Pedagang Mulai Tempati Pasar Darurat

158
MANFAATKAN MATERIAL LAYAK : Pedagang Pasar Induk Kedungwuni mulai membongkar kios miliknya, karena pasar tersebut segera direvitalisasi. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)
MANFAATKAN MATERIAL LAYAK : Pedagang Pasar Induk Kedungwuni mulai membongkar kios miliknya, karena pasar tersebut segera direvitalisasi. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Pedagang Pasar Induk Kedungwuni (PIK) mulai membongkar kios lamanya dan segera menempati pasar darurat. Setelah 1.900 pedagang menyelesaikan undian pengambilan lapak di tempat relokasi sementara.

Darmuji,34, pemilik salah satu kios Pasar Kedungwuni, mengungkapkan bahwa pasar darurat yang ditempatinya masih perlu diperbaiki, karena kondisi bangunannya kurang layak ditempati. Oleh karena itu ia membongkar dan memanfaatkan material kios lama untuk memperbaiki kios di pasar darurat.

“Kios pasar darurat hanya terbuat dari triplek dan kayu reng, saya takut kalau barang saya diambil orang, makanya bahan dari kios lama saya pakai untuk memperkuat kios ini,” tegas Darmuji.

Kepala UPT Pasar Kedungwuni, Warsidi, mengatakan bahwa semua pedagang Pasar Induk Kedungwuni sudah menempati pasar darurat yang berada di Keluarahan Kayangan, namun demikian ada juga yang masih memperbaiki kios di pasar darurat.

Menurutnya,  sejak adanya pembongkaran di Pasar Induk Kedungwuni, pihaknya telah melakukan pengamanan ketat di lokasi pembongkaran, untuk menghindari adanya jarahan bahan bangunan dari pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Pembongkaran sudah dimulai sejak sepekan lalu, hanya beberapa pedagang saja yang membongkar dan mengambil sisa bahannya, karena usia Pasar Kedungwuni ini sudah lebih dari 40 tahun, sehingga bahan bagunannya pun sudah sangat rusak,” kata Warsidi.

Sementara itu, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, menjelaskan bahwa Pasar Induk Kedungwuni sudah saatnya direvitalisasi. Proses pembangunan akan berlangsung sampai 2020, dengan pola multiyears.

Pasar darurat memiliki kapasitas yang cukup besar. Mampu menampung lebih dari pedagang yang selama ini terdaftar.

”Seperti diketahui 1.600 lebih pedagang punya surat izin tempat, kalau sama yang tidak punya izin tempat berarti semua mencapai 1.900 orang. Pedagangnya tidak hanya Kabupaten Pekalongan saja, tapi dari luar daerah juga banyak, seperti Batang, Pemalang dan lainnya,” jelas bupati. (thd/zal)