Sama-Sama Optimistis Menang

Ganjar Pranowo vs Sudirman Said

341
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pesta demokrasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 akan digelar Rabu (27/6) hari ini. Sebanyak 27.068.125 jiwa yang terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap) bakal menentukan pemimpin provinsi ini untuk lima tahun yang akan datang. Mereka akan menyalurkan suaranya di 63.973 TPS yang tersebar di 35 kabupaten/kota di Jateng.

Dua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen dan Sudirman Said- Ida Fauziyah mengklaim sama-sama optimistis bisa menang. Ganjar–Yasin yang diusung PDIP, Nasdem PPP, Demokrat, dan Golkar dipastikan akan mengoptimalkan suara di Solo Raya yang selama ini merupakan kandang banteng. Sementara Sudirman – Ida Fauziyah yang diusung Gerindra, PKB, PKS, PAN dan PBB akan menandinginya dengan mengoptimalkan simpul suara di daerah Pantura Barat, mulai Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Pekalongan.

Ketua Tim Pemenangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin, Bambang Haryanto B, mengatakan, jelang pencoblosan hari ini, calon pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng nomor urut 1 dan timnya menguatkan kesiapan batin dengan istirahat yang cukup. “Itu kesiapan normatif saja,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Terkait kemenangan, pihaknya sangat optimistis yang terukur. Apalagi dari 9 survei yang dilaksanakan berbagai lembaga survei, pasangan Ganjar-Yasin mengantongi hasil survei menang mayoritas. “Itu sebagai perwujudan rasa syukur kami, bukan untuk kejumawaan,” tandasnya.

Menurutnya, pasangan Ganjar-Yasin mendapatkan dukungan suara yang merata di hampir seluruh wilayah Jateng. “Kami memiliki optimisme bagus dengan kantong suara yang merata di semua daerah. Baik itu di daerah basis pasangan lain sekalipun,” ujarnya.

Yang utama baginya adalah mengajak masyarakat berpikir positif dengan melaksanakan Pilkada dengan cerdas, elegan, dan menggunakan hak suaranya. Apalagi sejauh ini belum mendapatkan informasi adanya persebaran money politics. “Money politics sangat mencederai demokrasi. Sedari awal, kami berkomitmen dalam kontestasi politik ini dilakukan secara bermartabat dan elegan,” katanya.

Sebagai perbandingan, pada Pilgub Jateng 2013, Ganjar yang saat itu berpasangan dengan Heru Sudjatmiko unggul dengan perolehan suara 6.962.417 atau 48,82 persen. Waktu itu Ganjar-Heru diusung tunggal oleh PDIP. Pada pemungutan suara hari ini, Ganjar akan menggunakan hak suaranya  di TPS 2 Gedung Pertemuan Jalan Slamet, Gajahmungkur, Semarang. Sedangkan Taj Yasin  di TPS 4 (Gudang H Faisol Ali) Karangmangu, Rembang.

Ketua Tim Pemenangan Sudirman–Ida Fauziyah, Abdul Wachid, mengaku optimis bisa mendapatkan kemenangan dalam Pilgub Jateng. Parpol pengusung bersama relawan sudah memetakan simpul-simpul suara di 35 kabupaten/kota. “Kami optimistis, suara Pak Dirman akan besar, apalagi semua relawan bergerak,” katanya.

Abdul Wachid menambahkan, meski suara akan menyebar, tetapi parpol koalisi dan relawan pasangan nomor 2 ini menyiapkan amunisi untuk mengalahkan suara calon petahana yang biasanya selalu menang di Solo Raya. Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Pekalongan. “Tapi setelah di lapangan ternyata pendukung Pak Dirman di Solo Raya juga sangat besar. Karena banyak masyarakat yang memang mendukung,” ujarnya.

Tim Pemenangan Sudirman-Ida juga terus bergerak dengan menggunakan mobil kecurangan ke 35 kabupaten/kota se Jateng. Langkah tersebut, sebagai upaya untuk mengantisipasi kecurangan, money politics atau serangan fajar. Sebab, timnya menemukan sejumlah surat suara di daerah Solo yang sudah tercoblos calon petahana. “Kami sudah menginstruksikan untuk siaga satu. Jangan sampai ada kecurangan sedikitpun di Pilgub Jateng,” tegasnya.

Dikatakan, pertarungan head to head diakui sangat menarik, karena bisa mengukur kekuatan masing-masing calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Tetapi, ia sangat menyayangkan UU Pilkada yang mengatur calon petahana ketika sudah habis masa cuti bisa menjabat lagi, padahal masih memasuki hari tenang. Dan kondisi ini juga terjadi di Jateng, di mana calon petahana ketika masa cuti habis menjabat lagi gubernur, dan sudah mengantor sejak Senin (25/6) atau dua hari sebelum pencoblosan.

Selain itu, calon petahana langsung menggelar acara halal bihalal dengan mengumpulkan seluruh pejabat eselon I, II dan dan kepala daerah se-Jateng. “Meski dikemas halal bihalal, jelas ini sangat rawan disalahgunakan. Harusnya kalau menjabat lagi setelah pencoblosan,” katanya.

