Silaturahmi, Para Kiai Jateng Dapat Tiga Nasihat

509
SUNGKEM : Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jateng KH Ali Mufiz MPA saat sungkem kepada Kiai Sepuh KH Syakroni Achmadi di Kediamannya. (ISTIMEWA)
SUNGKEM : Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jateng KH Ali Mufiz MPA saat sungkem kepada Kiai Sepuh KH Syakroni Achmadi di Kediamannya. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Para kiai Jateng yang dipimpin kiai Ali Mufiz MPA, bersilaturahim halal bihalal Idul Fitri 1439 Hijriyah ke sejumlah kiai sepuh, Rabu (20/6). Di antaranya ke kediaman tokoh mufasir KH Syakroni Achmadi yang usianya di atas 90 tahun, di Jalan KH Turaicahan Adjuri, Pagongan Lor, Kudus dan ke kediaman Nyai Nafisah Sahal Mahfudh, Margoyoso, Pati.

Mereka adalah KH Ali Mufiz, Ketum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji Msi, Ketua DPP Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Dr KH Noor Ahmad MA, Sekum MUI Jateng sekaligus Sekretaris MAJT KH Muhyiddin MAg, Direktur Pascasarjana UIN Walisongo sekaligus Waketum MUI Jateng Prof Dr Ahmad Rofiq MA.

Ikut pula Rektor Unwahas Prof Dr Mahmutarom SH MH, Ketua Takmir Masjid Agung Semarang KH Haniel Ismail Lc, Wakil Sekretaris MAJT Drs H Istadjib AS, Ketua PCNU Kota Semarang Drs Anasom MAg, sejumlah pengurus MUI, MAJT, MAS dan pengajian Ibu-ibu MAJT.  “Silaturahim ini perlu dilestarikan oleh semua elemen masyarakat dalam rangka menghargai jasa-jasa luar biasa para kiai sepuh kepada kita,” tegas KH Ali Mufiz.

Oleh karenanya, tegasnya, silaturahim ke kiai sepuh akan dilanjutkan ke KH Maemun Zuber, KH Mustofa Bisri, Habib M Lutfhi Pekalongan, KH Dimyati Rois Kendal dan ulama sepuh lainnya. “Ini tradisi bagus yang harus dikembangkan oleh generasi muda,” kata Kiai Darodji.

Saat sowan ke KH Syakroni Achmadi, rombongan para kiai mendapat nasehat tentang tiga hal penting dalam momentum Idul Fitri. Pertama, kembali fitrah. “Kullu mauludin yuladu ‘alal fithroti, fa abawahu yuhawwidanihi au yunash-shironihi au yumajjisanihi artinya, setiap anak lahir dalam keadaan suci, yang menjadikannya hitam dan putih atau abu-abu adalah orang tuanya,” katanya.

Kedua, Idul Fitri bertepatan hari Jumat. Menurut KH Syakroni, memang Rasul saat itu membolehkan tidak salat Jumat dengan pertimbangan saat itu cukup sulit untuk pulang pergi ke masjid Nabawi bagi sahabat yang rumahnya cukup jauh dari masjid Nabawi. Ketiga, silaturahim atau silaturahm. Secara bahasa, silaturahim artinya menghubungkan persaudaraan, sedangkan silaturrahmi artinya mempertemukan dua kelamin yang berbeda. “Jadi dalam suasana Idul Fitri yang tepat silaturahim,” katanya. (hid/ida)