Pernah Bangkrut dan Menderita Sakit Aneh

Lika-Liku Hidup Direktur LBH Ikadin Jateng, H Herry Darman SH

389
RUTIN BERBAGI: Herry Darman (kanan) bersama Siti Nurhaliza, Atalarik Syach dan Feni Rose. (DOKUMEN PRIBADI)
RUTIN BERBAGI: Herry Darman (kanan) bersama Siti Nurhaliza, Atalarik Syach dan Feni Rose. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Perjalanan hidup H Herry Darman SH penuh liku. Pimpinan Legal Consultant – Law Office Herry Darman & Patners ini pernah terpuruk dan diambang kebangkrutan. Namun kini, ia mampu bangkit kembali. Kuncinya, lebih dekat dengan Sang Pencipta dan rutin berbagi. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

DULU hidup Herry Darman bergelimang harta. Mau apa, butuh apa, bisa. Dia juga senang hura-hura. Hiburan malam sudah jadi makanan sehari-hari. Pria kelahiran Pekanbaru, 28 Maret 1961 ini bisa dikatakan cukup nakal. Namun saat krisis moneter 1997, bisnisnya mulai di ambang kebangkrutan. Saham yang dimiliki nilainya anjlok. Herry pun rugi besar. Ia stres. Puncaknya, suami dari Dian Puspita Ningtyas ini didera penyakit aneh.

“Saya sendiri tidak tahu sakit apa? Saya sempat berobat ke dokter dan alternatif baik di Jateng maupun di Jatim, namun tak kunjung sembuh. Saat itu, badan saya jadi kurus kering,” kenang  ayah dari Novitri Antika Maharani ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bahkan, kata Herry, para tetangganya mengira dirinya terkena santet. Mertuanya pun rutin membacakan surat Yasin. Ajaibnya, tak lama setelah mertuanya membacakan surat Yakin, seketika ia seperti mendapat panggilan untuk menyantuni anak yatim piatu.  Tanpa pikir panjang, ia pun meminta istrinya mengundang 40 anak yatim piatu ke rumahnya.

“Selama sakit, saya mau baca Al-Fatihah saja blank, semua jadi lupa. Ternyata begitu anak yatim datang dan mendoakan, saya baru bisa baca Al-Fatihah lagi, dan berangsur-angsur pulih dari sakit,” ceritanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya Jalan Sriwijaya No 57, Semarang, Senin (14/5).

Herry mengaku sempat menangis histeris saat didoakan oleh anak yatim. Sejak itu, ia mulai tersadar selama ini hidupnya telah melenceng dari agama. “Waktu jaya dulu, saya biasa tinggal 6 bulan di hotel, dan 6 bulan di rumah. Saya juga sering foya-foya di tempat hiburan malam. Tapi meski nakal, saya tidak sampai terlibat narkoba atau obat-obat terlarang lainnya,” katanya.

Selama terpuruk itu, Direktur Utama PT Sarana Insan Mandiri, sebuah Perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta/PPTKIS ini sempat menjual mobil, rumah dan harta benda lainnya. Bahkan, 14 mobil dan 9 rumah miliknya nyaris terjual semuanya.