Anggotanya Pejabat, Pengusaha, Dosen hingga Mahasiswa

Melongok Aktivitas Garage 2x1 Semarang Trail Adventure

899
UJI NYALI: Lima anggota Komunitas Trail Adventure Garage 2x1 Semarang  saat berlatih trabas di Permata Hijau Tembalang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
UJI NYALI: Lima anggota Komunitas Trail Adventure Garage 2x1 Semarang  saat berlatih trabas di Permata Hijau Tembalang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Komunitas Trail Adventure Garage 2×1 Semarang  beranggotakan pecinta olahraga ekstrim trabas. Uniknya, di antara mereka berstatus PNS Pemkot Semarang dan Provinsi Jateng, pengusaha, dosen, hingga mahasiswa. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

MELINTASI halang rintang dan medan yang berat saat melakukan trabas, bukan perkara mudah. Dibutuhkan konsentrasi tinggi dan skill berkendara ditambah dengan nyali. Meski harus jatuh bangun dan melintasi medan yang cukup ekstrim, ternyata tidak menurunkan nyali anggota Garage 2×1 Semarang Trail Adventure untuk berlatih di sirkuit trabas Permata Hijau Tembalang.

“Hampir setiap akhir pekan latihan di sini, banyak anggota sengaja datang untuk berlatih bareng  dan menyalurkan hobi trail adventure,” kata sesepuh olahraga trail adventure dari Garage 2×1 Semarang, Hendro Saptono, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hendro yang merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) ini menerangkan, jika Garage 2X1 terbentuk secara tidak sengaja. Suatu ketika, ada beberapa penggemar trail adventure yang bermain dan secara kebetulan bertemu di sirkuit trabas Permata Hijau. “Saat itu nggak tahu basic pekerjaannya apa, yang jelas karena satu hobi akhirnya main bareng di sirkuit ini,” ujarnya.

Singkat cerita, pada 2014 lalu, komunitas tersebut terbentuk. Dari situlah mulai bergabung pecinta trabas lainnya, mulai dari camat-camat dan lurah di Kota Semarang, kepala dinas, Kepala BLU Trans Semarang, pengusaha bahkan terkadang Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi turut serta bermain. “Dulu sih intinya yok kapan main bareng, dan bisa sharing. Kemudian semakin besar dan nambah anggotanya,” bebernya.

Hendro mengungkapkan, saat ini setidaknya ada 30-an anggota di Garage 2X1, pihaknya mengaku tidak berusaha melakukan rekrutmen atau punya tujuan membentuk sebuah klub balap, bahkan mencetak atlet. Inti dari komunitas itu terbentuk adalah sharing pengalaman dan berlatih trabas bersama. Ia pun mempersilakan siapa saja untuk bergabung dalam komunitas tersebut. “Kami juga tidak memandang siapa yang mau bergabung, karena komunitas ini milik bersama. Bahkan nggak ada struktur organisasi, intinya semua nyaman. Akhirnya banyak pejabat yang bergabung,” tandasnya.

Dalam komunitas tersebut, lanjut dia, tidak ada senioritas atau junioritas. Intinya adalah mau bertanya, punya nyali. Skill berkendara sendiri bisa dipoles dan dilatih agar bisa muncul. Belum lama ini pun ada seorang pengusaha yang bergabung dengan komunitas tersebut dan merasa enjoy karena memang punya niatan bermain trabas. “Karena nggak ada gap atau jarak, antar anggota sangat dekat bahkan seperti keluarga. Kami pun kadang mendatangkan ahli trabas untuk memberikan tips dan trik bermain trabas kepada semua anggota, termasuk yang baru,” tambahnya.

Yosi Yonardo, salah satu anggota, menjelaskan, jika dirinya beralih bermain trabas dengan Garage 2×1, karena merasa olahraga trabas bisa memacu adrenalin. Selain itu olaharaga tersebut juga mengajarkannya berpikir cepat dan tepat ketika melakukan adventure. “Kebersamaannya yang bikin betah, di sini juga belajar banyak sama senior untuk teknik-teknik saat trabas. Intinya pada nggak pelit ilmu,” ujarnya usai melakukan latihan belum lama ini.

Adhe Bhakti, Kepala BLU Trans Semarang yang juga menjadi anggota Garage 2×1 menerangkan, banyak koleganya sesama PNS yang turut bergabung. Selain trabas, lanjut dia, juga dilakukan kegiatan sosial di beberapa daerah dengan menggunakan motor trail adventure. “Belum lama ini kami ke Merapi untuk bakti sosial, kami memilih jalan off road untuk sampai ke sana. Di sinilah persaudaraan dan kekompakan antar anggota bisa terjalin,” tambahnya.

Adhe menerangkan, untuk bermain olahraga ekstrim tersebut, tetap mengedepankan keamanan. Jika pada motor on road, safety for fashion, pada olahraga adventure ini lebih pada dress for crash. Artinya apa yang dikenakan adalah pelindung ketika terjatuh saat bermain trabas wajib digunakan. Kelengkapannya seperti helm full face, sepatu khusus adventure, body protector, knee protector, sampai neck protector.  “Dengan piranti safety gaer ini, meminimalisasi cedera saat terjatuh. Jadi wajib digunakan,” tegasnya.

Meski olahraga ini kian diganderungi oleh hampir semua lapisan masyarakat, bahkan tak sedikit penggila trabas melakukan modifikasi custom kuda besinya yang diubah menjadi motor trabas, Menurut Hendro, cara tersebut tidak disarankan. Lebih baik menggunakan motor yang diciptakan khusus untuk trabas, karena ketahanan frame, shock dan posisi berkendara yang sudah disesuaikan.

“Kalau disebut olahraga mahal saya rasa tidak, karena beli motor trail adventure nggak harus baru. Banyak yang second harganya mulai belasan juta, bahkan ada yang baru. Saat ini opsinya banyak, yang terpenting adalah mau mencoba baru bisa merasakan adrenalin dan asyiknya main trabas,” sambung Hendro. (*/aro)