Tunanetra “Diarahkan” Tabrak Pohon

Jalur Difabel di Trotoar Magelang

331
MEMBAHAYAKAN : Seorang warga sedang melintas di trotoar depan kantor Pemkot Magelang yang bersebelahan dengan sungai dan tanpa pembatas. Selain itu, jalur guiding block untuk tunanetra menabrak pohon-pohon di tengah trotoar. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
MEMBAHAYAKAN : Seorang warga sedang melintas di trotoar depan kantor Pemkot Magelang yang bersebelahan dengan sungai dan tanpa pembatas. Selain itu, jalur guiding block untuk tunanetra menabrak pohon-pohon di tengah trotoar. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Trotoar sejatinya dibangun untuk para pejalan kaki agar aman dari bahaya kecelakaan lalu lintas. Desain jalur trotoar harus ramah untuk semua kalangan, termasuk para penyandang disabilitas, terutama tunanetra. Namun, sejumlah titik trotoar di Kota Magelang justru membahayakan pejalan kaki.

“Saya kalau berjalan di Pecinan (Jalan Pemuda), tetap harus pakai tongkat. Karena kalau tidak ya bisa nabrak tiang telepon atau pot bunga. Tidak bisa hanya mengandalkan jalan untuk tuna netra. Karena bisa nabrak tiang tadi,” kata Muhtadim, salah satu tunanetra asal Kajoran Kabupaten Magelang yang menjadi juru pijat di Panti Pijat Enggal Waras Tidar Campur Magelang Selatan, Selasa (8/5).

Beberapa jalur trotoar ada yang bergelombang. Ada pula guiding block warna kuning yang berfungsi sebagai penanda jalur tunanetra, malah akan menyesatkan penandang disabilitas penglihatan. Sebab guiding block tersebut malah mengarahkan penyandang tunanetra untuk menabrak pohon atau halangan lainnya.

Muhtadim berharap ada perbaikan terhadap fasilitas tersebut, agar tidak muncul korban. Ia meminta agar pemerintah bisa memperhatikan fasilitas trotoar dan membuat jalur yang aman untuk pejalan kaki.

Hal senada juga dikatakan Partini, warga Tidar Campur, Magelang Selatan yang menderita low vision. Partini mengaku, meski masih samar-samar bisa melihat, dia memilih untuk tidak melalui jalur disabilitas saat datang ke Kantor Pemkot Magelang. “Saya pilih cari jalan yang selo. Karena kalau lewat jalur tunanetra malah bisa nabrak pohon atau kecemplung got,” sesal Partini.

Sebenarnya, keluhan terhadap kondisi trotoar tidak hanya dari kaum difabel. Suntoro, warga Bogeman Kelurahan Panjang, Magelang Tengah mempertanyakan perencanaan dan evaluasi dari kegiatan pengadaan trotoar di depan Kantor Pemkkot Magelang. Suntoro menilai, jalur kuning dan bertekstur yang seharusnya digunakan untuk kaum difabel justru tepat mengenai pohon dan tiang listrik.

“Lha ini memang trotoar ramah difabel atau mau mencelakakan saudara kita yang kekurangan. Bahkan di bagian tertentu, kalau ke kiri masuk sungai, kalau ke kanan mepet jalan raya. Ini maksudnya apa?,” tanya Suntoro.