Mendidik Anak dengan Menahan Amarah

269
Oleh: Rindati Rusliana S.Pd
Oleh: Rindati Rusliana S.Pd

RADARSEMARANG.COM – ANAK adalah amanah dan harapan masa depan. Mendidiknya sungguh tak mudah, bahkan bisa lelah. Kadangkala bikin emosi, sehingga meluaplah amarah. Sebagai amanah, semua yang dilakukan orangtua terhadap anak dengan merawat, membesarkan, dan mendidiknya, akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Karena itu, penting memahami bagaimana mendidik anak, mendoakan selalu, sekaligus senantiasa menggenggam kesabaran saat mendidiknya. Munculnya sikap penolakan anak balita terhadap lingkungan sosialnya adalah bagian dari proses perkembangan yang alamiah, meski tak semua anak bersikap demikian. Gejala seperti ini biasanya dimulai saat anak berusia 2,5 tahun sampai 3 tahun. Anak-anak ini mulai tumbuh sebagai pribadi. Keakuannya mulai muncul. Ia mulai ingin membedakan dirinya dengan orang lain.

Pada saat itu pula, si kecil sudah mulai mencoba keinginannya sendiri. Hal itulah yang lantas dipersepsi oleh para orang tua bahwa anak sudah mulai sulit diatur dan dianggap tidak patuh lagi. Tahapan perkembangan yang ditandai oleh “ perilaku sulit” ini, Insya Allah akan mereda pada usia 4 -5 tahun. Ini seiring dengan perkembangan kemampuan berpikirnya dan aturan-aturan yang diterapkan orangtua. Lalu, bagaimana agar bisa mengatur emosi kita? Rasulullah pernah menasihatkan: “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri, maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang, maka hendaknya dia berbaring” (Riwayat Ahmad). Marah merupakan tabiat manusia. Islam tidak melarang manusia untuk marah. Bahkan dalam Islam, ada marah yang nilainya ibadah. Itulah marah karena Allah, marah karena membela syariat Allah, seperti yang dilakukan Rasulullah. Istimewanya menahan marah. Sifat baik pada diri orang bertaqwa sangatlah banyak.

Dan, sifat baik yang dipuji Allah salah satunya adalah menahan amarah. Bisa dipahami, sebab menahan amarah membutuhkan usaha yang sangat kuat. Orang yang bisa menahan marah adalah orang yang kuat. Dari Abu Hurairah RA,Rasulullah bersabda: “Orang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan.” Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah.”(Riwayat Bukhari dan Muslim).

Orang yang berusaha menahan amarah, padahal mampu meluapkan marahnya, Allah banggakan di depan makhluk. Allah juga menyuruh memilih bidadari paling indah yang dia inginkan. Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Alquran dan Sunnah.

Pertama,segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan dengan membaca ta’awudz. Sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah. Kedua, diam dan jaga lisan. Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Bisa jadi dia berbicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar. Ketiga, mengambil posisi lebih rendah.

Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi dan lebih tinggi. Semakin dituruti semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi itu, dia bisa melampiaskan amarah sepuasnya. Redamlah amarah dengan mengambil posisi yang lebih rendah. Dari Abu Dzar, Rasulullah menasihatkan” “Apabila kalian marah, dan dia posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang, jika belum hilang,hendaknya dia mengambil posisi tidur.” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud, perawinya dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

Mengapa duduk dan tidur? Al-Khitabi menjelaskan orang yang berdiri mudah untuk bergerak dan memukul. Sementara orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul. Sedangkan orang yang tidur, tidak mungkin untuk memukul. Terkadang memang emosi orangtua terpancing saat anak muali sulit diatur. Dan, tidak menutup kemungkinan akan muncul kemarahan. Tapi ingatlah amarah seringkali akan mendekatkan diri kita kepada hal-hal yang berbahaya. Tanpa disadari, anak terkadang akan menjadi sasaran kemarahan. Dan yang pasti, kemarahan tidak akan mendekatkan kita dengan surga. (*/isk)

Guru SMKN 1 Salam, Magelang