ingatan akan gurunya merupakan salah satu tahapan yang disebut preleksi. Pada hari pertama perjumpaan di kelas, setiap siswa pasti telah membawa pengalaman akan para gurunya yang lampau atau pengalaman dalam pembelajaran sebelumnya. Para siswa mempunyai harapan, angan-angan atau cita-cita terhadap para gurunya yang baru.

Harapan para siswa itulah yang acapkali berbenturan dengan paradigma guru mengenai murid. Tak jarang setelah pertemuan pertama di kelas-kelas para guru memberi komentar atau cap terhadap murid-murid di dalamnya. Ada kelas yang dianggap oleh guru sebagai kelas pasif, pendiam, suka ribut, tidak bisa tenang atau hiperaktif. Banyak guru yang tidak mau berhenti memberikan cap-cap saja. Mereka berusaha mengelola keragaman kelas tersebut demi tercapainya proses pembelajaran.

Sebuah pengalaman nyata pada hari pertama dialami teman penulis di pulau seberang yang berprofesi sebagai guru. Kelas yang diampunya terasa pasif, bahkan ada kesan muridnya takut terhadap guru. Yang dikhawatirkan oleh guru adalah sikap pasif itu menandakan rendahnya antusiasme dan daya serap siswa yang rendag terhadap pelajaran. Jika antusiasme rendah dalam waktu yang berkepanjangan, guru akan menempuh cara-cara yang keras untuk menekan siswa. Guru pun menyadari pilihan pendekatan yang keras tentulah tidak ideal.

Situasi inilah yang kemudian memunculkan istilah “seni mengajar”, yakni kelihaian guru menghidupkan kelas pasif atau mengendalikan kelas yang hiperaktif. Bekal penting bagi guru untuk menciptakan seni mengajar adalah mengenali konteks siswa. Konteks siswa berkaitan dengan latar belakang sosial, kemampuan akademis, bahkan cita-cita dan harapan setiap siswa. Jadi, pada awal tahun pelajaran atau pada hari pertama masuk sekolah yang menjalani masa orientasi bukan hanya siswa. Tetapi para guru harus pula melakukan orientasi dengan mengenali siswanya. Murid datang dan pergi silih berganti. Tetapi guru yang tidak pernah membaca konteks akan memperlakukan murid sama dari tahun ke tahun. (kpig2/aro)

Guru Bahasa Indonesia  MA NU 01 Banyuputih Batang