Tak Strategis, Kuota Belum Terpenuhi

Hari Ketiga PPDB Online 

333
MENYERAHKAN FORMULIR : Sejumlah orang tua siswa mengantar anaknya untuk melakukan verifikasi data PPDB di SDN Pekunden Semarang, Selasa (3/7). (TRIAWANDA TIRTA ADITYA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENYERAHKAN FORMULIR : Sejumlah orang tua siswa mengantar anaknya untuk melakukan verifikasi data PPDB di SDN Pekunden Semarang, Selasa (3/7). (TRIAWANDA TIRTA ADITYA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Memasuki hari ketiga Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online, Selasa (3/7), masih ada Sekolah Dasar Negeri (SDN) belum memenuhi kuota. Seperti di SDN Petompon 01 yang lokasinya kurang strategis, pada pilihan pertama baru 24 anak, sedangkan pilihan kedua sebanyak 64 calon peserta didik baru.

“SDN sini letaknya di persimpangan jalan dan jarak antara SD lainnya berdekatan,” kata Kepala Sekolah SDN Petompon 1, Sri Sunarti,.

Kendati begitu, Ngadi selaku ketua panitia PPBD SD Petempon 01 mengaku sistem zonasi yang diterapkan pemerintah ini lebih efektif dan teratur, meski kuota belum terpenuhi. Ngadi optimistis akan terbantu oleh sistem ini.

Sri Sunarti menambahkan, sistem zonasi kuota 28 ini lebih menguntungkan terutama pada sekolah yang kekurangan peserta didik. Zona yang diambil kebanyakan dari luar lingkungan sekolah, mulai dari Kelurahan Gajahmungkur, Kelurahan Petompon, Kelurahan Lempongsari, Kelurahan Bendan Ngisor, Kelurahan Ngeplak Simongan, Kelurahan Barusari. “Tahun lalu, ada sekolah yang kekurangan dan kelebihan murid. Tapi dengan sistem ini, semua sekolah bisa mendapatkan peserta didik sama rata,” ujarnya.

Berbeda dengan SDN Bendungan Kota Semarang yang sudah memenuhi kuota sejak Senin (2/7). Kepala SD Bendungan, Ida Ayu Adi Wirati mengatakan sudah 83 calon siswa yang terdiri atas pilihan pertama 50 dan pilihan kedua 33. “Sudah over load dari kemarin,” terangnya.

Kepala SDN Pekunden, Abdul Khalik juga menilai sistem zonasi membuat penjaringan calon peserta didik lebih adil dan merata. Tidak seperti dulu, hanya sekolah favorit saja yang diburu para calon peserta didik. Pengumuman penerimaan akan ditampilkan secara online yaitu pada 5 Juli. “Semua informasi terkait mengenai PPDB Tahun ajaran 2018-2019, dapat diakses di website resmi Dinas Pendidikan Kota Semarang yaitu ppd.semarangkota.go.id,” katanya.

Menanggapi sistem zonasi, orang tua murid di SDN Pekunden, Ani Hastuti menilai hal itu memaksa para calon peserta didik tidak mendaftar ke sekolah favorit.

Sedangkan Harmini, 42, dan Maria, 24, dari Kelurahan Randusari Bergota lebih memilih SDN Bendungan berdasarkan zona sebagai pilihan pertama. Maria menjadikan SDN Lempongsari sebagai pilihan kedua. “Jumlah siswa ideal, lebih enak mengajarnya,” kata Kepala SDN Petompon 1, Sri Sunarti.

Tidak Miskin, Jangan Ngaku Miskin

Menanggapi adanya manipulasi Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng, Gatot Bambang Hastowo menyayangkan kejadian tersebut. Sebab, manipulasi SKTM justru menciderai integritas PPDB.

Gatot mengimbau, PPDB seharusnya berjalan secara jujur dan berintegritas. Karena itu, Gatot memohon kepada seluruh pihak, terutama orangtua murid untuk bertanggung jawab dan tidak menyalahgunakan SKTM. “Saya mohon orangtua murid kalau memang tidak miskin ya jangan mengaku miskin,” tegasnya ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (3/7).