Biayai Kuliah hingga S2 dari Budidaya Sayur Organik

Shofyan Adi Cahyono, Pencetus Sayur Organik Merbabu (SOM)

409
PETANI ZAMAN NOW: Shofyan Adi Cahyono (kiri) bersama rekan mengenalkan SOM pada masyarakat dalam Pasar Sehat. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)
PETANI ZAMAN NOW: Shofyan Adi Cahyono (kiri) bersama rekan mengenalkan SOM pada masyarakat dalam Pasar Sehat. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Di saat sejumlah rekan memilih hijrah ke kota dan bekerja di luar sektor pertanian, Shofyan Adi Cahyono justru bertahan. Bersama sejumlah pemuda lainnya, ia kembangkan sektor tersebut baik dari sisi produksi maupun sistem pemasaran. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

SEGARNYA sawi pagoda, bayam jepang, brokoli, selada, dan beberapa jenis sayuran lain menggoda para pengunjung untuk mampir di stan Sayur Organic Merbabu (SOM) pada kegiatan Pasar Sehat di Basilia Cafe, Minggu (13/5) pagi lalu. Selain membeli produk, para pengunjung juga bisa mendapatkan informasi mengenai budidaya dan manfaat mengonsumsi sayur organik langsung dari pencetus sekaligus pengelola SOM, Shofyan Adi Cahyono.

“Produk-produk SOM ini terdiri atas sayuran organik dari 20 petani muda di Dusun Sidomukti, Kecamatan Getasan. Dari 9 hektare lahan yang kami garap, per hari kami dapat memproduksi antara 100 – 200 kilogram sayur organik. Kemudian didistribusikan ke pasar tradisional, pasar modern atau langsung ke pelanggan yang telah memesan,”ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

SOM sendiri terbentuk berawal dari program kewirausahaan yang diajukan oleh Shofyan saat masih kuliah semester II di Jurusan Agro Teknologi, Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Saat itu, proposal program kewirausahaan yang diajukan di kampusnya disetujui, lalu Shofyan menjalankan proposal tersebut.

“Saya kuliah pertanian sebetulnya karena kepepet. Orangtua saya petani. Kata bapak, kalau mau kuliah ya harus yang berkaitan, kalau tidak nanti siapa yang menggarap lahan bapak? Mau masuk kuliah dibantu beasiswa di semester I, kemudian semester II ada program kewirausahaan, saja ajukan proposal judulnya SOM. Kali pertama dijalankan hanya sekitar satu-dua kilo sayur saja yang dipesan. Jadi, sebelum kuliah, pagi-pagi saya antar pesanan-pesanan sayur. Tas ransel saya, bawahnya buku, atas isi sayuran,” kenangnya.

Skema tersebut ternyata cukup berhasil. Dari yang sebelumnya hanya menggarap lahan seluas 7.000 meter persegi, kini berkembang menjadi 1,5 hektare. Bahkan, Shofyan juga berhasil mengajak dan menularkan ilmunya ke sesama petani muda di kawasan tersebut.