Mengembalikan Fungsi Alun-Alun Wonosobo sebagai Ruang Terbuka

856
Oleh : H. Suwondo Yudhistiro, S.Sos.I, M.Ag. - Ketua Komisi A DPRD Wonosobo
Oleh : H. Suwondo Yudhistiro, S.Sos.I, M.Ag. - Ketua Komisi A DPRD Wonosobo

RADARSEMARANG.COM – Secara historis, Alun-alun merupakan identitas kota-kota di Jawa yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Medang, Kediri, Majapahit hingga Mataram Islam yang keberadaannya masih tetap dipertahankan hingga saat ini. Keberadaan alun-alun dahulu kala adalah sebagai ruang terbuka, tempat olah keprajuritan, tempat rakyat menunggu untuk menghadap raja/adipati, tempat melakukan pepe (demonstrasi ala masyarakat dahulu kala), tempat upacara keagamaan dan berbagai kegiatan lainnya.

Secara tipologi, Alun-alun tradisional Jawa selalu terkait dengan keberadaan bangunan-bangunan publik di sekitarnya dalam konsep Catur Tunggal yang merupakan satu kesatuan sebagai pusat tata kota Jawa Kuno. Alun-alun merupakan pusat berbagai aktivitas yang dikelilingi oleh berbagai bangunan utama yaitu di sebelah utara terdapat pendopo kerajaan/kadipaten (sekarang kabupaten), sebelah barat terdapat tempat peribadatan/masjid dan di sebelah selatan terdapat penjara dan pasar. Konsepsi tata kota Jawa Kuno tersebut masih tetap dipertahankan hingga saat ini sehingga menjadi model tata kota modern di Pulau Jawa pada umumnya. Konsep tata kota ini tentunya juga mengandung makna filosofis dan makna magis dalam kosmologi masyarakat Jawa sehingga memiliki daya tarik dan kewibawaan tersendiri.

Alun-alun kota Wonosobo letaknya persis di tengah-tengah kota Wonosobo atau titik nolnya Wonosobo yang dikelilingi pendopo Kabupaten, masjid, penjara dan kantor Bupati Wonosobo sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Wonosobo. Hanya saja letak Masjid Agung Jami’ Wonosobo yang dibangun sekitar tahun 1980-an, terdapat pergeseran tidak persis berada di sebelah Alun-alun Wonosobo.

Alun-alun kota memainkan peranan yang sangat vital sebagai pusat aktivitas dan keramaian kota. Seperti sebagai tempat olah raga sepak bola, tenis, basket, jogging, taman kota dengan konsep sebagai ruang terbuka hijau, tempat upacara, ajang berbagai perlombaan, pementasan kesenian, tempat kampanye terbuka partai politik atau calon Kepala Daerah dan sebagai tempat rekreasi keluarga. Bahkan di era tahun 1980-1990-an pernah difungsikan sebagai tempat pacuan kuda. Di samping itu, alun-alun Wonosobo pernah pula dijadikan sebagai lokasi penampungan para pedagang pasar induk ketika terjadi kebakaran pasar Induk pada tahun 2004.

Pada saat ini kondisi Alun-alun Wonosobo telah berubah fungsi menjadi pasar tiban, terutama setiap hari minggu. Area jogging telah dipenuhi para pedagang dan para pembeli, sehingga untuk lewat, para pejalan kaki saja mengalami kesulitan. Tidak kurang dari 680-an pedagang yang berjualan di sana. Ironisnya, sebagian besar pedagang berasal dari luar Kota Wonosobo. Hanya sekitar 158 pedagang saja yang berasal dari Kabupaten Wonosobo.

Alun-alun Wonosobo sebagai Ruang Terbuka Hijau telah berubah fungsi sebagai pusat ekonomi baru yang sangat menjanjikan bagi para pedagang musiman. Padahal berdasarkan Peraturan Bupati yang dibuat semasa kepemimpinan Bupati Abdul Kholiq Arief, para pedagang yang diperbolehkan berjualan di seputar Alun-alun hanya pedagang makanan dan minuman saja, yang ditempatkan di sepanjang Jalan Merdeka. Magnet ekonomi Alun-alun telah dilanggar secara massif dan tidak ada upaya untuk menegakkan Peraturan Bupati tersebut sebagaimana mestinya. Fenomena lain yang juga kita dapati di seputar Alun-alun Wonosobo adalah berjubelnya parkir kendaraan roda dua dan roda empat yang memadati jalan di seputar Alun-alun.