100 Persen Siap Dioperasikan

Menhub Puas dengan Arsitektur Bandara

370
MEWAH: Warga antre di check point Terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEWAH: Warga antre di check point Terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pagi ini, terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani mulai dioperasikan. Penerbangan perdana dari terminal baru tersebut yakni Garuda Indonesia tujuan Jakarta pada pukul 06.00, dan berturut-turut sesuai jadwal biasanya.

Untuk memulai operasional terminal baru ini, Selasa (5/6) kemarin, PT Angkasa Pura I Kantor Cabang Bandara Ahmad Yani Semarang mulai melakukan boyongan. Sejumlah petugas dikerahkan untuk memindahkan peralatan-peralatan operasional yang ada di terminal eksisting ke terminal baru. Boyongan ini selesai hingga Rabu dini hari tadi. Pihak Angkasa Pura memastikan proses boyongan ini tak mengganggu kegiatan operasional terminal lama.

Peralatan yang dipindahkan mencakup peralatan screening check point (SCP) 2 dan fasilitas di ruang tunggu domestik dan internasional. Peralatan lain yang dipindahkan adalah trolley, x-ray, komputer kios, walk through metal detector (WTMD) atau alat pendeteksi metal, meja pemeriksaan SCP, peralatan perkantoran, dan lainnya. Setelah boyongan dan terminal baru beroperasi, terminal lama nantinya akan difungsikan sebagai terminal kargo.

Project Manajer Bandara Ahmad Yani, Toni Alam,  mengatakan, kesiapan secara fisik sudah mencapai 98 persen. Sementara untuk dioperasionalkan, bandara sudah siap 100 persen. “InsyaAllah besok (hari ini, Red) siap untuk dioperasikan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Untuk memastikan kesiapan bandara, Selasa (5/6) tadi malam, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau terminal baru Bandara Ahmad Yani Semarang. Dalam kesempatan itu, Menhub merasa puas dengan persiapan bandara baru sehari menjelang beroperasi.

Kunjungan Menhub tidak sendiri. Ia datang bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, dan Sekda Provinsi Jateng Sri Puryono serta Dirut Angkasa Pura 1, Faik Fahmi.  “Jadi, besok (hari ini) jam 06.00 pagi, bandara akan dioperasikan. Secara umum saya puas. Ini hasil karya yang baik dan hasil karya anak bangsa,” kata Budi Karya tadi malam.

Dalam acara kunjungan tersebut  Menhub cukup kagum dengan arsitektur dan hal-hal yang ditampilkan di bandara tersebut. Namun ia menekankan agar Angkasa Pura 1 memberikan servis secara maksimal. “Yang harus tampilkan roh berupa servis, kalau bandara bagus servis kurang ya akan kurang. Saya minta Pak Faik persiapkan dengan baik, karena tanggal 7 (Juni) Pak Presiden meresmikan ini dan tower Airnav,” jelasnya.

Dengan dibangunnya bandara baru yang 9 kali lebih luas dari bandara lama, maka akan dibuka penerbangan dengan rute internasional nantinya. “Kalau dulu kan tidak layak, di sini ibaratnya ada gula baru, mereka (penerbangan internasional) akan datang,” tandasnya.

Sementara itu, guna mendukung akses jalan menuju Bandara International Ahmad Yani Baru, Pemkot Semarang terus melakukan penataan. Di antaranya, penertiban pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Jalan Anjasmoro dan Madukoro.

Keberadaan para PKL dinilai mengganggu ketertiban dan memicu kemacetan. Hingga saat ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang terus melakukan penertiban PKL di kawasan tersebut.

“Kami telah melakukan sosialisasi kepada para PKL. Mereka kami beri batas waktu berjualan hingga Minggu (3/6) lalu. Bagi pedagang yang belum pindah, maka kami tertibkan,” kata Kasatpol PP Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, kemarin.

Dikatakannya, pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Semarang Barat untuk melakukan penertiban. Hal ini untuk mendukung akses jalan menuju Bandara Ahmad Yani Semarang yang hari ini dioperasionalkan.

“Harapannya, sepanjang jalan kawasana Anjasmoro dan Madukoro bersih dari PKL. Sehingga bisa memerlancar arus lalu-lintas menuju Bandara Ahmad Yani,” ujarnya.

Sejauh ini, ada 24 bangunan semipermanen yang telah ditertibkan. Di antaranya, ditempati pedagang jasa duplikat kunci, cuci motor, bengkel, potong rambut, dan penjual makanan.  Tentunya, penertiban ini tidak asal bongkar. Pedagang diminta mengurus di Dinas Perdagangan Kota Semarang untuk mendapatkan tempat baru untuk melakukan kegiatan usaha di tempat lain. “Silakan pedagang mengurus di Dinas Perdagangan,” katanya.

Pengamat transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno mengatakan, saat terminal baru dioperasikan, taksi berargometer belum bisa beroperasi. Masih digunakan taksi berdasar zona yang besaran tarifnya tidak sesuai aturan.  Ia menilai, jenis taksi seperti ini tidak boleh lagi beroperasi di terminal penumpang sekelas Bandara Ahmad Yani. Menurutnya, pihak manajemen atau pengelola Bandara Ahmad Yani tidak seharusnya membiarkan praktik seperti ini. “Sangat merugikan konsumen. Tarif mahal,” tegas Djoko.

Hal ini, dijelaskan olehnya, melanggar UU No 22/2009 tentang LLLAJ,  UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dan UU tentang Persaingan Usaha dan Antimonopoli. “Pengusaha taksi diminta memasang argometer seperti taksi argometer yang sudah beroperasi selama ini di Semarang,” kata dia.

Semua usaha taksi argometer di Kota Semarang, jelasnya, dapat diberi kesempatan yang sama untuk bisa melayani penumpang. Tidak hanya mengantarkan, tetapi juga menjemput penumpang. “Persoalan nanti ada uang tambahan seperti halnya di bandara yang lain, hal itu dapat dibicarakan sebagai biaya operasional penyediaan lahan di dalam kawasan bandara,” jelasnya.

Disamping itu, lanjut dia, hasil Kajian Analisis Dampak Lalu Lintas tahun 2017 yang diselenggarakan oleh PT Angkasa Pura 1, juga merekomendasikan pembangunan fly over sepanjang lebih kurang 1 kilometer. Fly over diharapkan sudah mulai terbangun 2019. Dengan adanya fly over ini, lalu lintas menuju bandara dari Jalan Madukoro tidak terhalang aktivitas kawasan PRPP dan Sekolah Krista Mitra. “Untuk dua tahun ke depan, akses jalan yang ada masih bisa melayani mobilitas ke dan dari bandara,” katanya.

“Bandara baru harus dengan layanan baru yang menyenangkan konsumen. Bukan sekadar megah dan mewah bangunannya tetapi harus disertai pelayanan yang prima untuk kenyamanan penumpang,” pungkasnya. (hid/sga/amu/aro)