Gangguan Haid Gejala Awal Infertilitas

656
SEMINAR : dr Arie Sutanto, Sp.OG (K).Fer saat mengisi acara kelas kesehatan di Gedung Cattleya SMC RS Telogorejo di Jalan KH Achmad Dahlan, Semarang, Sabtu (9/6). (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEMINAR : dr Arie Sutanto, Sp.OG (K).Fer saat mengisi acara kelas kesehatan di Gedung Cattleya SMC RS Telogorejo di Jalan KH Achmad Dahlan, Semarang, Sabtu (9/6). (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Wanita harus mewaspadai risiko infertilitas yang disebabkan oleh gangguan haid. Sebab, salah satu gejala infertilitas adalah menstruasi yang tidak teratur. Infertilitas sendiri merupakan kondisi ketidaksuburan atau ketidakmampuan menghasilkan keturunan.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi SMC RS Telogorejo Semarang, dr Arie Sutanto SpOG (K) menjelaskan bahwa infertilitas merupakan kondisi sang istri belum hamil setelah pernikahan dan hubungan seksual selama satu tahun.

“Infertilitas ini tidak berlaku bagi pasangan tinggal berjauhan dalam satu tahun menikah atau tidak melakukan hubungan seksual secara teratur,” ungkap Arie saat mengisi seminar di SMC RS Telogorejo Semarang, kemarin.

Arie membeberkan, kehamilan pada wanita membutuhkan sejumlah syarat. Di antaranya kualitas sperma yang baik, terjadinya ovulasi serta rongga rahim wanita dalam kondisi baik. Ketiga hal itu, akan menentukan kehamilan dan saling memiliki keterkaitan.

Hal senada dikatakan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr Fadjar Siswanto SpOG (K). Bahwa siklus haid dikatakan normal apabila berlangsung antara 24 hingga 35 hari. Sedangkan periode menstruasinya secara umum terjadi selama empat sampai tujuh hari atau maksimal sepuluh hari.

“Menstruasi normal akan memberikan hormon seimbang. Pada wanita yang siklus haidnya teratur akan mudah menentukan masa subur, maka untuk mencapai kehamilan lebih mudah,” terangnya.

Dijelaskan, gangguan menstruasi bisa dikelompokkan menjadi dua, yakni amenorea primer dan sekunder. Amenorea primer adalah kondisi seorang wanita yang belum pernah sekalipun mengalami haid selama tiga bulan.

“Penyebab amenorea primer ini bisa kelainan bawaan sejak lahir, hingga kelainan saraf otak yang disebabkan misalnya kecelakaan kepala. Sedangkan amenorea sekunder yaitu pernah mengalami haid tetapi kemudian hilang lagi,” paparnya.

Menurutnya, tidak teraturnya siklus haid pada remaja yang pertama kali mengalami haid, dianggap masih wajar dan normal. Umumnya menstruasi mulai teratur pada wanita setelah usia 14-16 tahun. (tsa/ida)