Pesan Perdamaian dalam Pawai Budaya Dugderan

347
WARNA-WARNI BUDAYA: Pawai budaya dugderan menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang digelar di Lapangan Simpang Lima, kemarin. (Adityo Dwi/ Jawa Pos Radar Semarang)
WARNA-WARNI BUDAYA: Pawai budaya dugderan menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang digelar di Lapangan Simpang Lima, kemarin. (Adityo Dwi/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Sedikitnya 15 ribu siswa  dari 16 UPTD Pendidikan Kecamatan di Kota Semarang berkumpul di lapangan Pancasila Semarang meramaikan pawai budaya dugderan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Senin (14/5). Mereka adalah siswa mulai TK, SD/MI SMP/MTs hingga SMA, didampingi para guru. Sebagian besar dari mereka membawa manggar warna-warni  dan hiasan warak ngendok.

Para peserta pawai mengenakan pakaian khas yang menunjukkan kebudayaan masing-masing wilayah. Tidak mau kalah, terlihat pula orangtua siswa turut meramaikan pawai dengan membawa sejumlah atribut. Ada pula yang membawa papan bertuliskan Sayangilah sesamamu, Indahnya warna-warni, Kita satu bangsa, Kita bersaudara, Indahnya kebersamaan, Damai kotaku. Pesan perdamaian ini disampaikan dalam pawai agar masyarakat Kota Semarang selalu hidup rukun berdampingan.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Kasturi, menjelaskan, pawai budaya ini membawa pesan penting untuk disampaikan kepada masyarakat, yakni untuk terus bersatu dalam perbedaan. Sejak dulu, Semarang terkenal sebagai kota dengan berbagai macam etnis, namun tetap hidup rukun. Hal inilah yang menurutnya perlu untuk terus dipupuk dan dipelihara. ”Ini digambarkan dengan warak ngendok yang dibawa oleh peserta pawai. Hewan ini memiliki kepala badan dan kaki yang berbeda, menggambarkan Kota Semarang majemuk,” jelasnya sembari mengajak menyambut bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih untuk mendapatkan manfaat baik untuk semua orang.

Dijelaskan, pawai budaya tahun ini jumlah pesertanya mengalami peningkatan. Tercatat, jumlah peserta melonjak dari 12 ribu peserta pada tahun lalu, menjadi 15 ribu peserta pada event tahun ini. ”Kegiatannya juga bervariasi. Ada yang membawa manggar, rata-rata bawa ini. Kemudian warak ngendok, juga menampilkan seni budaya masing-masing wilayah. Ini tiap-tiap kecamatan dikoordinasi oleh masing-masing UPTD Pendidikan. Dan ini melalui swadaya,” jelasnya sembari menambahkan, Selasa (15/5) ini juga akan digelar pawai yang dimulai dari Balai Kota Semarang.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, dugderan ini memang sebuah tradisi yang menandai datangnya bulan puasa. Dugderan, lanjutnya, merupakan sebuah tradisi di Semarang di mana umaro dan ulama saling bersilaturahmi. Mereka bersepakat bahwa dalam waktu dekat akan datang bulan Ramadan yang harus diumumkan kepada masyarakat. ”Dan pawai ini menjadi salah satu rangkaian dari acara silaturahmi ini,” katanya.