Hendi Rehab 4.298 Rumah Tidak Layak Huni

270
PEDULI WARGA : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyapa warga di sela launching program rehab RTLH di Balai Kelurahan Kemijen, Jumat (27/4). (Humas Pemkot for Jawa Pos radar semarang)
PEDULI WARGA : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyapa warga di sela launching program rehab RTLH di Balai Kelurahan Kemijen, Jumat (27/4). (Humas Pemkot for Jawa Pos radar semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Hingga 2017 telah ada 2.860 rumah tidak layak huni (RTLH) di Kota Semarang yang direhab menjadi lebih baik. Meski begitu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mencatat masih ada 10.941 rumah dengan kondisi tidak layak huni di Kota Semarang.

Untuk itu wali kota yang akrab disapa Hendi tersebut telah merencanakan rehab sebanyak 4.295 RTLH pada 2018 dan 2019. Komitmen tersebut disampaikannya pada kegiatan Launching Program Rehab Rumah TIdak Layak Huni di Balai Kelurahan Kemijen, Semarang Timur, Jumat (27/4).

Hendi sendiri mengaku prihatin dengan tingginya angka rumah tidak layak huni di ibu kota Jawa Tengah tersebut . “Faktanya di Kota Semarang ini, yang katanya kota metropolitan, masih ada lebih dari sepuluh ribu rumah yang kondisinya tidak layak huni,” tutur Hendi prihatin.

“Maka dari itu komitmen saya, dari tahun ke tahun jumlah rumah tidak layak huni yang direhab harus terus ditambah, dan  targetnya nanti di tahun 2020 nanti sudah tidak ada lagi rumah yang tidak layak huni di Kota Semarang,” tegasnya.

Orang nomor satu di Kota Lunpia tersebut mengungkapkan jika pada 2011, hanya ada 204 unit rumah tidak layak huni yang direhab dalam satu tahun. Jumlah tersebut kemudian bertambah hingga pada 2017 mencapai 1.162 rumah tidak layak huni yang direhab dalam satu tahun.

“Rehab rumah ini penting untuk mendorong terciptanya lingkungan tempat tinggal warga yang sehat,” ujar Hendi.

“Walaupun angka harapan hidup Kota Semarang saat ini sudah yang tertinggi dibanding daerah-daerah lainnya, tapi masih banyak PR yang harus dikerjakan,” akunya.

Angka Harapan Hidup warga Kota Semarang sendiri pada 2017 menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 77,21 tahun. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi di Indonesia, melebihi daerah-daerah lainnya, seperti Kota Jogjakarta 74,35 tahun, Kota Denpasar 74,17 tahun, Kota Surabaya 73,88 tahun, Kota Bandung 73,86 tahun, Kota Jakarta Selatan 73,84 tahun, Kota Medan 72,4 tahun, atau bahkan Kota Makassar dengan capaian 71,51 tahun.

Hendi menyebutkan, jika program rehab rumah tidak layak huni yang diluncurkannya tersebut juga menjadi bagian dari program besar penanganan wilayah kumuh di Kota Semarang. Selain program rehab rumah tidak layak huni, Pemkot Semarang di bawah kepemimpinannya juga meluncurkan sejumlah program lain, seperti kampung tematik, peningkatan infrastruktur permukiman, hingga program kaki kering.

Terkait program kaki kering, pria yang juga merupakan politisi PDI Perjuangan tersebut menyebutkan masih terus fokus melakukan penanganan banjir di wilayah timur Kota Semarang.

“Kemijen ini kan bantarannya Kali Banger, maka ketika Kali Banger sudah ditutup, tetapi warga bercerita kalau daerahnya masih beberapa kali terdampak banjir, sehingga ini harus dievaluasi terus,” tutur Hendi.