Calon Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen mengaku tidak ada persiapan khusus saat menghadapi pencoblosan Pilgub Jateng hari ini. Ia bersama keluarga dan sejumlah santri di pesantren menggelar doa bersama dan meminta kepada Allah agar bisa dimenangkan. “Persiapannya doa dan minta kepada Allah,” kata Taj Yasin.

Taj Yasin akan mencoblos di TPS 4 di dekat kediamannya di Karangmangu, Kabupaten Rembang. Ia juga mengajak seluruh pendukung dan masyarakat mengawasi agar tidak terjadi kecurangan dalam Pilgub Jateng.

Daerah Pantura mulai Jepara, Rembang, Kudus menjadi simpul suara yang bisa menambah lumbung suara Ganjar-Yasin. Dan tentunya daerah Solo Raya yang selama ini memang dikenal sebagai kandang banteng. Meski begitu, 35 kabupaten/kota se-Jateng diyakini siap memenangkan Ganjar-Yasin karena parpol pengusung sudah bekerja keras. “Insya’Allah dengan kerja keras bisa menang. Amin,” katanya.

Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng, Sudirman Said – Ida Fauziyah tidak akan menggunakan hak suaranya dalam Pilgub Jateng. Sebab, keduanya tidak memiliki E-KTP Jateng. Meski begitu, persiapan sudah dilakukan agar bisa memenangkan Pilgub Jateng 2018-2023.

Di hari pencoblosan, Sudirman Said akan berada di kediaman keluarganya di Jalan Ahmad Yani No 10 RT 2 RW 2, Kelurahan Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Sedangkan Ida Fauziyah akan menggelar doa bersama dengan keluarga agar bisa memenangkan Pilgub Jateng di rumah keluarganya di Semarang.  “Saya masih KTP Jakarta, jadi tak bisa mencoblos. Saat hari H saya akan menemani Gus Yusuf di TPS Pesantren Tegalrejo, Magelang,” kata Ida Fauziyah.

Ketua KPU Jateng, Joko Purnomo, berharap masyarakat menggunakan hak pilihnya di TPS masing-masing. Jangan sampai, hak pilih tak digunakan, karena akan memilih pemimpin Jateng lima tahun ke depan.

Dikatakan, masyarakat harus bisa menjadi pemilih cerdas dan harus menolak jika ada money politics. “Gunakannlah hak pilih Anda, karena itu akan menentukan masa depan Jateng lima tahun ke depan,” kata Joko Purnomo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia memastikan semua logistik Pilgub sudah 100 persen, dan dipastikan sampai TPS hari ini. Masyarakat bisa mulai menggunakan hak pilihnya untuk mencoblos mulai pukul 07.00 di TPS masing-masing yang sudah ditentukan. Bagi mereka yang masuk DPT harus datang dengan membawa C6 serta E-KTP. Sementara pemilih yang pindah lokasi TPS, harus menggunakan formulir A5, dan bisa mengurus di KPU kabupaten/kota. “Bagi yang tidak masuk DPT, bisa mencoblos tentunya dengan membawa E-KTP dan di TPS sesuai alamatnya. Tidak boleh pindah atau di lokasi TPS lain,” ujarnya.

Joko menambahkan, target partisipasi pemilih pada Pilgub Jateng kali ini dipatok 77,5 persen. Untuk itu, pihaknya sudah terus melakukan berbagai sosialisasi sampai tingkat bawah agar partisipasi pemilih naik. “Kami optimistis partisipasi pemilih bisa meningkat, karena kami juga sudah maksimal menyosialiasikan. Dan partisipasi dihitung dari jumlah riil domisili masyarakat Jateng,” katanya.

Koordinator Divisi Penindakan dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Jateng, Sri Wahyu Ananingsih, mengatakan, dari 63.973 tempat pemungutan suara (TPS) untuk Pilgub Jateng 2018, sebanyak 37.716 di antaranya dikategorikan rawan. Banyumas mendominasi dengan 2.799 TPS rawan, kemudian Brebes dengan 2.525 TPS, serta dan Kebumen, 258 TPS rawan. “Sebenarnya dari 35 kabupaten/kota di Jateng, 10 di antaranya dinyatakan memiliki tingkat kerawanan yang tinggi. Seperti Banjarnegara, Wonosobo, Purbalingga serta Wonogiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, penentuan kerawanan tersebut berdasar enam variabel. Yakni, akurasi data pemilih, penggunaan hak pilih atau hilangnya hak pilih, politik uang, netralitas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), proses pemungutan suara, dan pelanggaran kampanye. Selain itu, masih ada 15 indikator yang digunakan dalam penentuan tingkat kerawanan TPS tersebut. “Indikator lain praktik money politics, relawan bayaran, KPPS tidak netral, C6 KWK tidak didistribusikan kepada pemilih, dan TPS di dekat posko paslon,” katanya. (fth/ida/aro)